Edisi 22-05-2019
Ramadan dan Konsumsi Pangan


Pada hakikatnya, puasa Ramadan adalah upaya menahan rasa lapar, dahaga, dan meredam hawa nafsu yang membatalkannya.

Namun pada praktiknya pengendalian nafsu lebih sulit bukan saat kita berpuasa menahan lapar dan dahaga, melainkan justru saat jelang berbuka. Kita sering dibuat “kalap”, ingin rasanya menyantap semua menu berbuka sepuasnya. Secara teori, kebutuhan pangan pada bulan Ramadan akan mengalami penurunan karena perubahan pola konsumsi. Pada bulan tersebut, orang yang berpuasa makan dua kali sehari, saat sahur dan buka puasa. Namun pada bulan lainnya, umumnya mereka terbiasa makan tiga kali sehari.

Seharusnya kebutuhan pangan juga ikut menurun. Tapi faktanya tidak demikian. Per mintaan pangan pada bulan Ra madan dan jelang Lebaran cen derung meningkat, pada akhirnya menggerek tingkat konsumsi. Saat umat muslim di seluruh dunia bergembira menya mbut datangnya bulan Ramadan, ada kecenderungan jika makna bulan puasa akan ber geser dari bulan puasa (fasting ), menjadi bulan berpesta (feasting ). Sudah tradisi, aneka menu disajikan saat bulan puasa lebih bervariasi dan lebih lengkap bahkan berlebih.

Saat berbuka mereka cenderung terobsesi menyiapkan beragam hidangan melebihi kapasitas perut. Kelebihan makanan disimpan di kulkas untuk per sediaan stok menu sahur. Tidak jarang, makanan yang di sim - pan tersebut menjadi basi dan dengan gampangnya kita mem buang ke tempat sampah tanpa merasa bersalah. Salah satu contoh sederhana pem bo - rosan pangan (food waste ). Data pemborosan pangan global sangat mencengangkan. Badan pangan dunia (FAO) pada 2016 merilis, kehilangan pangan dunia akibat salah pola konsumsi hingga 1,3 miliar ton (USD1 triliun setiap tahun). Jumlah tersebut hampir se - pertiga jumlah pangan yang diproduksi dunia.

Demikian, upa ya peningkatan ke ter sediaan pangan seharusnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga fokus menurunkan ke hi langan pangan pada tahap pro duksi, distribusi, dan kon sum si. Kehilangan pangan di negara berkembang lebih banyak pada tahap pre-consumption, se mentara di negara maju lebih banyak terjadi pada tahap consum ption (FAO, 2018). Setali tiga uang, Indonesia tidak luput dari tradisi “buangbuang makanan”. Mengutip dari laman The Economist Inte lligence Unit pada 2016, orang Indonesia rata-rata meng hasilkan sampah ma kanan hingga 300 kg per orang tiap tahun, setara 13 juta ton.

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai runner-up pemborosan makanan setelah Arab Saudi (427 kg) makanan per tahun. Sejalan dengan itu, hasil kajian Parongpong Waste Mana gement tahun lalu, menyebut di Jakarta saja ada tambahan 200 ton sampah saat Ramadan, belum daerah lainnya. Pemborosan pangan pada beras di Indonesia menjadi so rotan karena beras merupakan bahan makanan pokok. Ke hi langan beras juga terjadi pada tahap konsumsi (food waste ). Hal ini berkaitan dengan peri laku konsumen dalam mem per lakukan makanan yang dikonsumsi sehari-hari itu. Te muan FAO (2014) menyebut kehilangan beras pada saat konsumsi dapat terjadi pada berbagai tingkatan meliputi institusi peme rintahan, non pe merintahan, atau pun level rumah tangga.

Rumah tangga merupakan sa lah satu penyumbang food waste di Indonesia. Fenomena ter sebut merupakan hasil hubungan yang kompleks dari pro ses perencanaan, pem belian, penyimpanan, penyiapan, hingga konsumsi makanan. Jumlah food waste beras pada tingkat rumah tangga In donesia kurun 2010-2014 ratarata lebih dari 800.000 ton per tahun. Food waste beras terjadi juga di restoran sebagai salah satu tempat makan favorit pen duduk Indonesia. Temuan Anriany dan Martianto (2013) me nyebut waste nasi yang dihasilkan restoran Sunda lebih besar daripada restoran Padang yaitu sebesar 1,5 kg/ - kap/tahun pada restoran Sunda dan 0,5 kg/kap/tahun pada restoran Padang.

Waste nasi terbanyak adalah yang di konsumsi wanita, tingkat pen di - dikan S-2, level pendapatan di bawah Rp2 juta. Mengacu pada harga beras saat ini kerugian yang ditimbulkan food waste komoditas beras di restoran di Indonesia ditaksir lebih Rp5,7 miliar per tahun. Populasi penduduk Indonesia 260 jutaan (BPS, 2017). Jika dalam sehari membuang sebutir nasi setiap makan atau tiga butir untuk 3 kali makan, maka setiap hari ada 3 butir dikalikan 260 juta atau 780 juta butir nasi terbuang. Hasil perhitungan Yulia (2010) setiap 1 kg beras terdapat sekitar 50.000 butir beras. Jika di hi tung 780 juta dibagi 50.000 se tara 15,6 ton beras terbuang tiap hari.

Bila 1 kg cukup untuk makan 10 orang, maka 15,6 ton x 10 orang maka ada 156.000 orang bisa diberi makan tiap hari. Ada kebiasaan sebagian besar orang Islam bila belanja, tidak sesuai dengan kebutuhan pokok sepanjang Ramadan. Mereka belanja atau memasak makanan yang baru, se mentara masih ada makanan layak konsumsi dengan cukup dihang atkan saja. Hal lainnya yang kerap menyebabkan makanan terbuang percuma selama Ramadan, yakni tradisi rutin semisal buka puasa bersama. Restoran, hotel, ataupun masjid, acara buka bersama kerap berakhir jadi pem bo rosan makanan. Beragam menu dihidangkan dalam jumlah banyak, sementara kemampuan daya cerna segitu-segitu saja.

Dengan jargon all you can eat , restoran dan hotel me nye diakan menu prasmanan porsi lebih banyak dari perkiraan. Semestinya, bisa dikalkulasi daya tampung perut mereka, supaya makanan yang akan terbuang bisa dikurangi. Dampak terburuk dari sampah makanan menyebabkan kerusakan lingkungan, me ningkatnya gas metana, pem borosan, ancaman krisis pa ngan, hingga vektor penyakit yang mengantar virus, lalat dan tikus. Ibadah puasa selayaknya dijadikan momentum untuk mengubah pola makan kita selama ini yang tidak sehat, diubah dengan mencontoh pola makan ala Rasulullah SAW : makan menu yang halal dan sehat (halalan thayyiban ) dan tidak berlebihan.

Rasulullah berbuka puasa dengan kurma dan air putih. Gizi kurma me - ngandung gula sederhana yang mudah dicerna oleh tubuh. Setelah seharian berpuasa adalah sangat keliru kalau kita berbuka dengan makanan yang mengandung gula kompleks dalam jumlah yang ba nyak. Tubuh kita menjadi rentan pe nyakit karena perilaku makan yang salah saat berbuka berpuasa dengan mengon sumsi makanan secara berlebih. Momentum puasa mengajarkan kita untuk menjadi insan takwa secara individu dan so sial (kolektif). Pada pua sa Ramadan inilah kesempatan kita meninggalkan kebiasaan buruk membuang-buang ma kanan ka rena berbelanja dan mengonsumsi pangan secara ber le bihan.

Kita kendalikan nafsu be lanja pangan berlebih agar tak berakhir menjadi hal mubazir. Tidak jarang, dengan imingiming sale, dan diskon sering membuat kita “lapar mata”. Kelebihan rezeki, se baik nya sisi hkan untuk mem bantu 19,4 juta orang saudara kita yang masih menderita rawan pangan. Puasa Ramadan dapat di jadikan pijakan awal untuk meningkatkan kesadaran pen tingnya berhemat dan cermat terhadap pangan.

Marilah kita bijak dalam mengonsumsi ma kanan dan cerdas mengelola pangan agar jumlah sampah makanan yang terbuang sema kin berkurang. Kampanye hemat pangan dimulai diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan peran pemangku kebijakan sangat penting dalam per bai kan konsumsi pangan Indonesia.

JOJO
Mahasiswa Doktoral Ilmu Ekonomi Pertanian IPB







Berita Lainnya...