Edisi 15-05-2019
RI Harus Antisipasi Dampak Ekonomi Global


JAKARTA–Persaingan Amerika Serikat (AS) dengan Republik Rakyat China (RRC) belum juga berakhir. Setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif bagi produk impor China mulai akhir pekan lalu, China melakukan langkah pembalasan.

Kementerian Keuangan China mengumumkan siap menaikkan tarif produk AS se - nilai USD60 miliar sebagai pem - balasan. Kenaikan tarif ini rencananya berlaku pada 1 Juni mendatang. Beijing juga akan menaikkan tarif terhadap lebih dari 5.000 produk AS hingga 25%. Sementara produk lain - nya akan dikenakan kenaikan tarif hingga 20%. Sebelumnya, produk AS yang masuk ke China dikenakan bea masuk 5% hingga 10%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Na sution mengatakan, situasi dunia global yang tidak kon dusif akibat perang dagang ber - dampak pada negara-negara emer ging market atau negara ber kembang seperti Indonesia.

Memanasnya perang dagang an tara Amerika Serikat dan China menyebabkan nilai tukar ru - piah terhadap dolar AS mengalami pelemahan. “Situasi internasional tidak kondusif. Kalau tidak kondusif, yang terjadi negara emerging mar ket dirugikan seperti tahun lalu,” ujarnya di Jakarta ke marin. Menurut Darmin, neraca per dagangan Indonesia di perkirakan akan kembali defisit aki bat perang dagang pada April 2019. Namun, impor migas diperkirakan menyusut karena Per tamina akan memenuhi kebu tuhan dalam negeri berupa solar dan avtur. “Itu berarti impornya akan mengecil, tapi ekspor crude oil akan turun. Pastinya neraca migas kita akan membaik ke depannya. Tapi kita rapat dulu de - ngan Pertamina dan ESDM,” tuturnya.

Direktur Riset CORE Indone sia Piter Abdullah menilai, kegagalan perundingan AS dan China yang berujung saling ba - las menaikkan tarif atau me ma - nasnya perang dagang se be nar - nya sudah dapat ditebak ketika rilis data perekonomian AS ku - ar tal I menunjukkan perbaikan ekonomi. Seperti kita ketahui, pertumbuhan ekonomi AS jauh di atas ekspektasi mencapai 3,2%. Sementara inflasi terjaga dan pengangguran pada level terendah selama beberapa ta - hun terakhir. “Perbaikan eko no mi AS ini membuat Presiden Trump se - makin percaya diri bahwa ke - bijakannya selama ini adalah benar, termasuk perang da - gang,” katanya saat dihu bungi semalam.

Oleh karena itu, tidak me - ngagetkan kalau ke mudian AS mementahkan se mua per un - dingan dengan menerapkan ke - naikan tarif pada produk-pro - duk China dari 10% menjadi 25% yang ke mu dian segera di - balas oleh China. Menurut dia, perang dagang dan faktor yang melata r be la kanginya itu me miliki dampak negatif ter ha dap pereko nomi an Indonesia. Per tama, perang dagang itu sen diri akan me nye babkan ter - ta han atau bahkan menu run - nya permintaan glo bal yang ke - mudian berujung an jlo knya harga komoditas. “Indo nesia yang sangat ber gan tung kepada produk komoditas dalam men - dorong ekspor sa ngat ter dam - pak,” ungkap Piter. Sangat sulit memperbaiki nera ca perda - gang an ketika per min taan glo - bal dan harga komo di tas begitu rendah.

“Ujung-ujung nya CAD (current account deficit) akan tetap lebar,” imbuh dia. Di sisi lain, perbaikan per - ekonomian AS diperkirakan akan mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan kembali ke rencana semula menaikkan suku bunga. “Ekspektasi pasar atas kebi jak - an The Fed inilah yang saya per - kirakan menyebabkan per ge - rak an aliran modal yang mulai beralih keluar dari emerging mar ket kembali ke AS. Hal inilah yang menurut saya, yang menyebabkan jatuhnya IHSG dan melemahnya rupiah dalam seminggu terakhir,” tandasnya.

Oktiani endarwati/ kunthi fahmar sandy