Edisi 16-05-2019
Peninggalan Islam Bercorak Hindu-Buddha


Bicara Yogyakarta tentu identik dengan keberadaan Keraton Yogyakarta.

Tempat itu menjadi bagian dari sejarah Kerajaan Mataram Islam yang didirikan Panembahan Senopati atau dikenal dengan Sutowijoyo. Salah satu prasasti yang menunjukkan Kerajaan Mataram sebagai sebuah kerajaan Islam adalah bangunan masjid yang berada di Kotagede Yogyakarta.

Oleh warga setempat, masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Kotagede. Masjid Kotagede mulai dibangun sejak 1587 Masehi oleh Panembahan Senopati.

Kala itu, Raja Mataram pertama tersebut bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Semula masjid tersebut berukuran kecil.

Tidak heran bangunan itu disebut langgar atau musala yang artinya masjid kecil. Setelah zaman kejayaan Kerajaan Mataram di bawah Raja Sultan Agung Hanyokrokusuma (1613-1645) yang menjadi raja ketiga Mataram, masjid kecil pun dipugar menjadi lebih besar.

Tokoh masyarakat setempat, Sarbini, 60, mengatakan, pembangunan masjid pada 1640 M tersebut dibantu warga setempat yang masih berkeyakinan Hindu dan Buddha.

Tidak heran, arsitektur bangunannya kental dengan nuansa Hindu dan Buddha. “Pengaruh arsitektur Hindu dan Buddha juga terlihat dalam sejumlah ornamen masjid,” kata Sarbini, beberapa waktu yang lalu.

Menurut dia, bentuk masjid yang perpaduan antara Hindu dan Buddha tersebut menjadi simbol toleransi yang sangat kuat. “Buktinya masjid yang notabene tempat sembah yang umat Islam itu dibangun secara gotong-royong dengan bantuan warga yang saat itu beragama Hindu dan Buddha,” ungkapnya.

Kesan arsitektur Hindu dan Buddha itu terlihat mulai dari pintu masuk utama kompleks masjid berupa gapura paduraksa. Padukraksa merupakan bangunan berbentuk gapura yang memiliki atap penutup.

Arsitektur ini lazim ditemukan dalam bangunan klasik Jawa Hindu dan Bali. “Kalau di penganut Hindu, biasanya gapura ini sebagai pintu memasuki kompleks pura, tempat ibadah,” ujar dia.

Perpaduan Hindu dan Islam juga terlihat dari ornamen masjid. Atap masjid bersusun dua dengan mustaka berbentuk gada yang ditopang empat pilar. Gada melambangkan syahadat yang merupakan rukun Islam utama.

Empat tiang penyangga melambangkan empat rukun Islam lainnya, yakni salat, puasa, zakat, dan haji. Selain beberapa hal tersebut, di Masjid Kotagede juga memiliki sebuah beduk besar yang usianya juga hampir sama ketika masjid tersebut di pugar pertama kali oleh Sultan Agung.

Beduk yang diberi nama Kyai Dondong ini merupakan hadiah dari Nyai Pringgit yang berasal dari Kulonprogo. Beduk berukuran besar sepanjang 184 cm dan diameter 85 cm tersebut dibawa oleh Nyai Pringgit ke dalam masjid dengan cara digendong.

Atas perjuangan Nyai Pringgit ini, Sultan Agung memberikan hak kepada keturunan Nyai Pringgit menjadi pengurus dan tinggal di sekitar masjid dan dinamakan dengan daerah Dondongan.

Sangat wajar jika masjid ini menjadi objek wisata maupun pelajaran sejarah dan religi. Bahkan, sekolah-sekolah di sekitar Yogyakarta sering kali mengajak siswa ke Masjid Kotagede untuk belajar sejarah masjid.

Hal ini juga dilakukan SMPIT LHI Kotagede. Sekolah tersebut selalu mengajak siswa-siswinya mengenali lingkungan sekolah, termasuk Masjid Kotagede.

“Kami berjalan dari sekolah dan sesampai di masjid, kami diminta melihat lingkungan luar dan dalam masjid. Kemudian menuliskan yang diketahui tentang Masjid Kotagede,” tutur Aliefa, salah satu siswa SMPIT LHI Yogyakarta.

SUHARJONO

Yogyakarta


Berita Lainnya...