Edisi 16-05-2019
Akhir Sebuah Era


LONDON– Siklus karier selalu berputar, tak terkecuali di sepak bola. Musim kompetisi 2018/2019 menandai tuntasnya tugas beberapa pemain papan atas Eropa yang memutuskan mengakhiri karier.

Dari Liga Primer, Petr Cech resmi gantung sarung tangan di Arsenal (2015–2019). Sebelumnya, penjaga gawang Republik Ceko tersebut melanglang buana bersama FK Chmel Blsany (1999–2001), Sparta Praha (2001–2002) Stade Rennais (2002–2004), dan Chelsea (2004–2015). Karier Cech mencapai puncaknya bersama Chelsea. Dia sukses mempersembah - kan 4 trofi Liga Primer: 2004/2005, 2005/2006, 2009/2010, 2014/2015; 4 Piala FA: 2006/2007, 2008/2009, 2009/2010, 2011/2012; 2 Piala Liga: 2004/2005, 2006/2007, 2014/2015; 2 Piala Community Shield: 2005, 2009; 1 Liga Champions: 2011/2012 dan Liga Europa: 2012/2013.

Di Arsenal, penjaga gawang berusia 36 tahun tersebut mengantarkan The Gunners meraih Piala FA (2016/2017) dan dua Piala Community Shield (2015, 2017). Di pengujung kariernya, Cech berpeluang menambah koleksi gelar. Dia ingin membantu Arsenal meraih gelar Liga Europa dan siap memberikan yang terbaik saat bertemu mantan timnya, Chelsea, di final, Kamis (30/5) dini hari. “Bagi saya, ini sesuatu yang sempurna untuk mengakhiri karier di final Liga Europa berhadapan dengan Chelsea. Terasa spektakuler. Saya ingin menang bersama Arsenal dan pensiun,” ungkap Cech, dilansir Telegraph. Bukan hanya Cech, dunia sepak bola akan sangat merindukan maestro lini tengah Xavi Hernandez.

April lalu, gelandang berusia 39 tahun tersebut menuliskan surat terbuka yang mengonfirmasi dirinya pensiun akhir musim ini bersama Al Sadd, klub Qatar yang diperkuatnya sejak 2015. Berbicara gelar, Xavi boleh dikatakan bergelimang prestasi. Bersama Barcelona (1998–2015), dia berhasil mempersembahkan 8 gelar Primera Liga: 1998/1999, 2004/2005, 2005/2006, 2008/2009, 2009/2010, 2010/2011, 2012/2013, 2014/2015; 3 Copa del Rey: 2008/2009, 2011/2012, 2014/2015; 6 Supercopa de Espana: 2005, 2006, 2009, 2010, 2011, 2013; 4 Liga Champions: 2005/2006, 2008/2009, 2010/2011, 2014/2015; 2 Super Eropa: 2009, 2011, dan Piala Dunia Antarklub: 2009, 2011.

Di level tim nasional, Xavi membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 dan dua Piala Eropa (2008, 2012). “Sebuah kehormatan bermain sepak bola hingga usia 39 tahun. Saya ingin mengakhiri musim di puncak dengan memenangkan Piala Amir dan mencapai tahap berikutnya Liga Champions Asia,” ujarnya. Xavi mengindikasikan tidak ingin jauh-jauh dari sepak bola. Gelandang yang identik dengan nomor 6 tersebut ingin menjajal karier kepelatihan yang terinspirasi legenda BlaugranaJohan Cruyff. “Ini adalah musim terakhir saya sebagai pemain. Saya ingin melihat masa depan sebagai pelatih. Saya suka melihat tim yang memimpin di lapangan. Sepak bola yang menyerang dan yang kembali ke esensi yang kita semua tahu dari masa muda kita, yakni memiliki penguasaan bola,” ungkapnya.

Dari sektor penyerang, Robin van Persie melakoni laga terakhir saat Feyenoord berhadapan dengan Den Haag, Minggu (12/5). Namanya be - gitu mendunia ketika mem - perkuat Arsenal (2004–2012). Van Persie menyumbangkan trofi Piala FA (2004/2005) dan Piala Community Shield (2004) bagi The Gunners. Langkah Van Persie menyeberang ke Manchester United (MU) pada 2012 menjadi pemberitaan mengejutkan di Inggris. Tapi, keputusannya terbukti jitu. Bersama The Red Devils, pemain berusia 35 tahun tersebut meraih gelar Liga Primer (2012/2013) dan Community Shield (2013).

Di level tim nasional, prestasi tertingginya adalah membawa Belanda menjadi runner-up Piala Dunia 2010. Sinyalemen serupa diperlihatkan superstar Bayern Muenchen Arjen Robben. Mengabdi selama 10 musim bersama Muenchen (2009–2019), gelandang asal Belanda tersebut akan meninggalkan Allianz Arena akhir musim ini. Meski belum memiliki rencana secara pasti, Robben—menyumbangkan 18 gelar bergengsi di level domestik dan Eropa bagi Die Roten—kemungkinan besar akan pensiun. “Ini bukan pilihan mudah. Paket secara keseluruhan harus tepat, tak cuma dalam sepak bola, tapi juga untuk keluarga saya. Hal paling mudah adalah berhenti. Itu juga merupakan pilihan buat saya. Tapi, saya tak yakin apakah akan melakukan itu,” tuturnya.

Berbeda dengan Robben, rekan setimnya, Franck Ribery, juga meninggalkan Muenchen setelah 12 tahun (2007–2019) berkiprah. Gelandang asal Prancis tersebut tidak memperpanjang kontraknya. Berstatus besar transfer, belum diketahui tujuan Ribery selanjutnya.

Alimansyah







Berita Lainnya...