Edisi 15-05-2019
Mengintip Aktivitas Ibadah di Macau Mosque


Umat muslim di Makau tumpah ruah di Masjid Makau (Macau Mosque). Tempat itu menjadi pusat aktivitas dan tempat silaturahim kaum muslimin di sana karena menjadi satu-satunya masjid yang berdiri di negara itu.

Masjid tua tersebut berada di kawasan Jalan Ramal dos Mouros, Makau. Di depan masjid itu terdapat gapura putih besar yang menjadi pintu masuk menuju kawasan masjid dan bertuliskan Macau Mosque and Cemetery dan Mesquita E Cemeterio de Macau berwarna hijau dengan huruf kapital. Tempat tersebut merupakan satu-satunya masjid dan tempat pemakaman muslim di Makau. Jika dibandingkan dengan gedung-gedung pencakar langit yang berada di Makau, lokasi masjid dan pemakaman itu terbilang sangat sederhana meski memiliki halaman yang luas. Selain masjid lengkap dengan tempat wudu untuk laki-laki dan perempuan, di sana juga ada bangunan sekretariat (tempat imam istirahat), tempat masak, dan tempat pemandian jenazah. Lokasi pemakamannya sendiri berada di sebelah kanan masjid.

“Rencananya akan dibangun masjid yang lebih besar di sini, tapi hingga kini belum ada kelanjutannya. Di sebelah kanan ada sekitar 200 makam,” ujar Abdul Halim, pekerja asal Indonesia yang telah 10 tahun menetap di Makau. Halim mengatakan, dia tahu keberadaan Masjid Makau itu dari cerita imam masjid asal Timor Timur yang merantau serta meninggal di Makau. “Pada 1970, tempat ini awalnya wisma polisi. Dua perantau asal Timor Timur yang sempat menjadi imam di sini namanya Abah Yunus dan Uncle Karim, kakak beradik. Kami di sini menyebut dengan panggilan itu,” ungkap Halim. Pria asal Pakistan, Abdul Kareem, yang lama tinggal di Makau menambahkan, masjid tersebut diperkirakan berdiri sejak 200 tahun lalu.

“Tempat ini awalnya kamp tentara Muslim yang kemudian diubah menjadi masjid. Ini merupakan masjid satu-satunya di Makau,” katanya. Dalam enam tahun terakhir, masjid ini tak punya imam tetap setelah wafatnya Imam Karim. Baru sejak September 2018, masjid ini memiliki lagi imam tetap, yakni Mohammad Ramadhan asal Mongolia. “Selama enam tahun, masjid ini tak ada kegiatan apa-apa. Jadi, imam salatnya siapa saja. Tapi, untuk salat Jumat, imamnya selalu dikirim dari Hong Kong. Satu jam sebelum Jumat, imam tersebut datang, kemudian setelah selesai Jumat, dia langsung kembali ke negaranya,” ucap Halim.

Dia mengatakan, mayoritas orang yang datang ke masjid ini berasal dari Indonesia yang bekerja di Makau, warga Pakistan, dan beberapa dari China. Berbeda dengan hari biasa sekitar 10 orang, tapi saat salat tarawih pada bulan Ramadan bisa mencapai 100 orang. Selain diisi aktivitas salat tarawih, Masjid Makau juga selalu digunakan untuk berbuka puasa bersama. Makau mulai gelap saat waktu menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat (selisih satu jam dengan Indonesia), tepat saat berbuka puasa. Di meja besar panjang, sejumlah hidangan tersedia mulai dari buah-buahan, susu, dan teri tepung.

Menariknya, hidangan tersebut disuguhkan oleh orang Pakistan. Dia menyodorkan sepiring buah dan segelas susu. Karena itu, suasana Ramadan di Makau sangat terasa dengan saling memberi. “Makanan berbuka puasa itu yang menyediakan orangorang Pakistan. Kami kadangkadang ikut membantu dalam menyiapkan segala keperluan untuk makanan atau takjil untuk buka bersama,” ujar Halim.

THOMAS MANGGALA
Makau





Berita Lainnya...