Edisi 22-05-2019
Membangun Lebak Cerdas Berkarakter


Kabupaten Lebak merupakan wilayah yang memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah di Provinsi Banten. Kerja keras terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Lebak untuk mengubah IPM tersebut dengan menciptakan masyarakat cerdas berkarakter.

Upaya apa saja yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lebak untuk mewujudkan Lebak Cerdas Berkarakter tersebut, berikut wawancara KORAN SINDO dengan Bupati Lebak Iti Oktavia Jayabaya.

Bagaimana Anda mewujudkan Lebak Cerdas Berkarakter?

Saat ini banyak masyarakat Lebak yang berprestasi, baik pada jalur ilmiah maupun olahraga. Artinya, ini dinamakan Lebak Cerdas Berkarakter. Itu yang diharapkan. Saat ini ba-nyak juga guru di Lebak yang disekolahkan keluar negeri, ada yang ke Korea, Amerika Serikat, dan Australia. Artinya ini perkembangan bagus selama lima tahun terakhir. Meski demikian, masih banyak tantangan yang kita hadapi, yaitu banyak ruang kelas belum memadai yang membutuhkan rehabilitasi. Saya sudah sampaikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk kebijakan lima tahun ke depan Kabupaten Lebak, yakni merehabilitasi ruang kelas sekolah yang ada di Kabupaten Lebak. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kita.

Apa yang Anda lakukan untuk meningkatkan IPM?

Untuk meningkatkan IPM, kami mendorong agar masyara kat usia sekolah masuk ke lembaga-lembaga nonsekolah, seperti paket A, B, dan C. Kembali lagi, untuk mendorong agar masyarakat mau bersekolah semua berlandaskan keluarga, jangan melulu pemerintah yang disalahkan. Untuk membangun bangsa ini peran aktif dan dorongan dari keluarga sangat penting.

Upaya lainnya?

Pemerintah saat ini telah menyiapkan pendidikan yang terjangkau murah dan mudah untuk masyarakat Kabupaten Lebak. Kalau melihat statistik memang IPM Lebak sangat rendah. Lebak merupakan wilayah yang menyumbang IPM terendah di Provinsi Banten. Untuk itu, kita tidak bisa bekerja sendiri. Makanya, saya selalu berkoar-koar kepada Pemerintah Provinsi Banten untuk berkon-sentrasi meningkatkan IPM Lebak dan Pandeglang yang ma-sih rendah.

Apa makna Hari Pendidikan Nasional bagi Anda?

Pada hari pendidikan ini kami ingin merefleksikan untuk mengevaluasi diri. Karena bagi kami, percuma kalau pendidikan tinggi, tapi tidak memiliki adab, yaitu akhlakul karimah dan budi pekerti harus menjadi hal yang fundamental. Untuk itu, sistem pendidikan yang kami siapkan disinergikan dengan pondok pesantren (ponpes) guna membangun peradaban atau budi pekerti yang menjadi fundamental dalam kehidupan kita.

Masalah apa yang menjadi penghambat?

Penganggaran kita sudah melebihi dari anggaran yang diamanatkan undang-undang, yaitu sebesar 20%. Namun, kita sudah lebih yakni, mencapai 38%. Itu bukan hanya untuk membangun infrastrukturnya, tetapi juga membangun sumber daya manusianya melalui kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, termasuk juga beasiswa untuk mahasiswa kedokteran dengan 29 orang telah diberikan beasiswa dan 15 di antaranya sudah lulus. Untuk itu, perlu komitmen bersama. Bupati hanya sebagai pengarah kebijakan saja, implementasinya harus ada dukungan dari stakeholder.

Bantuan Provinsi Banten apa sudah signifikan?

Dulu zamannya Pak Rano Karno, Lebak diberikan ang-garan sebesar Rp100-120 miliar, kalau sekarang berkurang. Kemandirian anggaran masih terbatas, kita di Kabupaten Lebak berbeda dengan daerah lain yang sudah menjadi pusat sektor jasa. Lebak merupakan daerah konservasi yang tentu produk domestik regional bruto (PDRB) kita masih dari sektor pertanian. Membangun pendidikan di Lebak sangat tergantung dari pemerintah. Kalau daerah lain sudah masuk dari sektor swasta. Kita mengajak stakeholder pemerintah pusat, provinsi, dan swasta untuk bersama-sama Pemerintah Kabupaten Lebak meningkatkan kualitas dunia pendidikan di Kabupaten Lebak. Pada 2019 ini, Pemerintah Kabupaten Lebak juga memberikan insentif untuk guru-guru honorer. Karena bagi guru honorer di atas 35 tahun tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K), apa - lagi menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Bagaimana anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan?

Memang untuk masalah pendidikan masih banyaknya dari DAK, karena pendapatan asli daerah (PAD) Rp313 miliar dan kemandirian Kabupaten Lebak baru mencapai 18%. Memang kemandirian ada peningkatan pada 2014 hanya 4% dan saat ini sudah 18%.

Teguh mahardika

Berita Lainnya...