Edisi 22-05-2019
Kampung Siaga Bencana Harus Dimaksimalkan


JAKARTA - Latihan rutin dan terstruktur untuk peningkatan kapasitas anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) harus men jadi prioritas kebijakan untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana atau mitigasi bencana.

“KSB merupakan salah satu prioritas yang sifatnya pen ce - gahan. Seperti diketahui se te - lah terjadi bencana di Selat Sun - da perlu ada penyesuaian dalam penyiapan KSB,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Ja - minan Sosial Kementerian So - sial Harry Hikmat saat me ne - rima delegasi World Food Prog - ram (WFP) di Jakarta kemarin. Pembentukan KSB, lanjut dia, mengarah pada pen de kat an ka - wa san sehingga pemikiran kam - pung sebagai kawasan ber sifat lokal. “Mungkin saja ter ja di ben - cana banjir yang me lin tasi be be - rapa desa sehingga bisa difasilitasi pembentukan KSB,” lanjutnya.

Harry menegaskan, KSB tidak identik dengan kampung, tetapi lebih pada memfasilitasi masyarakat untuk lebih bisa memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. WFP telah melakukan studi tentang KSB dengan me libat kan 3 4 KSB dan 14 mitra kerja di tujuh provinsi. Dari hasil pe nelitian tersebut, WFP me re ko mendasi - kan peningkatan ka pa sitas sum - ber daya manusia (SDM) yang ter - libat dalam pe ngelolaan KSB menjadi prio ri tas. “Prioritas kebijakan yang per tama adalah capacities (ka pa si tas), yang kedua per ma nence (keabadian), dan urutan yang ketiga adalah funding (pendanaan),” papar Leason Officier EPR WFP Wipsar Dina Triandini.

Penelitian tersebut bertuju an untuk mengumpulkan prak tik baik dan pembelajaran dari KSB yang telah terbentuk untuk meningkatkan kualitas prog ram di masa mendatang. “Se ti dak nya terdapat 12 hal yang di temukan di lapangan, yaitu sus tainability, permanence, effe c ti ve ness, owner - ship, adaptiveness, inclusion, ins - titutionalism, policy environment, capacities, culture, funding, dan accountability,” lanjutnya. Dina menambahkan, le ga li - tas merupakan aspek penting da lam sebuah organisasi ber ba - sis komunitas seperti KSB. Selain itu, legalitas juga akan mem permudah akses pen da - naan untuk KSB. “Beberapa hal yang sangat penting dalam proses pembentukan KSB ada - lah motivasi dalam pem ben - tukan, pengalaman organisasi dari anggota, jiwa ke pe mim - pinan dari masyarakat sekitar, dan penambahan durasi pem - bentukan,” urainya.

Diperlukan juga kerja sama dengan berbagai pihak di an - taranya pemerintah daerah, komunitas lokal, swasta, dan institusi pendidikan terkait. Setidaknya ada tiga kunci yang akan memastikan ada rasa ke - pemilikan terhadap KSB “Per - tama adanya ketokohan atau kepemimpinan lokal yang kuat. Kedua pemilihan pengurus dan anggota yang tepat. Sedangkan yang ketiga memanfaatkan sumber daya lokal,” jelasnya Inovasi berbasis kearifan lokal juga menjadi hal yang sangat penting dalam KSB di antaranya dengan mengembangkan prog - ram sesuai dengan budaya dan kemampuan masyarakat.

Binti mufarida



Berita Lainnya...