Edisi 15-05-2019
Ramadan Ajang Netralisasi


Diri Ramadan bukan hanya bulan penuh ampunan, juga menjadi momentum yang baik untuk menetralisasi diri menuju fitrah. Hal itu disampaikan dai sekaligus penulis buku islami, Dzikir-Dzikir Peredam Stress , Shodiq Adi Winarko.

Dia mengatakan, puasa pada Ramadan merupakan institusi riyadhah (olahraga) bagi kaum mukmin dalam upaya kebutuhan netra - lisasi diri. Hal itu diawali dengan menjalankan puasa yang men - jadi bagian pokok dari kuri - kulum “madrasah Ramadan”. “Melalui puasa Ramadan manusia sedang dididik Allah SWT untuk melakukan netra li - sasi sekaligus sterilisasi diri dari masalah jiwa yang timbul akibat dosa,” ucap Shodiq kemarin. Melalui puasa, setiap muk - min akan diantarkan ke tahap netralisasi kedua, yakni ke sa - daran mengingat dan me - nyadari dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Sementara tahap ketiga adalah hadirnya rasa ber - salah yang diikuti penyesalan. Bagi mereka yang berhasil da - lam proses sterilisasi ini, se lan - jutnya dia perlu menguatkan tekad pertaubatan.

Sebagaimana pakaian atau rumah yang perlu dibersihkan secara rutin dari segala kotoran dan debu yang menempel, se - perti itu pula rumah diri kita ha - rus disucikan. “Inilah yang di - maksud dengan makna tazki - yatun nafs, yaitu pembersihan jiwa dari segala noda maksiat di dalam diri,” katanya. Hal tersebut termaktub di dalam firman Allah SWT: “Qad aflaha man zakkaahaa” (ber un - tunglah orang yang mensucikan jiwanya) “Wa qad khooba man dassaahaa” (dan merugilah orang yang mengotorinya) QS Asy-Syams: 9- 10. Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor itu menga - ta kan, langkah berikutnya dalam kurikulum madrasah Ra ma - dan adalah niat menghentikan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Untuk kepentingan ini, orang perlu menyibukkan diri dengan ketaatan-ketaatan prinsip dan amaliah akhlak yang mulia. “Ketakwaan inilah yang menjadi sorotan utama atas perubahan seseorang dalam proses pertaubatan di bulan Ramadan,” ujarnya. Shodiq mengatakan, ter ben - tuknya pribadi yang berakhlak mulia tidak terbatasi oleh Ra - madan. Namun, latihan pemben tukan itu harus ber ke lanjutan hingga bulan-bulan se telahnya. Dengan begitu, Ra madan ini benar- benar akan meluluskan orang-orang yang bertakwa, pribadi-pribadi fitrah yang ber - ijazahkan akhlaqul karimah .

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183) Pembina spiritual untuk para tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong ini juga menegaskan bahwa bulan suci ini sebagai upaya pencapaian diri menuju fitrah. Spirit rohani Ramadan me - rupakan panggilan fitrah. Setiap manusia akan selalu dipanggil energi fitrahnya sendiri. Pang - gilan fitrah ini muncul karena pada tabiatnya fitrah itu adalah diri bersih yang terbebas dari segala dosa. “Ketika melakukan dosa, seseorang secara otomatis akan merasakan jeritan fitrah ini, suara diri terdalam. Ini se - perti sinyal frekuensi yang mengingatkan bahwa sedang ter jadi masalah yang meng - ganggu kesehatan jiwa,” urainya.

Jika sinyal itu tidak segera direspons, persoalan jiwa yang ada bisa menjadi bibit masalah dan berkembang, melahirkan penderitaan-penderitaan diri seperti rasa keterjauhan atau keterasingan diri. Lebih jauh dia akan mengalami keserbasalah - an langkah. Untuk meng hen - tikan itu diperlukan suatu meto - de netralisasi diri. Begitupun Syeikh Abdul Lathif bin Hajis Alghamidi me - nyatakan dalam buku Men jem - put Taubat sebelum Terlambat meminta umat muslim untuk meraih tobat pada bulan suci Ramadan. Proses meraih tobat tersebut harus benar-benar me - ninggalkan maksiat untuk meraih ampunan Allah SWT. Cara menjemput tobat tentunya dengan rasa senantiasa dilihat Allah SWT. Seperti firman Allah: “Ti - daklah mereka tahu bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah amat mengetahui segala yang gaib.” (QS Attaubah: 78). “Ini hal per - tama yang dilakukan ulama dan orang saleh terdahulu untuk meraih taubat, yakni me nan am - kan rasa senantiasa dilihat oleh Allah,” ucapnya.

Tingkatkan Portofolio Diri

Selain momen peng am punan, ibadah puasa Ramadan juga diharapkan menjadi mo men - tum menaklukkan diri dan se ba - gai self assessment, mem per baiki portofolio atas peri laku-pe ri - laku yang kurang baik yang di laku kan selama ini. “Puasa di harap kan mampu men trans for - masikan diri ma nu sia pada pe - rubahan kualitas mental ka re - nanya lulusan puasa Ramadan adalah orang yang mampu mengontrol diri dengan baik,” ungkap alumni S3 Flin ders Uni ver - sity, Adelaide, Aus tralia Selatan, Adib Ab du shomad, pada kuliah bakda zuhur di Musala At-Tar - biyah Ditjen Pendidikan Islam Ke menag kemarin.

Adib juga mengutip Lao Tse dal am buku “The Dance of Change”, yaitu “Someone who gain a victory over other person has a power, however someone who gain a victory over himself is the most powerful” (Seseorang yang bisa menaklukkan orang lain adalah orang yang luar biasa, tetapi orang yang bisa me nak - lukkan diri sendiri adalah jauh lebih luar biasa kekuatannya). Adib berharap suasana Ramadan di Indonesia terus kon dusif dan mampu memo ti - vasi diri untuk berlomba-lomba melakukan berbagai ibadah. “Kita bersyukur puasa Ramadan di Indonesia sangat meriah, dimulai saat penyambutan da - tangnya Ramadan hingga pel - bagai amalan-amalan yang di - lakukannya. Selama Ramadan ki ta diedukasi luar biasa agar mampu memaknai bahwa Ra - madan adalah bulan istimewa,” ungkapnya.

Alumni UIN Walisongo ini berpesan jangan sampai gegapgempitanya ibadah Ramadan mendistorsi tujuan puasa Rama dan. “Puasa harus mampu men jadi kekuatan melakukan perubahan (jihad) ke arah yang lebih baik,” katanya.

Mula akmal







Berita Lainnya...