Edisi 15-05-2019
Puncak Konsumsi BBM Diprediksi H-5 Lebaran


JAKARTA – Pemerintah memperkirakan puncak konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada Lebaran Idul Fitri 1440 H terjadi pada H-5. Konsumsi gasolin (bensin) diperkirakan akan meningkat hingga 137.000 kiloliter (KL).

“Berdasarkan data empiris, sepertinya konsumsi gasolin pada H-5 Lebaran, yaitu 31 Mei 2019. Sebaliknya, pada periode yang sama suplai gasoil (solar) akan mengalami penurunan, lantaran mulai di ber la ku kan - nya pembatasan angkutan barang,” kata Koordinator Posko Nasional Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana di Ja kar - ta kemarin. Menurut dia, peningkatan kon sumsi BBM berbanding terbalik dengan konsumsi lis - trik. Pihaknya memperkirakan konsumsi listrik saat Lebaran justru menurun mencapai 5% dari rata-rata konsumsi pada hari biasa. Penurunan kon sum si listrik disebabkan banyak in - dus tri dan ritel yang tidak ber - operasi. “Konsumsi turun ka - rena secara umum pabrik tu tup dan toko-toko tutup,” ujar dia.

Menurut dia, cadangan lis - trik PLN untuk mencukupi ke - butuhan masyarakat saat Le ba - ran dalam kondisi aman. Ka pa - sitas cadangan listrik na sional dipastikan aman meng ha dapi Lebaran. “Pasokan lis trik secara umum di pro yek si kan aman. Apalagi secara umum konsumsi listriknya turun,” kata dia. Terkait penjualan listrik, pi - haknya menargetkan pada 2019 ini mengalami pening katan dibandingkan tahun sebelumnya. Ridha menargetkan penjualan listrik nasional me - ningkat menjadi 247,3 terawatt hour (TWh) atau meningkat se - besar 6,40% dibandingkan tahun lalu.

Sementara pada 2018 penjualan listrik PLN mencapai 232,43 TWh. Ridha mengatakan, pe nyum - bang utama kenaikan pen jualan listrik utamanya dari sektor in - dustri. Adapun total konsumsi listrik sektor industri mencapai 76,345 TWh atau tumbuh 32,85% dibandingkan tahun lalu sebesar 71,72 TWh. Terkait kenaikan konsumsi BBM lebaran, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Djoko Siswanto merinci untuk pre - mium naik 10,1% atau 35.093 KL dari kondisi normal, yaitu 31.870 KL. Pertalite naik 16% atau 57.933 KL dari 49.943 KL, per tamax atau AKR 92 naik 32,5% atau 13.578 KL dari 10.248 KL, avtur naik 8,3% atau 13.414 KL dari 14.542 KL, dan turbo naik 14,2% atau 602 KL dari 532 KL.

“Sementara untuk jenis gasoil, seperti solar turun 11% atau 34,552 KL dari kon - sumsi normal 38.824 KL,” jelas Djoko. Secara umum, rata-rata ke - naikan gasolin 15,8% menjadi 107.206 KL dan gasoil turun 10,4% jadi 36.226. “Meski ada kenaikan konsumsi, stok BBM dipastikan berada dalam kon - disi aman,” tandas dia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata dia, pemerintah telah melakukan upaya peng - aman an pasokan BBM untuk ma syarakat dan siap mem be ri - kan pelayanan terbaik kepada ma syarakat dengan terus men - jaga ketersediaan stok dan me m - persiapkan pengelolaan dis tri - busi dengan baik. Pemerintah juga melakukan langkah antisipasi dengan mem - bentuk posko satuan tugas (satgas) khusus BBM di kantor pusat dan daerah.

Langkah ter se - but diambil guna memper tahan kan ketahanan stok BBM selama periode Idul Fitri 2019. Dalam mengamankan pa so - kan BBM, Kementerian ESDM juga melakukan peningkatan pendistribusian BBM melalui penambahan armada mobil tang ki, penyiapan kantong BBM, penyiapan produk BBK da lam kemasan, serta ke an - dalan fasilitas pelayanan se la - ma 24 jam. “Sesuai pesan Pak Menteri Jonan setelah melakukan kun - jungan lapangan di tol Trans Jawa kemarin, dispenser yang ada di SPBU di tol-tol baru harap juga segera dipasang nozzle,” ungkap Djoko.

Atasi Kelangkaan

Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) terus mengupayakan un tuk meminimalisasi ter ja di - nya kelangkaan elpiji. Salah satu caranya adalah membuat pro - gram satu desa satu outlet pen - jualan elpiji. Direktur Marketing Retail Per tamina Mas’ud Khamid me - ngatakan bahwa program ter se - but dijalankan dengan pe do - man satu desa harus mem pu - nyai satu outlet penjual elpiji. “Jadi kami itu ada konsep, satu desa itu harus ada satu outlet ,” ujar Mas’ud.

Mas’ud menjelaskan bahwa program tersebut dilakukan selain untuk mengantisipasi ke - langkaan juga untuk me me ra - takan distribusi sehingga se lu - ruh perdesaan mendapatkan suplai elpiji yang cukup. Adapun jumlah outlet atau pangkalan elpiji secara nasional sebanyak 165.000 pangkalan. Ha nya saja, pangkalan tersebut tidak menyebar secara merata sehingga sering terjadi keluhan di salah satu desa. Padahal di desa lain suplainya berlimpah. “Jadi itu masalahnya, ada satu desa terdapat lima pangkalan. Tapi ada juga satu desa tidak punya pangkalan elpiji. Ini yang sedang dibereskan,” ujarnya.

Pihaknya juga menjelaskan bahwa seluruh pangkalan elpiji diimbau untuk tidak hanya menjual elpiji 3 kilogram saja, tetapi juga menjual elpiji yang nonsubsidi. Harapannya, ma - sya rakat juga bisa beralih dari penggunaan elpiji subsidi ke elpiji reguler. “Kami juga minta buat me - reka jual juga yang nonsubsidi kan. Jadi ke depan, setiap pe ng - ajuan 3 kg, kita tawarkan juga yang non 3 kg. Jadi, non-PSO ada di mana-mana,” ujar Mas’ud.

Nanang wijayanto