Edisi 14-05-2019
Bijak Konsumsi Antibiotik


DANAU Maureen adalah seorang guru. Dia mengalami lima kali infeksi saluran kemih. Suatu ketika dia berobat ke dokter dan diberi resep antibiotik.

Mulanya resep tersebut mampu menyembuhkan, tetapi gejalanya memberikan efek diare yang mengerikan hingga membuatnya lelah. Beberapa tahun berselang, dia berganti dokter. Dokter tersebut pun memberi saya resep yang sama, tetapi meminta saya untuk membatasi meminum antibiotik dalam pengobatannya. Dia juga menyarankan untuk minum 8- 10 gelas air setiap hari dan menambah vitamin C. Setelah beberapa waktu berjalan, dia merasa terkejut dan lebih baik. Dokter tersebut berasumsi bahwa resep dengan antibiotik selama ini sia-sia yang membuatnya menderita diare berkepanjangan. Dilansir laman Prevention , 16% pasien yang berada di UGD disebabkan reaksi merugikan antibiotik. Studi ini juga telah dipublikasikan pada 2016 dalam Journal of the American Medical Association.

“Antibiotik dapat menyebabkan ruam, infeksi jamur, dan diare yang mengancam jiwa karena disebabkan Clostridioides difficile (C . diff ), yaitu bakteri jahat yang dapat berkembang di usus Anda ketika Anda membunuh bakteri baik dengan antibiotik,” kata profesor kedokteran di Northwestern Fakultas Kedokteran Universitas Feinberg, Jeffrey Linder MD. Karena kekhawatiran tentang resistensi antibiotik terus meningkat, ada gerakan yang berkembang untuk menggunakan pendekatan awal untuk sejumlah penyakit umum. Infeksi umum yang diresepkan antibiotik sering disebabkan virus.

Linder beranggapan bahwa tubuh kita mampu melawan infeksi sederhana tanpa antibiotik. Jadi, bagaimana seharusnya mengharapkan resep dokter untuk setiap penyakit? Sebab, umumnya pasien cenderung ingin cepat dan instan dalam pengobatan. Pada akhirnya dokter terkadang sulit membedakan antara penyakit virus dan bakteri berdasarkan gejala sehingga keliru memberi resep apa yang mereka inginkan dan harapkan. Kepala petugas medis di Los Angeles, Brad Spellberg MD, mengatakan, untuk penyakit ringan, perawatan terbaik cukup dengan mengawasi gejala Anda untuk memastikan tidak menjadi lebih buruk.

Tidak perlu berharap selalu mendapat antibiotik, tubuh Anda akan bekerja sendiri untuk menjadi lebih baik. “Bukan berarti Anda mengabaikan sebuah gejala, tunggu dan lakukan dengan pengawasan dokter. Jika dokter menawarkan antibiotik, tanyakan apakah masih bisa ditunggu atau itu satu-satunya cara kerja,” kata Spellberg.

Iman firmansyah