Edisi 22-05-2019
Kampanye Antirokok Gerus Pendapatan Petani


JAKARTA – Kampanye menaikkan harga rokok dan kawasan tanpa rokok (KTR) yang dikumandangkan para penggiat antirokok menggerus pendapatan petani. Tak hanya itu, kampanye ini juga berpotensi memang kas pendapatan negara.

Ketua Asosiasi Petani Tem - bakau Indonesia (APTI) Soe se - no mengatakan, kampanye an - ti rokok selama beberapa tahun be lakangan ini telah me me nga - ruhi penurunan per min ta an rokok hingga kurang lebih 6 miliar batang per tahun. “Mi sal - kan 1 batang rokok isinya 1 gram tembakau berarti ada 6.000 ton tembakau kering yang terancam hilang akibat pe nurunan ini,” katanya di Ja karta, kemarin. Jika 1 hektare (ha) lahan pe - tani menghasilkan 1 ton tem - bakau kering, maka ada sekitar 6.000 ha lahan tembakau yang hilang tidak terserap.

“Artinya tidak sedikit petani tembakau yang akan kehilangan mata pen cariannya. Sementara sam - pai dengan saat ini harga tem - bakau lebih tinggi di ban ding - kan harga komoditas lain di musim kemarau,” kata Soeseno. Soeseno juga menyam pai - kan, setiap daerah memiliki ka - rakter lahan berbeda-beda. Ka - rena itu, petani tembakau tidak bisa dipaksakan mengganti ta - nam an tembakau mereka de - ngan tanaman lainnya karena belum tentu kesejahteraan pe - tani meningkat atau tetap stabil. Selain mengancam keter se - dia an mata pencaharian pe ta - ni, kampanye penggiat an ti - rokok ini juga berpotensi besar menggerus pendapatan peme - rintahan.

Jika dihitung secara eko nomisnya dari 6 miliar ba - tang rokok akan menghasilkan sekitar Rp6 triliun. Dari angka tersebut, se ba - nyak Rp4 triliun masuk ke ne - gara melalui cukai dan pajak ro - kok. Jadi, kata dia, kalau kam - panye rokok terus digaungkan, pemerintah akan kehilangan pendapatannya kurang lebih sebesar Rp4 triliun per tahun. Menurutnya, harapan pe tani itu sederhana. Dengan har ga ro - kok berapa pun, tem bakau pe ta - n i b isa diserap de ngan harga ting gi atau minimal di atas biaya pro duksi. Karena harga rokok ma hal belum tentu meng un - tung kan ke petani. “Ini karena dana bagi hasil cu kai dan hasil tem bakau (DBHCHT) yang di - ha silkan dari produk tembakau ti dak se penuhnya dapat di nik - mati pe tani tembakau,” katanya.

Ketua Aliansi Masyarakat Tem bakau Indonesia (AMTI) Bu didoyo me ngatakan, masif - nya kam panye antirokok sa ngat berdampak kepada stake holder tembakau, salah sa tu nya sangat dirasakan petani tem bakau. “Padahal seha rus nya kita bisa saling meng hor mati. Tidak per - lu ada kam pa nye yang me nyua - rakan bahwa rokok merupakan produk yang harus dikucilkan,” katanya. Budidoyo berharap adanya per hatian pemerintah pusat mau pun daerah dalam me nyu - sun peraturan dan kebijakan terkait produk hasil tembakau yang adil dan berimbang.

Sudarsono