Edisi 16-05-2019
Defisit Neraca Perdagangan , April Terparah


JAKARTA - Pemerintah dituntut bekerja keras untuk mendorong kinerja perdagangan.

Langkah ini urgen karena neraca per dagangan Indonesia pada April 2019 meng alami defisit parah, sebesar USD2,50 miliar. Salah satu pemicunya de fi sit migas USD1,49 miliar.

Neraca nonmigas yang biasanya surplus, juga defisit USD1 miliar. Besaran defisit tersebut tercatat tertinggi sepanjang sejarah. Berdasar data Trading Economics, sejak 1960, Indonesia belum pernah mencapai defisit neraca perdagangan setinggi itu.

Angka tersebut sekaligus mengalahkan rekor sebelumnya yang dicetak pada Juli 2013, dengan defisit USD2,33 miliar. Kepala Badan Pusat Sta tistik (BPS) Suhariyanto menyebut, berdasarkan data yang dia bawa sejak 2008, defisit April 2019 merupakan yang tertinggi.

Namun, dia mengaku tidak membawa data sejak 1960. “Saya enggak bawa datanya. Tadi saya bilang data yang saya bawa ini sampai 2008. Sejak ka - pan (tertinggi)? sejak saya belum lahir,” kata pria yang disapa Kecuk itu saat jumpa pers di Jakarta kemarin.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati juga memprihatinkan kondisi tersebut. Dia khawatir jika defisit tidak segera teratasi akan memengaruhi pertumbuhan Indonesia ke depan.

“Jadi, fak tor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan juga mesti kita waspadai. Dari sisi impor, kalau kita lihat untuk bahan baku dan barang modal, juga perlu kita antisipasi terhadap industri yang meng gu na kan itu karena akan memenga ruhi growth kita ke depan,” ujarnya.

Sri Mulyani menuturkan, ekonomi dunia sedang meng - alami situasi yang tidak mudah. Menurut dia, apabila Indonesia ingin tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%, dari sisi pertumbuhan industri manufaktur akan mengalami tekanan yang cukup da lam.

”Pertanyaannya, apakah sektor lain bisa pick up untuk bisa meng- imbanginya? Kalau dari sisi agre gate demand , berarti apakah investasi akan bisa kita jaga? Ini tantangan yang tidak mudah bagi kita,” ungkapnya.

Pengamat ekonomi Institute For Develompent of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai, lemahnya kinerja ekspor dipengaruhi perlambatan ekonomi global.

Dia menyebut, tren yang terjadi secara global berpengaruh pada permintaan bahan baku dan barang setengah jadi dari Indonesia. Rendahnya harga komoditas unggulan seperti CPO, karet, dan batu bara, juga berdampak signifikan terhadap turunnya ekspor.

“Dalam rantai pasok global, po sisi Indonesia juga terimbas oleh perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Ekspor AS dan China pada April 2019 masing-masing turun 5% dan 10% secara tahunan,” ujarnya.

Adapun dari sisi impor, negara yang terlibat perang dagang mengalihkan kelebihan produksinya ke Indonesia. Ini terlihat dari impor barang konsumsi sepanjang April 2019 meningkat 24% dibanding bulan sebelumnya.

“Impor spesifik asal China tumbuh 22% secara tahunan. Kita makin bergantung pada barang dari impor untuk memenuhi kebutuhan, khu susnya jelang Ramadan dan Lebaran,” jelas Bhima.

Bhima menambahkan, kinerja net ekspor pada kuartal II/ - 2019 diperkirakan masih tumbuh negatif. “Ekonomi sepanjang tahun akan terimbas pelemahan net ekspor. Outlook ekonomi 2019 hanya tumbuh 5%,” tandasnya.

Ekspor Migas-Nonmigas Turun

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai ekspor Indonesia pada April 2019 mencapai USD12,60 miliar atau menurun 10,80% dibanding ekspor Ma ret 2019.

Demikian juga jika dibanding April 2018 menurun 13,10%.”Secara month-to-month , Maret 2019 ke April 2019, ekspor migas turun 34,95% dan ekspor nonmigas turun 8,68%,” ujarnya.

Ekspor nonmigas juga melemah. Ekspor nonmigas April 2019 mencapai USD11,86 miliar, turun 8,68% dibanding Maret 2019. Demikian juga di banding ekspor nonmigas April 2018, turun 10,98%.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-April 2019 mencapai USD53,20 miliar atau menurun 9,39% dibanding periode yang sama tahun 2018. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD48,98 miliar atau menurun 8,54%.

Suhariyanto menuturkan, penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2019 terhadap Maret 2019 terjadi pada per hiasan/ permata sebesar USD339,2 juta (54,28%), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar USD72,4 juta (15,10%).

Ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Ap - ril 2019 turun 7,83% dibanding periode yang sama tahun 2018. Demikian juga ekspor hasil tam bang dan lainnya turun 12,26% sedangkan ekspor hasil pertanian turun 3,29%.”

Ekspor bahan bakar mineral turun. Penurunan ekspor bahan bakar mineral karena adanya penu - run an harga yang cukup tajam secara yoy turun 7,88%. Lemak dan minyak hewan nabati ada penurunan tetapi volume naik.

Ini karena penurunan harga sawit,“ tuturnya. Ekspor nonmigas April 2019 terbesar adalah ke China, yaitu USD2,04 miliar, disusul Amerika Serikat USD1,38 miliar dan Jepang USD1,05 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 37,65%.

Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD1,16 miliar. Suhariyanto melanjutkan, nilai impor Indonesia April 2019 mencapai USD15,10 miliar atau naik 12,25% dibanding Maret 2019.

Namun bisa dibandingkan, April 2018 turun 6,58%. “Kenaikan impor terjadi untuk impor migas maupun impor nonmigas. Biasanya terjadi peningkatan impor pada Le baran,” ujarnya.

Impor nonmigas April 2019 mencapai USD12,86 miliar atau naik 7,82% dibanding Maret 2019. Namun jika dibanding April 2018 turun 7,02%, sementara impor migas April 2019 mencapai USD2,24 miliar atau naik 46,99% dibanding Maret 2019, namun turun 3,99% dibandingkan April 2018.

“Nilainya lebih kecil dari tahun lalu. Artinya memang ada beberapa komo ditas yang dapat dikendalikan impornya sehing ga impor April 2019 turun,” imbuhnya.

Suhariyanto menjelaskan, peningkatan impor nonmigas terbesar April 2019 dibanding Maret 2019 adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar USD204,2 juta (14,12%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan serealia sebesar USD98,7 juta (25,15%).

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/ penolong, dan barang modal selama April 2019 mengalami kenaikan dibanding Maret 2019.

Impor barang konsumsi mengalami kenaikan sebesar 24,12%, bahan baku/penolong naik 12,09%, dan barang modal naik 6,78%. “Untuk barang konsumsi, peningkatan terbesar adalah daging beku, sepatu, kemudian ada juga impor buah apel dan pir,” jelasnya.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari- April 2019 menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, masing-masing 11,87%, 7,08%, dan 5,39%.

oktiani endarwati








Berita Lainnya...