Edisi 16-05-2019
Penerus Tongkat Estafet Portland Trail Blazers


JIKAingin nyaman, Damian Lillard harusnya sudah tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Klub yang bermarkas di Moda Center, Portland, Oregen itu juga tidak menuntut banyak.

Dalam catatan Forbes , dengan gaji USD24,4 juta atau setara Rp346,1 miliar Lillard masuk dalam daftar ke-15, 20 atlet terkaya di dunia versi majalah itu pada 2017. Gaji besar dan tuntutan yang tidak merepotkan, tentu menawarkan kehidupan yang nyaman buat Lillard. Tujuh tahun membela Portland Trail Blazers, Lillard memang tidak mendapatkan banyak tekanan dari penggemar Portland Trail Blazers. “Di masa-masa rookie hal itu memang sangat nyaman. Namun, seiring waktu saya mulai bertanya-tanya, mau dibawa ke mana klub ini? Apakah kita bisa mampu menjadi juara? Apakah mampu menuju ke sana?” ucap Lillard.

Dia kemudian merasa terpanggil ketika satu per satu pemain senior yang dulu berada di belakangnya, kini mulai pergi dan pensiun. Saat itulah Lillard merasa terpanggil untuk tampil ke depan membawa panji-panji Portland Trail Blazers. Dia seperti memegang tongkat estafet yang sebenarnya tidak dibebankan pada dirinya. Saat itulah Lillard mulai membentengi dirinya dengan tanggung jawab. Dia jadi orang paling depan menerima kesalahan ketika timnya dikalahkan. Dia menjadi orang yang paling dihujat ketika timnya tak mampu berbuat banyak melawan tim lainnya. Dan itu seharusnya tidak mudah ditelan oleh anak muda yang keterlibatannya dengan klub tidak sampai jumlah jari dua tangan. “Baru pada musim keenam, saya bersama Trail Blazers bisa menjalaninya dengan baik,” ucap Lillard.

Perubahan terjadi seiring dengan kehadiran anak dari hubungan asmaranya dengan gadis bernama KayíLa. Kehadiran Damian Jr membuat Lillard menjadi figur yang tenang. Lewat anaknya, dia kemudian menjadi mengerti bagaimana pentingnya sosok lain dalam hidupnya. Perlahan-lahan dia kemudian mulai menata ulang hubungannya dengan teman-temannya di klub dan juga pelatihnya. Dia mulai menghargai dan merasakan apa yang mereka lakukan selama ini. “Saya jadi lebih tenang dan tidak mudah emosi. Saya senang dengan keadaan seperti ini,” ucapnya. Hal ini bahkan dia tunjukkan ketika berhasil menghempaskan dua tim yang sedang on-fire di NBA, yakni Oklahoma City Thunder dan Denver Nugget di babak Playoffs 2019.

Saat berhasil mengalahkan Oklahoma City Thunder, Lillard berhasil menyarangkan tembakan tiga angka di detikdetik terakhir dari jarak hampir setengah lapangan di depan mata Paul George. Tembakan itu berhasil membuat Portland Trail Blazers mengalahkan Oklahoma City Thunder yang difavoritkan banyak orang. Dia juga berhasil memenangi perang psikologis antara dirinya dengan andalan Oklahoma City Thunder, Russell Westbrook. Saat itu perang keduanya berlangsung panas di mana keduanya terlibat dengan adu fisik yang sengit dan adu mulut yang berkepanjangan. Lillard berhasil melewatinya karena terinspirasi seni perang Sun Tzu.

“Petarung yang tenang, penuh displin, tidak emosi, dan penuh semangat yang akan menang, bukan yng besar kepala, mudah marah, dan hanya menginginkan pembalasan. Bukan juga orang yang ingin mencari keuntungan,” tulis Lillard di akun Twitter resmi miliknya.

Wahyu sibarani