Edisi 16-05-2019
Solusi Alternatif Transportasi Jarak Pendek


SEGWAY-NINEBOTjadi solusi alternatif transportasi jarak pendek yang bebas polusi dan penuh gaya. Seperti apa transportasi alternatif yang sepenuhnya digerakkan oleh listrik itu?

Imam Darto, presenter sebuah stasiun televisi swasta Ibu Kota, kini punya kebiasaan baru. Setiap hari ketika hendak berangkat kerja ke kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pria yang dulunya akrab sebagai penyiar radio itu lebih sering menggunakan MRT. Selain membawa tas, dia ternyata menjinjing sebuah scooter mini merek Segway- Ninebot. Scooter mini itu awalnya dia kendarai dari rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Begitu sampai di Stasiun MRT, dia langsung melipat Segway- Ninebot ES2 itu dan membawanya ke dalam MRT. Kick scooter itu memang tidak terlalu berat. Total beratnya hanya mencapai 5 kilogram.

“Begitu sampai di stasiun tujuan langsung pakai lagi untuk sampai ke kantor.Daripada harus menunggu taksi online atau ojek online,” ujarnya. Hal yang sama dilakukan Ade Habibie, builder motor ternama di Indonesia. Ade Habibie selalu menggunakan Segway-Ninebot ES2 miliknya untuk kebutuhan transportasi jarak pendek, terutama untuk membeli kebutuhan seharihari. “Biasanya dari apartemen ke minimarket selalu saya pakai. Daripada gunakan motor yang tentunya ngeluarin asap,” ujar Ade Habibie. Penggu - naan kick scooter listrik saat ini di Indonesia memang belum begitu mewabah. Namun, perlahan-lahan beberapa elemen masyarakat mulai menyadari kemudahan dan keuntungan penggunaan kick scooter listrik itu.

Setiawan Winarto, Chief Executive Officer SVI Group, distributor resmi Segway- Ninebot, melihat penggunaan kick scooter listrik memang masih dianggap sebagai gaya hidup. Namun, dia percaya ke depannya dalam waktu dekat kick scooter akan jadi sarana trans - portasi yang solutif untuk kebutuhan transportasi jarak pendek. Berbeda dengan di Indonesia, penggunaan kick scooter listrik di luar negeri justru sangat populer saat ini. Dia mencontohkan ketika berkunjung ke Amerika Serikat, dia melihat penggunaan kick scooter sudah sangat tinggi. Bahkan, penggunaannya bisa dilakukan dengan cara berbagi atau ride sharing . “Saya yakin di Indonesia dalam waktu yang tidak akan lama juga akan mengalami hal yang sama. Contohnya di BSD kalau tidak salah sudah ada Grab Wheels,” katanya.

Dia optimistis upaya SVI membawa Segway-Ninebot ke Indonesia akan jadi langkah terobosan untuk mewujudkan elektrifikasi di Indonesia. “Daripada kita terus menunggu peraturan yang tidak jadi-jadi juga, lebih baik kita coba lebih dulu. Semoga ini jadi terobosan,” ucapnya. Lebih lanjut Setiawan mengatakan penggunaan kick scooter milik Segway-Ninebot tidak masuk dalam kategori kendaraan yang diatur oleh peraturan lalu lintas. Hal ini dimungkinkan karena kick scooter milik Segway-Ninebot memiliki batas kecepatan 25 kilometer per jam. “Selain itu, kami juga mengimbau agar pengguna kick scooter ini selalu menggunakan helm dan berada di sisi jalan jika ingin menggunakannya,” kata Setiawan. SVI Group tidak hanya membawa Segway-Ninebot ES2 sebagai satu-satunya produk.

Mereka juga menawarkan produk lainnya yang sepenuhnya juga digerakkan listrik, seperti Segway-Ninebot ES4, Segway- Ninebot Drift W1, Segway- Ninebot S Pro, dan Segway- Ninebot Gokart. Harganya dibanderol mulai Rp8 juta-Rp12 juta dengan garansi produk satu tahun dan garansi baterai enam bulan. Dengan lini produk yang dipasarkan, Setiawan menargetkan mampu menjual ratusan sampai ribuan unit sampai akhir tahun. Segway-Ninebot akan segera bisa didapatkan di jajaran Melodia di seluruh Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Selain di jaringan retail Melodia, masyarakat bisa menemukan Segway-Ninebot di jaringan dealer Melotronic. “Kami kan masih baru, mungkin tahun ini ratusan atau ribuan. Tapi kami optimistis seribu lebih. Tahun berikutnya baru 2-3 kali lipat,” tutup Setiawan.

Wahyu sibarani