Edisi 22-05-2019
Kata Lautze Berarti Ustaz


Dari namanya, masyarakat paham bahwa lautze berasal dari bahasa Tionghoa. Ketua DKM Lautze 2 Bandung Koko Rahmat mengatakan, Masjid Lautze 2 Bandung merupakan cabang dari Masjid Lautze di Jakarta yang didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oi pada 1991.

Di Jakarta masjid dengan ciri khas Tionghoa itu berdiri di Jalan Lautze sehingga nama masjid diambil dari nama jalan tersebut. Pada 1997, Masjid Lautze membuka cabang di Bandung dengan nama Masjid Lautze 2. "Lautze berarti guru atau tempat untuk bertanya tentang agama Islam. Dalam bahasa Arab, lautze bisa diartikan sebagai ustaz. Jadi masjid ini dibangun sebagai tempat bertanya bagi nonmuslim maupun muslim, terutama keturunan Tionghoa ketika itu," kata Koko Rahmat. Masjid ini masih memper - tahankan ciri khas dengan deko rasi Tionghoa, pada awal - nya untuk daya tarik. Warga keturunan Tionghoa muslim ingin ada ciri tersendiri, di mana budaya tidak dilepas atau hilang begitu saja.

Ketika Masjid Lautze 2 Bandung ini ada, mereka tertarik dan mau masuk ke dalam. Awalnya, ujar Rahmat, Masjid Lautze 2 Bandung hanya mampu menampung 20–30 jamaah. Sekarang bisa menampung 700 jamaah setiap salat Jumat, sedangkan pada hari biasa mampu menampung 100 jamaah setelah mendapat tanah wakaf perluasan masjid. "Setiap salat Jumat, jamaah membeludak sehingga DKM Masjid Lautze 2 menyediakan tenda dan karpet hingga menutup Jalan Tamblong," ujar Rahmat.

Sayangnya, sampai sekarang Masjid Lautze 2 Bandung belum tersentuh bantuan dari Pemkot Bandung. "Proposal sudah masuk, tapi belum ada realisasi. Jadi selama ini DKM Masjid Lautze melakukan upaya swadaya untuk membiayai semua kegiatan," tuturnya.

Masjid Rahmatan Lil Alamin

Sejak tiga tahun lalu, kepengurusan DKM Lautze 2 Bandung sudah berganti. Koko Rahmat ditunjuk sebagai ketua DKM. Para pengurus DKM Lautze 2 Bandung yang baru itu menerapkan kebijakan baru, membuka masjid selama satu pekan penuh. Sebelumnya, karena Masjid Lautze 2 Bandung berlokasi di pinggir jalan, di perkantoran, dan pertokoan, buka-tutup masjid ini seperti jam kantor. Seperti jam 10-11 siang baru buka dan jam 4-5 sore tutup. Begitu pula pada Sabtu- Minggu masjid tutup. Setelah kepengurusan baru, kebijakan berubah.

Pengurus yang baru ingin memfungsikan Masjid Lautze 2 Bandung seperti masjid-masjid yang lain, subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya masjid tetap buka. Sabtu-Minggu juga masjid tetap buka. Bahkan tanggal merah pun masjid tetap buka. Maka, DKM Masjid Lautze menyiapkan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan seperti itu. "Alhamdulillah, tiga tahun ke belakang ini kami banyak sekali progres. Kami juga menyewa gedung untuk pembinaan Mualaf Care bekerja sama dengan Masjid Salman ITB dan LPK Tar-Q," kata Rahmat. Rahmat mengemukakan, DKM Lautze 2 Bandung ingin masjid ini menjadi rahmatan lil’alamin untuk semua umat.

Karena itu, kegiatan selama Ramadan untuk warga sekitar diadakan pengajian ibu-ibu dan anak-anak. Mereka juga menggelar salat tarawih berjamaah dengan kultum dibawakan oleh para mualaf. Mereka menceritakan tentang suka-duka dan suara hati mualaf. Sedangkan imam tarawihnya adalah Imam Muda Masjid Salman ITB Syekh Muzammil Hasbalah. "Untuk kegiatan lain, kami juga menggelar takjil off the road dengan membagikan 700- 1.000 bungkus takjil. Kemudian ada program buka puasa bersama dengan jamaah. Setiap hari kami menyediakan 200–250 boks nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Menu berbuka puasa tersebut sumbangan dari dermawan semua kalangan, baik komunitas muslim maupun nonmuslim. Ada yang nyumbang nasi 50 boks, ada yang nyumbang kurma lima dus, air mineral. Semua kami kumpulkan, lalu dibagikan kepada jamaah dan warga yang melintas di depan Masjid Lautze 2 Bandung," tutur Rahmat. Istimewanya, karena menjadikan masjid ini rahmatan lil’alamin, banyak komunitas agama lain sepeti Katolik, Buddha, dan lain-lain ikut menyumbang takjil. Mereka ikut eksis berbagi dengan sesama.

AGUS WARSUDI
Bandung






Berita Lainnya...