Edisi 22-05-2019
Alquran dan Aktualisasi Peran Kenabian


Nuzul (turunnya) Al-quran di bulan Ramadan merupakan “anugerah dan berkah terindah” dari Allah SWT untuk umat manusia, khususnya umat Islam.

Semua ayatnya bagian intan berlian yang dari sudut pandang mana pun di - lihat dan dibaca selalu memancarkan kilauan cahaya yang indah, menarik, dan unik. Bagaimana kilauan cahaya Alquran itu menyinari, mencerahkan, dan mencerdaskan umat sehingga nilai-nilai dan pesan-pesan moral Alquran itu membumi, mewarnai, dan meng inspirasi kehidupan berperadaban maju? Jika Rasulullah itu ibarat “Alquran ber jalan”, bagaimana umat me res - pons, meyakini, dan meng - aktua lisasikan peran kena bian - nya dalam konteks sosial dan perubahan zaman?

Lima Peran Kenabian

Peran kenabian sangat pe nting dipahami agar umat, khu - sus ulama sebagai pewaris nabi, dapat meneladani dan me mainkan peran kenabian dalam membumikan Alquran. Peran kenabian (prophetic roles ) di - jelaskan oleh Allah dalam kitab suci-Nya. “Wahai Nabi! Se - sungguhnya Kami meng utusmu untuk menjadi saksi, pem - bawa kabar gembira dan pem - beri peringatan, dan untuk men jadi penyeru kepada (aga - ma) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang mene rangi.” (QS al-Ahzab [33]: 45-46) Peran kenabian itu sejatinya merupakan manifestasi dari visi dan misi kerasulan, yaitu mewujudkan Islam rahmatan li al-’alamin (sebagai agama rahmat bagi semesta raya).

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Dengan kata lain, visi dan misi kerasulan Muhammad SAW, dengan Alquran dan as- Sunnah sebagai sumber acuan dan referensinya, dapat “dibumi kan” dan diteladankan me la - lui aktualisasi peran kenabian. Ada lima peran kenabian yang menjadi faktor penentu keberhasilan realisasi visi dan misi Islam tersebut. Pertama , peran sebagai saksi dan bukti (syahid ) kebenaran Alquran. Dalam konteks ini, Nabi SAW menjadi saksi dan bukti lang - sung dan faktual dari nilai-nilai Alquran.

Perintah salat misalnya langsung diamalkan dan dicontohkan oleh Nabi, se hing ga para sahabat diinstruk si kan untuk mengikuti tata caranya. “Salatlah kalian, se ba gaimana kalian melihat aku salat.” (HR al- Bukhari). Kedua, peran sebagai penyampai kabar gembira (mu - basy syir ). Peran kenabian ini menghendaki kompetensi sebagai motivator yang dapat memberikan harapan masa depan yang lebih baik. Peran ini menuntut kemampuan meya - kinkan ada kehidupan sesudah mati (akhirat) sehingga umat termotivasi untuk berbuat baik dan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat ) de - mi mengharapkan rida Allah dan surga-Nya. Dalam hal ini, Alquran sarat dengan kabar gembira dan harapan masa depan yang sangat menjanjikan bagi orang mukmin.

Misalnya saja, “Per um pa - maan taman surga yang di jan - jikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungaisungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasa nya, dan su - ngai-sungai khamar (anggur yang tidak mema buk kan) yang lezat rasanya bagi pe minumnya dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka mem - peroleh segala ma cam buah-buahan dan ampun an dari Tuhan mereka.” (QS Muhammad [47]:15) Ketiga, peran sebagai pem be ri peringatan (nadzir ). Selain dimotivasi, umat perlu juga diberi peringatan terhadap ada nya hukuman setimpal dan si k sa di akhirat kelak agar tidak meanggar aturan, tidak me la ku kan kemaksiatan dan ke mung karan seperti korupsi dan ber laku curang.

Peran ini sangat pen ting diaktualisasikan deng an penegakan hukum secara adil supaya masyarakat tertib, taat asas, disiplin, aman, dan damai. Keempat, peran sebagai pe - nyeru (dai) kepada agama Allah. Alquran diturunkan kepada umat agar difungsikan antara lain sebagai petunjuk (huda ), pembeda (furqan ) antara ke be - naran dan kebatilan, dan sebagai penjelas (bayyinat ) antara satu ayat dengan ayat lainnya. Peran ini menghendaki kom petensi komunikasi dan edukasi yang efektif dalam men cer das - kan dan men cerahkan akal sehat umat.

Dengan demikian, dak wah amar makruf nahi mun kar merupakan tugas mu lia setiap mukmin dalam rangka pembumian Alquran. Kelima, peran sebagai cahaya yang menerangi atau pene rang jalan dan pen ce rah ke hidupan. Alquran me ru pakan cahaya (nur ) yang sarat dengan ajaran dan pesan yang men cerahkan. Karena itu, peran ke nabian ini meng ha ruskan umat tampil menjadi inspirator yang menggerakkan hati dan pikiran untuk meraih cita-cita mulia dan berprestasi tinggi. Nabi SAW membuktikan diri sebagai pen - cerah dan inspirator sejati yang paling sukses dalam meme nga - ruhi dan meng ge rak kan umat ma nu sia sehingga kata-kata dan perilaku beliau diikuti dan ditransmisi (di ri wayatkan) dari generasi ke ge nerasi dalam Ha dits yang ke mudian dibukukan dalam ba nyak kitab Hadits seperti Shahih al-Bukhari, Sha hih Muslim, Sunan at-Tur mud zi, Sunan Abi Dawud, Sunan an-Nasa’i, dan sebagainya.

Menuju Peradaban Alquran

Perintah pertama Alquran yang turun kepada Nabi SAW ketika berkhalwat (berkontemplasi) di Gua Hira, Jabal Nur , sejatinya memberi isyarat kuat bahwa umat Islam harus menjadi umat pembaca (ummah qari’ ah ) dalam arti luas. Tidak hanya membaca yang tersurat seperti ayat-ayat Quraniyyah dan aneka referensi ilmu pe - ngetahuan, tetapi juga membaca yang tersirat dan terdapat dalam ayat-ayat kauniyyah dengan segala tanda keagungan dan kebesaran Allah di alam raya.

Karena itu, perintah iqra’ dalam surat al-’Alaq: 1-5 tidak di batasi objeknya, tetapi di pagari spirit membacanya bi ismi Rabbik (dengan menyebut nama dan semata-mata karena mengharap rida-Nya) sehingga melahirkan etos akademik dan intelekt ualisme: menelaah, meng kaji, mene liti, dan me ngembangkan sains dan tek no logi. Iqra’ bi ismi Rabbik me ru pakan landasan spi - ritual dan moral dalam pengem - bangan per adaban Alquran. Menurut Nasr Hamid Abu Zayd, jika peradaban Yunani adalah peradaban akal (pe mikiran), sementara peradaban Me sir pra-Islam adalah per ada b - an pascakematian, maka peradaban Islam adalah per adaban teks.

Peradaban teks sen diri sejatinya merupakan hasil dialektika antara interaksi umat dengan Kitab Suci, realitas sosial, dan semesta raya melalui proses pem - bacaan kritis dan kreatif. Dengan kata lain, pem bacaan Alquran yang dikon teks tualisasikan de - ngan rea li tas sosial dan ayat-ayat semesta meniscayakan lahirnya per adab an berkemajuan dan ber keadaban. Di era post-truth ini, inspirasi dan nilai-nilai kebenaran Al - quran harus tetap menjadi referensi umat dalam mengelola kehidupan menuju tegaknya peradaban Alquran itu sendiri.

Tanpa cahaya terang Alquran, umat manusia akan mengalami disorientasi dalam menapaki jalan kehidupannya. Karena, sesuai dengan fungsi utama nya, Alquran membumi untuk memberi petunjuk yang jelas dan peta jalan kehidupan yang lurus dan benar menuju keba hagiaan hakiki, duniawi, dan ukhrawi. Tidak berlebihan apabila umat Islam selalu menjadikan Al quran sebagai “imam” yang membim - bing perjalanan hi dup nya dalam semua aspek ke hi dupan. Jika Alquran di pan dang sebagai “jamuan spesial” Allah (ma’dubatul lah ), maka umat harus dapat menikmati jamuan spiritual itu sebagai energi positif untuk melakukan perubahan progresif menuju terwujudnya peradaban Al quran, yaitu per adaban ber ba sis iman, ilmu, dan amal saleh (karya pro - duktif yang ber ma n faat dan ber - maslahat ba gi umat manusia).

Meski sedang dipenjara, mufasir Sayyid Qutub dalam pengantar tafsirnya, Fi Zhilal al-Quran, menyatakan bahwa hi dup di bawah naungan Alquran itu sungguh nikmat. Sudahkah umat merasa nikmat dengan membaca dan bertadarus Al quran sehingga pembacaannya membuahkan spirit pem ba ngunan peradaban Alquran? Ma ri kita mulai menikmati pem bacaan Alquran dengan spirit aktualisasi lima peran kenabian tersebut dan dengan semangat menjadi umat terbaik (khair ummah ) di segala lini kehidupan dengan teladan kedamaian, kerukunan, persaudaraan, dan persatuan.

MUHBIB ABDUL WAHAB
Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan Institut PTIQ




Berita Lainnya...