Edisi 22-05-2019
Pelaku Penembakan Christchurch Didakwa Terorisme


WELLINGTON - Kepolisian Selandia Baru mendakwa pria pelaku penembakan di dua Masjid Christchurch pada Maret dengan tuduhan melakukan aksi teroris. Ini pertama kali dakwaan teroris diterapkan dalam sejarah negara itu.

Saat serangan teror itu disiarkan live di Facebook, seorang pria bersenjata membawa senapan semi-otomatis untuk menembaki warga Muslim yang sedang salat Jumat pada 15 Maret. Aksi itu menewaskan 51 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Kepolisian menyatakan dakwaan dengan legislasi penindakan legislasi itu diajukan pada Brenton Tarrant. ”Dakwaan itu menyatakan aksi teroris dilakukan di Christchurch,” kata Komisioner Kepolisian Mike Bush dalam pernyataannya dilansir Reuters. Dakwaan itu merupakan pertama kali dilakukan dengan legislasi penindakan terorisme Selandia Baru yang diterapkan pada 2002 setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS).

Dakwaan tambahan untuk pembunuhan dan dua dak - waan lain upaya pembunuhan juga diajukan terhadap Tarrant. Itu artinya, pelaku yang merupakan pendukung supremasi kulit putih itu mendapat 51 dakwaan pembunuhan dan 40 dakwaan upaya pem-bunuhan. Pengacara Tarrant tidak segera merespons dakwaan teroris yang diajukan kepada kliennya itu. Para pakar hukum menyatakan semua dakwaan untuk terorisme tidak memiliki banyak perbedaan praktis, apalagi dakwaan pembunuhan berisiko mendapat hukuman maksimal tertinggi dan ditambah dampak traumatis kepada para korban. ”Dakwaan aksi terorisme itu tentang mengakui dampak buruk pada komunitas dan melukai individu yang ada, tapi tidak secara fisik melukai atau membunuh,” tutur Graeme Edgeler, pengamat hukum.

Tarrant akan hadir di pengadilan pada 14 Juni setelah ditahan pada April dan diperintahkan menjalani penilaian psikiatrik untuk menentukan apakah dia bisa hadir di pengadilan. Kepolisian telah menginformasikan dakwaan baru itu pada sekitar 200 anggota keluarga korban serangan dan korban selamat dalam pertemuan kemarin. Mohamed Hussein Mostafa, yang ayahnya tewas di Masjid Al Noor menyatakan, dia senang tindakan itu diperlakukan sebagai aksi teroris karena komunitas Muslim sering dituduh media dan politisi sebagai pelaku kekerasan sejak serangan 9/11.

Syarifudin




Berita Lainnya...