Edisi 22-05-2019
London-New York Hanya 90 Menit


LONDON–Sebuah perusahaan startup , Hermeus Corporation, berbasis di Atlanta, Amerika Serikat (AS), mengungkapkan ren cana mengembangkan pesawat yang mampu terbang dengan kecepatan lima kali suara.

Pesawat hipersonik itu mam pu mengangkut penum pang terbang dari New York ke London dalam waktu 90 menit atau kurang. Hermeus Corporation men - da patkan pendanaan dari in - ves tor swasta untuk mengem - bangkan pesawat yang mampu ter bang dengan kecepatan Mach 5. Jika proyek tersebut suk ses, itu akan merevolusi pe - nerbangan transatlantik ko - mer sial. Saat ini, penerbangan tradisional antara London dan New York memakan waktu le - bih dari tujuh jam. Pencipta pe - sa wat itu berharap pesawat hi - personik itu memiliki daya jela - jah hingga 4.600 mil dengan ke - cepatan 3.300 mil per jam.

“Kita menciptakan petua - lang an untuk merevolusi infra - struktur transportasi global dan menghadirkannya dari ke - cepatan pada era broadband de - ngan mewujudkannya dalam pe nerbangan jarak jauh,” kata pendiri dan CEO Hermeus Cor - po ration, AJ Piplica, dilansir CNN. Namun, Paul Bruce, dosen se nior di Departemen Aero nau - tika di Imperial College London, mengucapkan tentang kekha - wa tiran. “Tantangan paling be - rat dalam penerbangan hiper - sonik adalah propulsi,” ujarnya. Bruce mengungkapkan, orang mengirimkan kendaraan kecil untuk terbang dengan ke - cepatan hipersonik dengan meng gunakan scramjet , mesin jet berteknologi canggih. Dia menganggap itu sebagai eks pe - rimen yang masih jauh untuk di wujudkan menjadi pesawat penumpang.

“Masih banyak kesulitan ter bang cepat secara rutin, mes - ki pun tidak memiliki kemam - pu an teknis untuk mela ku kan - nya,” papar Bruce. “Isu lainnya adalah faktor finansial dan lingkungan. Terbang cepat, ma - ka akan membakar lebih ba - nyak bahan bakar. Itu juga tidak efi sien dibandingkan terbang ren dah,” ujar. Bagaimana jika pe sa wat hipersonik tetap me - miliki pasar? “Saya tidak ragu kita bisa membuat satu jenis pe - sawat,” ujarnya. Piplica mengatakan, pesa - wat penumpang akan dikem - bangkan dalam satu dekade men datang.

“Kita memiliki be - ban terbang saat ini. Kita me mi - liki sedikitnya dua jenis pesawat yang kita produksi, kita uji coba, dan pelajari saat ini,” ujarnya. Piplica mengungkapkan, tan tangan utama adalah meng - integrasikan teknologi utama dan menguji cobanya. “Sangat sulit untuk menciptakan lingkung an Mach 5 di lapangan,” ujar nya. Dia mengungkapkan perlunya pemikiran kembali un tuk mengembangkan ken - da ra an yang mendukung per - kem bangan lingkungan indus - tri pe sawat hipersonik. Investasi yang didapatkan Hermeus Corporation berasal dari Khosla Ventures. “Her - meus mengembangkan pesa - wat yang tidak hanya mampu me ningkatkan pengalaman ter - bang dengan frekuensi pe ner - bangan, tetapi juga potensi un - tuk memiliki dampak eko no mi dan masyarakat,” ujar Vinod Khos la, pendiri Khosla Ven - tures.

Kerja sama dan investasi tersebut disambut baik oleh Piplica. Dia mengungkapkan, ker ja sama itu akan mewu jud - kan visi menjadi sebuah reali tas. Para pendiri Hermeus meru - pakan mantan pegawai dari SpaceX, perusahaan roket yang didirikan Elon Musk dan Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos. Empat pendiri Hermeus bekerja sama di Ge ne - ration Orbit di mana mereka be - kerja mengembangkan pesa wat hipersonik dan mempro duksi XPlane, pesawat terbaru Ang kat - an Udara AS. Selain Pi pli ca, me - re ka adalah Glen Case, Mike Smay da, dan Skyler Shu ford, yang menjadi direktur tek nik.

Hermeus juga meng umumkan dewan penasihat yang ter - diri atas para profesional ber pe - ngalaman di bidang teknologi antariksa dan penerbangan ko - mersial. Para penasihat itu men definisikan strategi Her - meus dengan fokus pada kese - lamatan, pasar, teknologi, dan pengembangan inovasi pada pe nerbangan serta mengonek - si kan global. Beberapa anggota dewan pe nasihat itu termasuk Rob Me yer son, mantan presiden Blue Origin; Rob Weiss, mantan pe tinggi Lockheed Martin Skunk Works, serta Keith Masback -mantan CEO, US Geospatial Intelligence Foun - da tion. “De ngan pengalaman dari berbagai perusahaan an - tariksa, tim Her meus memiliki posisi yang baik untuk men dis - rupsi industri hi personik,” kata Meyerson.

Pada 2018, tim peneliti Aka - demi Sains China mengklaim te lah mengembangkan pesa - wat hipersonik yang mampu ter bang dengan kecepatan 6.000 km per jam atau lebih dari lima dari kecepatan cahaya. Pe - sa wat hipersonik itu bisa meng - angkut penumpang dan kargo dari Beijing ke New York hanya dalam waktu dua jam. Padahal, pe nerbangan dengan pesawat komersial bisa memakan waktu selama 13,5 jam. Tim peneliti juga sudah meng uji coba model jet tersebut dalam terowongan angin dan mampu terbang dengan kece - pat an 8.600 km per jam. Jika di - ban dingkan dengan pesawat Con corde, mampu terbang de - ngan kecepatan 2.179 km per jam.

Desain pesawat yang dise - but dengan I Plane memiliki dua sayap lebar untuk mengurangi turbulensi dan guncangan. Menurut desainer pesawat militer China yang enggan di se - butkan na ma nya, pesawat hi - per sonik itu akan menjadi “pe ng ubah per - mainan”. “Kita ber bicara ten - tang sesuatu se - per ti pesawat pe ngebom su - per sonik,” ujar - nya dilansir South China Mor - ning Post. Me l a n s i r BBC, dari segi de sain pesawat hi personik me mer lukan sesu a - tu yang dapat meminimalkan perlambatan di udara. Sebab, semakin cepat se buah pesawat, semakin besar pula masalah perlambatan.

“La ju pesawat ber banding lurus de ngan ke - cepatan kuadrat. Jika ke ce pat - an dilipatgandakan, per lam - bat an akan meningkat empat kali lipat,” ungkap Pro fesor Ni - cholas Hutchins dari Uni ver si - tas Melbourne. Tim peneliti Beijing juga ber upaya mengatasi masalah ini de ngan merancang lapisan sa yap kedua di atas sayap uta - ma. Mereka kemudian meng - uji nya dengan menempatkan mo del miniatur di dalam tero - wongan angin. Namun, proyek tersebut masih jauh dari uji co - ba dan lepas landas di lapangan udara. Beijing baru berbicara me - ngenai pesawat hipersonik saat ini dan itu sangatlah terlambat. Dalam pandangan Kevin Bowcutt, peneliti senior pesawat hiper sonik di Boeing Research and Techology, berbicara menge nai teknologi hipersonik me rupakan suatu kemung kin - an yang bisa diwujudkan.

“Saya pikir kita memiliki teknologi itu sekarang dan kita bisa mewu - jud kannya,” ujar Bowcutt ke - pada NBC. Jauh sebelum China, Ameri - ka Serikat (AS) sudah lama me - ngembangkan pesawat hiper - so nik. Washington telah lama me ngembangkan X-51 Waveri - der. Pesawat hipersonik yang di buat oleh Boeing dan mampu ter bang dengan kecepatan 5 Mach atau 5.300 km per jam. Pe - sawat itu dikembangkan ber sa - ma antara Angkatan Udara AS, DARPA, NASA, Boeing, dan Pratt & Whitney Rocketdyne. Pesawat ini pertama kali diuji coba terbang pada 26 Mei 2010. Selain itu, Falcon Hyper - sonic Technology Vehicle 2 (HTV-2) juga merupakan pesa - wat hipersonik yang dikem - bang kan DARPA.

Pesawat tanpa awak itu memiliki peluncur roket dan memiliki kecepatan Mach 20 atau 13.000 mil per jam. Dengan begitu, pesawat itu bisa terbang dari New York City ke Los Angeles kurang dari 12 menit. Pesawat itu diuji coba pada 22 April 2010. Pesawat hipersonik yang mam pu terbang dengan kece - pat an Mach 5 dikendalikan de - ngan mesin scramjet , yakni se - buah mesin jet yang mengisap udara dan menggunakan udara tersebut untuk menyedot ba - han bakar. Mesin semacam ini ha nya dapat digunakan pada ke cepatan Mach 5 dan di atas - nya. Kemudian agar pesawat da pat lepas landas dan meng - udara, diperlukan mesin jet tam bahan.

Beberapa pakar berpen da - pat, mesin jet tambahan itu bisa saja berasal dari sebuah mesin jet konvensional yang lebih dah syat, tapi pada akhirnya di - butuhkan kombinasi kedua jenis mesin. “Selama dua tahun ter akhir ada program yang ber langsung di China untuk me ran cang me - sin tersebut,” kata Profesor Mi - chael Smart, kepala bidang stu - di pendorong hiper so nik di Uni - versitas Queens land. “Itu bakal menjadi tero bos an yang sebe - narnya,” im buh nya. Dalam pandangan Ellis Tay - lor dari Flight Global, perlu “se - tidaknya 15 hingga 20 tahun” se belum pesawat semacam itu realistis dari segi komersial.

“Saat ini sulit melihat pasar pe - sa wat seperti itu,” ujarnya. Menurut Taylor, faktanya, di lihat dari sejarah, harga tiket pe sawat telah menurun, bu - kan nya naik, dan bakal sulit me - na rik penumpang dalam jum - lah ba nyak untuk penerbangan hi personik. “Pesawat itu akan di nik mati kalangan yang sa ngat sa ngat terbatas. Dan tentu akan mem - persulit ekonomi mas ka pai ko - mersial secara sig ni fi kan,” papar nya.

Kemudian, keinginan China mengembangkan pesawat hipersonik tidak lepas dari pe nga - ruh persaingan dengan militer AS. Apalagi, laporan media China menunjukkan para ilmuwan yang berada di balik penelitian pe sawat hipersonik juga be kerja untuk militer Beijing. Itu menunjukkan bahwa China memang berambisi membuat pesa wat hipersonik untuk kepenting an pertahanan.

Andika hendra m





Berita Lainnya...