Edisi 16-05-2019
Pebasket NBA Bermental Baja


DAMIAN Lillard berhasil membawa klub NBA, Portland Trail Blazers, menembus babak final wilayah barat. Mental dan semangat yang keras Lillard ternyata dibentuk melalui perjalanan panjang di sebuah kota paling keras di Amerika Serikat. Bagaimana ceritanya?

Apa jadinya jika Anda tinggal dan dibesarkan di sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu kota paling berbahaya? Kota yang dalam satu tahun terdapat 69 kali kasus pembunuhan dan tingkat kejahatan yang terjadi mencapai 1,299% per 100.000 orang. Di kota bernama Oakland itulah pebasket NBA dari klub Portland Trail Blazers, Damian Lillard lahir dan dibesarkan. Seperti orang tua, Lillard memang tak bisa memilih harus tinggal di mana untuk masa depannya. Dia tak bisa membantah ketika USA Today memasukkan Oakland dalam daftar 25 kota paling berbahaya di Amerika.

“Tinggal di Oakland itu bukan bercandaan. Sebuah keajaiban jika ada orang yang berhasil keluar dari sana dan terkenal selain karena membunuh,” ujar Gary Payton, pebasket NBA legendaris dari Seattle Supersonics yang juga tinggal di Oakland. Dengan segala kekurangan itu, Lillard justru begitu mencintai kota itu. Sampai-sampai jersey Portland Trail Blazers yang dia kenakan justru dipersembahkan untuk kotanya. “Angka 0 itu sebenarnya simbol di mana saya dilahirkan dan dibesarkan, Oakland,” ucap pebasket kelahiran 15 Juli 1990 itu. Di mata Lillard Oakland selalu istimewa meski pun setiap hari dia bertemu dengan orang-orang Oakland yang gampang “panas”.

Meski setiap detik dia harus membuka matanya lebar-lebar agar terhindar dari tindak kriminal. Namun, di kota itulah dia mengerti mengapa harus bekerja keras. Dia sadar tanpa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Inilah yang membuat dia rela bangun sepagi mungkin agar bisa bergegas menuju gelanggang olahraga remaja, Ira Jinkins Recreatin Center, untuk berlatih basket. Sebelum pusat olahraga itu buka, Lillard sudah berada di depan pintu untuk segera berlatih. Howard Gamble, pemegang kunci Ira Jinkins Recreation Center, bersumpah kalau Lillard selalu jadi orang pertama yang datang ke pusat olahraga itu.

Begitu pintu dibuka, Lillard langsung bergegas masuk ke dalam dan bermain seorang diri. Bahkan, ketika orang-orang dewasa sudah mulai menguasai lapangan dan mendesak anakanak kecil untuk ke pinggir lapangan, Lillard tidak segera pulang. Dia mengamati bagaimana orangorang dewasa bermain basket. Setelahnya dia meniru semua gerakan yang dia amati dan mencoba menguasainya dengan baik. “Dia seperti pekerja kantoran yang datang jam Sembilan pagi, pulang jam lima sore. Seharian penuh dia bermain basket,” ucap Gamble. Lingkungan Oakland yang keras juga menular di lapangan basket. Pertandingan basket di kota itu tak ubahnya seperti pertandingan gladiator. Tak jarang pertandingan justru berakhir dengan gulat dan baku hantam.

Saat-saat itulah nyali Lillard terbentuk. Meski badannya tergolong kecil, Lillard menjadi sosok dengan nyali besar. Dia semakin kompetitif dan selalu berusaha jadi yang terbaik. Jiwa kompetitif inilah yang kemudian membuat Lillard berusaha mencari sekolah yang dipenuhi dengan anak-anak dengan bakat basket besar. Bak seorang sniper , Lillard memburu dan mengalahkan anak-anak sebayanya yang dianggap paling lihai bermain basket. “Setiap pertandingan saya ingin selalu ëmembunuhí mereka. Dari situ saya bisa melihat perlahan-lahan saya bisa naik ke atas,“ ucap Lillard. Suami dari KayíLa ini bahkan tidak pernah patah arang ketika kehidupan memukulnya jatuh. Hal itu terjadi ketika berada di sekolah menengah atas saat pelatihnya, Raymond Young, justru tidak pernah meliriknya untuk bermain.

“Dia sangat lihai saat menyerang, tapi ketika bertahan dia sama sekali kepayahan,” sebut Raymond Young. Hal itu justru tidak membuat Lillard sakit hati. Dia justru mencoba memperbaiki dirinya untuk mengatasi masalah tersebut. Meski terus dipinggirkan di sisi lapangan, Lillard terus berlatih seorang diri agar mampu bisa memenuhi standar yang diinginkan pelatihnya. “Saat dia direndahkan, dia justru bisa membalikkan pandangan itu. Lillard orang seperti itu,” ucap Raymond Young. Bak repetisi, apa yang terjadi di masa-masa remaja Lillard seolah terulang kembali ketika dia bergabung dengan klub NBA Portland Trail blazers. Banyak orang memandang sebelah mata kepada klub yang sepanjang 49 tahun berdiri itu hanya mampu meraih satu kali juara NBA.

Lillard saat ini memang selalu berhasil mengantarkan Portland Trail blazers ke playoff sejak 2013-2014. Namun, mereka selalu gagal menembus babak final. Musim lalu Lillard gagal memenangi pertandingan putaran pertama. Pelicans menyapu bersih mereka di sana. Sejak itu, Lillard merasa Blazers dan dirinya terus direndahkan. Orang-orang berbicara buruk tentangnya di mana-mana. Kini Lillard perlu membuktikan perubahannya. Ia ingin menjadi pemain terbaik Blazers dengan membawa tim lebih jauh di playoffs .

Musim ini peluang itu terbuka lebar, saat Portland Trailblazer, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir mampu menembus babak final wilayah barat dan berhadapan dengan juara bertahan NBA musim lalu, Golden State Warriors. Tentu ini akan jadi perjuangan yang berat buat Lillard menghadapi Stephen Curry dan kawankawannya. Tapi toh, Lillard pernah membuktikan dia mampu melewati tantangan terberat dengan hidup dan besar di kota paling sadis di Amerika. Apalagi cuma sekadar Golden State Warriors.

Wahyu sibarani