Edisi 15-05-2019
Trump Gelar Buka Puasa Bersama


WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar acara buka puasa bersama untuk mempererat tali silaturahmi dengan diplomat muslim dari berbagai negara di Gedung Putih, Washington, kemarin.

Sikap toleransi ini sudah dipraktikkan setidaknya sejak era peme rintahan Bill Clinton (1993-2001). Trump mengatakan saat ini umat beragama di seluruh dunia sedang menghadapi masa sulit. Umat muslim diguncang serangan terror di Selandia Baru dan Myanmar, sedangkan umat kristiani di Sri Lanka dan umat yahudi di California dan Pittsburg, AS. Dari peristiwa itu, banyak korban tewas yang tak bersalah. “Kita perlu melawan ke ja - hat an terorisme dan peng ania - ya an agama sehingga semua umat beragama dapat ber iba - dah dengan tenang, sembah - yang tanpa rasa takut, dan hi - dup dengan kepercayaan yang meng alir dari dalam hati me - reka,” ujar Trump di sela-sela buka puasa ber sama, di kutip startribune.com, kemarin. Trump menambahkan, Ramadan merupakan waktu istimewa bagi umat muslim, khususnya di AS. Tak sedikit warga muslim AS yang mem - bantu warga nonmuslim AS, baik materiil maupun moral. Dia juga terkesima dengan keeratan tali persaudaraan antarkeluarga, tetangga, dan komunitas umat muslim di negaranya.

“Ramadan merupakan waktu untuk mengejar harap an, tole - ransi, dan perdamaian. Sema ngat inilah yang mem bawa kita semua (hadirin) berada di Gedung Putih untuk iftar,” kata Trump. “Saya ber syukur kepada Tuhan, se - mua umat bergama di AS dapat hi dup berdampingan dan diberi kebebasan,” tambah Trump. Sebelum Trump, Presiden Barack Obama (2009-2017) juga sering menggelar acara buka puasa bersama di Gedung Putih. Para tamu biasanya ber - kumpul di East Wing Room, tem pat penyimpanan Alquran milik Presiden Thomas Jeffers - on, sebelum waktu magrib tiba. Muazin biasanya dari kalangan mahasiswa muslim. Para tamu lalu menyantap takjil di Grand Foyer Room dan makan bersama di State Dining Room.

Semua makanan yang disajikan diupayakan meme - nuhi syariat Islam alias halal. Para peserta tidak semuanya berasal dari perwakilan, tapi juga termasuk staf Gedung Putih, pegawai negeri sipil (PNS), dan warga muslim AS. Obama kala itu mengakui warga muslim AS bekerja keras membantu mengatasi per ma - salahan negara dengan mem - buka akses terhadap pen didik - an, kesehatan, keamanan ma - kan an, dan pembinaan remaja yang terjebak pergaulan bebas. Aala Muhammaed misalnya, mendorong semua orang se - kolah setinggi-tingginya. “Orang tua saya merupakan imigran dari Sudan. Mereka harus bekerja siang-malam untuk dapat menyekolahkan saya di bangku SMA di Chicago. Harapan saya untuk kuliah sempat redup karena kondisi ekonomi yang tidak mendu - kung. Namun, atas bantuan organisasi nirlaba, saya akhir - nya dapat kuliah,” kata Aala.

Sama seperti Aala, Muhammed Chaudhry juga mendirikan sebuah yayasan yang bekerja sama dengan sek - olah, startup IT, dan orang tua untuk membantu para murid menyukai ilmu alam dan mate - matika. Mereka juga mencipta - kan program menarik dengan cara yang kreatif untuk men - dorong keluarga tidak mampu. “Terima kasih atas kontri - busi kalian terhadap negeri ini dengan membuka akses ter - hadap orang-orang yang mem - butuhkan. Tidak peduli agama, ras, dan gender kita apa. Se bagai manusia, kita semuanya sama,” ujar Obama, dilansir obamawhitehouse.archives.gov.

“Di negeri ini, semua orang bebas memeluk agama.” Presiden Bill Clinton me - rupakan presiden AS pertama yang memulai tradisi iftar di Gedung Putih pada 1996 silam. Kendati begitu, banyak yang menimbang Presiden Thomas Jefferson (1801-1809) sebagai presiden pertama AS yang meng - gelar iftar. Pada masa nya, dia menetapkan jam makan malam pada waktu magrib. Selain AS, Presiden Bulgaria Rossen Plevneliev juga meng - gelar acara buka puasa bersama di Museum Sejarah Nasional, Sofia Boyana. Peserta yang hadir meliputi Ketua Mufti Mustafa Hadji, Kepala Gereja Ortodoks Patriarch Neotif, Wakil Perdana Menteri Roumyana Buchvarova, dan kepala parlemen serta diplomat. Plevneliev telah menggelar iftar selama tiga tahun ber turutturut sejak 2017.

Saat itu dia sempat mengatakan kemungkinan akan kembali menjadi war ga sipil mengingat masa ja bat annya akan habis. “Persatuan, perdamaian, dan kesejah tera an tidak akan ter - cipta tanpa dukungan semua warga,” kata Plevneliev.

Muh shamil











Berita Lainnya...