Edisi 15-05-2019
Tarif Batas Atas Pesawat Segera Disesuaikan


JAKARTA – Kementerian Perhubungan akan melakukan penyesuaian tarif batas atas (TBA) untuk pesawat jenis jet. Penyesuaian TBA dengan penurunan antara 12% sampai 16% telah mem perhitungkan aspek keselamatan penerbangan.

Penyesuaian segera dilakukan dan langsung disosialisasikan kepada seluruh stakeholder pener - bangan dan masyarakat. Menko Per eko no mi an menarget kan Ke m enterian Perhubungan soal penghitungan tarif batas atas baru sudah kelar pada 15 Mei ini. Langkah pemerintah dipastikan bakal me - micu pro-kontra. Di satu sisi penurunan TBA bisa menurunkan harga tiket pesawat seperti yang diharapkan publik, dan di sisi lain bisa merugikan keuangan maskapai. Bahkan dikhawatirkan akan memicu maskapai me nutup rute-rute kecil yang di anggap tidak menguntungkan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap pem berlakuan penyesuaian TBA tarif pesawat bisa ter jang - kau masyarakat dan keberlang - sungan industri penerbangan juga tetap terjaga.

“Kalaudi hitungrata-ratanya adalah 15%. Tetapi, ini hanya berlaku bagi pesawat kelas eko - nomi jenis jet, tidak termasuk jenis pro peler,” ungkap Menhub Budi Karya di Jakarta kemarin. Bagaimana respons mas - kapai. Tampaknya, mereka ke - beratan dengan langkah pe - me rintah ini misalnya Garuda Indonesia. Vice President Cor - porate Communication Garuda Indonesia Ikhsan Rosan me - nandaskan, penurunan TBA bisa dipastikan berdampak ter hadap pendapatan. Alasannya, berdasarkan struktur biaya saat ini, harga sudah paling maksimal. “Pasti akan ber dampak pada Garuda. Itu pasti ber dam pak ke kita karena apa, struk tur cost sekarang ini dan harga kita aplikasikan itu sudah se - mestinya.

Maksudnya sudah ideal sekali,” ucapnya. Dia menegaskan struktur biaya sekarang ini, khususnya di maskapai Garuda, banyak mengalami peningkatan. Kon - disi ini berbeda jika penyesuai TBA dilakukan dua tahun lalu. “Dengan penurunan TBA nantinya, otomatis kita harus menekan cost yang lain lagi,” ungkapnya. Yayasan Lembaga Kon su - men Indonesia (YLKI) menilai keputusan pemerintah me nu - runkan TBA sebagai klimaks dari kejengkelan Menhub atas masih tingginya tarif pesawat udara. “Walau mereka/mas ka - pai belum melanggar keten tu - an TBA, tetapi yang diharap - kan, khususnya Garuda, bisa menurunkan harga tiketnya karena toh harga avtur sudah diturunkan/sudah turun. Na - mun, hal tersebut tidak dilaku - kan oleh semua maskapai,” ungkap Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam siaran persnya.

Menurut dia, penurunan persentase TBA di atas kertas memang bisa menurunkan tarif pesawat, tapi secara praktik belum tentu demikian. Faktanya, semua maskapai telah menerapkan tarif tinggi, rata-rata di atas 100% dari tarif batas bawah. Dengan begitu, penurunan persentase TBA tidak akan mampu menggerus masih tingginya harga tiket pesawat dan tidak akan mam - pu mengembalikan fenomena tiket pesawat murah. Selain itu, penurunan per - sentase TBA juga bisa memicu maskapai untuk mengerek sisa persentase TBA-nya misalnya 85%. Artinya, bisa jadi tiket pe - sawat malah naik pascapenurun an persentase TBA.

“Me mang, setelah diturun - kan, mas kapai tidak leluasa lagi untuk menaikkan tarifnya hingga 100% seperti sebelum diturun kan. Tetapi, intinya, turunnya persentase TBA ti - dak otomatis akan menu run - kan harga tiket pesawat, se - bagaimana diharapkan publik,” katanya. YLKI pun mengkha wa tir - kan langkah Kemenhub menu - runkan TBA akan direspons negatif oleh maskapai dengan menutup rute penerbangan yang dianggap tidak meng - untungkan atau setidaknya mengurangi jumlah frekuensi penerbangannya. “Jika hal ini terjadi, maka akses pener bangan banyak yang kolaps, khususnya Indonesia bagian timur, di remote area, sehingga publik akan kesulitan men dapatkan akses penerbangan. Bisakah pemerintah menyediakan aksespenerbanganyangditing - galkan oleh ma skapai itu,” ucap Tulus.

Adapun untuk komponen tiket pesawat, lanjut dia, bu - kan hanya soal TBA, tapi juga kom ponen tarif kebandar a - udaraan yang setiap dua tahun meng alami kenaikan. Me nu - rut dia, kondisi berpengaruh pada harga tiket pesawat karena tarif kebandarudaraan (PJP2U) include on ticket. “Kami juga meminta Kemenhub ha - rus secara reguler meng eva - luasi formulasi TBA sebab se - lama tiga tahun terakhir, sejak 2016, formulasi TBA dan TBB belum pernah dievaluasi,” pungkas Tulus. Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie meng - ungkapkan, penurunan tarif batas atas pada tiket pesawat akan semakin membebani mas kapai penerbangan. Menurut dia, penurunan tarif batas atas yang hampir men - capai 16% ini tidak masuk akal.

Dia pun mengingatkan, pe - nu runan tersebut akan mem - buat maskapai penerbangan menghilangkan rute-rute kecil dan akan mengutamakan rute besar yang banyak memiliki permintaan. “Sehingga mas - kapai penerbangan akan kehilangan layanan. Maskapai penerbangan akan fokus pada rute gemuk. Ini berat sekali. Ini enggak masuk akal,” ujar Alvin Lie. Karena itulah, Alvin me - minta pemerintah melihat ke - uangan maskapai pener bang - an yang menurutnya semakin parah. Sebabnya, penggunaan maskapai penerbangan tidak banyak diisi oleh masyarakat yang melakukan perjalanan pribadi ataupun ber libur.

”Yang banyak menggunakan penerbangan itu bukan masyarakat yang punya kepentingan pri - badi atau berlibur, tapi pe numpang pemerintah atau PNS yang dinas serta pebisnis yang melakukan perjalanan bisnis,” jelasnya. Sebagai informasi, peme - rin tah pada Senin lalu menu - runkan tarif batas atas tiket pesawat antara 12% sampai 16%. Penurunan 12% ini akan dilakukan pada rute-rute gemuk seperti penerbangan di daerah Jawa. Sedangkan penu runan lainnya dilakukan pada rute penerbangan ke Jayapura.

Ichsan amin




Berita Lainnya...