Edisi 14-05-2019
Agar Lansia Lancar Berpuasa


SELAMA masihmampu dan tidak ada gangguan kesehatan, puasa wajib hukumnya bagi lansia sekalipun. Untuk itu , ada kiat tersendiri . Seperti apa?

Tidak seperti usia yang masih produktif, bagi mereka yang berusia lanjut, puasa bisa menjadi tantangan tersendiri. Misalnya, perubahan yang terjadi pada tubuh. Cairan tubuh berkurang dari 60% menjadi 45%-50% ketika usia lanjut. Rasa haus juga menurun sehingga asupan cairan berkurang. Akibatnya, lansia berisiko alami dehidrasi dan mudah timbul rasa lelah, lemah, dan bingung. Adapun nafsu makan juga menurun disebabkan faktor sosial (rasa terisolasi dan masalah keuangan), psikologis (depresi/demensia/gangguan daya ingat), faktor penyakit (penyakit parkinson, kardiomiopati, sembelit), dan sensasi lapar yang menurun.

Meski begitu, dr Edy Rizal Wahyudi SpPD KGer FINASIM menegaskan, jangan mengatakan tidak kuat dulu. “Selama masih mampu, berpuasa adalah wajib. Mampu atau tidak mampu, Anda sendiri yang mengukur. Maka itu, konsultasi dahulu ke dokter,” ujar dokter dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN-CM ini. Dia menuturkan, sebetulnya tidak ada yang berubah saat berpuasa, hanya memindahkan waktu makan dan beberapa waktu makan dimasukkan sebagai camilan. Terkait tantangan yang dialami lansia di atas, dr Edy mengingatkan agar makan dan minum dengan otak, tidak dengan lidah.

“Mau puasa harus tetap makan dan minum cukup biar kuat puasanya dan dapat pahala,” katanya. Sebaliknya, jika kondisi fisik tidak memungkinkan, dianjurkan untuk tidak memaksakan diri berpuasa. Kebutuhan kalori lansia ketika berpuasa sama dengan pada bulan lain. Konsumsi cairan 30-50 cc/kg BB/hari (8-10 gelas). Cara memenuhinya, konsumsi 2 gelas saat berbuka, 3-4 gelas setelah salat tarawih sampai sebelum tidur, 1 gelas saat bangun tidur sebelum sahur, dan 1-2 gelas saat sahur. Perlu diketahui, asupan kalori saat sahur sebesar 40%, buka puasa 50%, dan sesudah tarawih 10%. Sebaiknya sebelum salat magrib atau untuk membatalkan puasa, konsumsi makanan ringan saja.

Baru setelah salat magrib, makan makanan berat. Saat sahur batasi minuman teh/kopi karena keduanya menstimulasi tubuh untuk sering buang air kecil, juga mudah dehidrasi. “Minuman manis juga akan dicerna lebih cepat sehingga cepat terasa lapar,” urai dr Edy. Dia menganjurkan makan makanan yang lambat dicerna dan tinggi serat agar tidak cepat merasa lapar. Selain itu, sebaiknya tidak langsung tidur seusai sahur, mengingat perut bisa kembung karena produksi asam lambung meningkat. Setelah sahur, tubuh mulai mencerna makanan. Proses ini berat jika kondisi tubuh tidur. Tunggulah 2-3 jam kemudian, baru tidur.

Saat berbuka, dr Edy menyarankan berbuka dengan makanan yang menghasilkan energi instan, yaitu yang manis seperti kurma. Kurma mengandung gula serat, karbohidrat, kalium, dan magnesium. Pisang juga baik dikonsumsi karena sumber kalium, magnesium, dan karbohidrat. “Konsumsi air atau jus buah antara waktu berbuka dan sebelum tidur, hindari terlalu banyak es, dan istirahat satu jam sebelum menyantap makanan berbuka,” katanya. Jangan lupa mencukupi konsumsi vitamin dan mineral dan mewaspadai kekurangan cairan. Anda juga perlu menanyakan kepada dokter apakah obat-obatan yang selama ini dikonsumsi perlu dikurangi selama bulan Ramadan.

“Bila kondisi stabil, penyakit terkontrol, dan tidak ada infeksi akut, aman berpuasa,” ujar dr Edy. Sementara itu, Spesialis Penyakit Dalam Prof Dr dr Siti Setiati SpPD-KGer MEpid mengatakan, berpuasa merupakan kesempatan seseorang untuk mengurangi kalori. Kondisi inilah yang merangsang produksi hormon grielin dalam lambung dan pada gilirannya mendorong pembentukan sel-sel otak baru. “Mengurangi kalori dapat memperlambat demensia atau kepikunan karena sel otak baru terus diproduksi,” ungkap Prof Siti.

Sri noviarni