Edisi 22-05-2019
Dedikasikan Hidup untuk Balap


VIENA– Mantan pembalap Formula One (F1) Niki Lauda mengembuskan napas terakhirnya pada usia 70 tahun di kediamannya di Viena, Austria, kemarin. Kabar itu membuat banyak pihak terkejut.

Dalam sebuah pernyataan dari keluarga Lauda bahwa Lauda mening - gal pada Senin (20/5). Kondisi kesehatan legenda F1 ini me - mang terus menurun selama sembilan bulan terakhir setelah menjalani operasi transplantasi paru-paru. Operasi itu berjalan sukses, tapi membuat Lauda dirawat selama dua bulan. Pada Januari 2019, dia kembali masuk rumah sakit lantaran terjangkit infeksi flu hingga akhirnya meninggal di atas tempat tidurnya. “Dalam duka yang dalam, kami mengumumkan bahwa Lauda yang kami cintai telah meninggal dengan damai pada hari Senin (20/5).

Prestasi uniknya sebagai atlet dan wirausahawan akan tetap tak terlupakan. Dorongan tak kenal lelah, keterusterangan, dan keberaniannya tetap menjadi contoh dan tolok ukur bagi kita semua. Dia adalah suami, ayah, dan kakek yang penuh kasih dan perhatian jauh dari masyarakat,” bunyi pernyataan keluarga itu, dilansir Crash. Sepanjang kariernya di ajang F1, Lauda telah mengoleksi tiga gelar juara dunia pada 1975, 1977, dan 1984. Dia total memenangkan 25 seri dari 177 balapan. Tapi, siapa yang menyangka Lauda mengawali karier balapnya sebagai paydriversebelum namanya dikenang sebagai legenda F1.

Lauda meminjam uang dengan jaminan polis asuransi jiwa untuk mengamankan kursi balap di Formula 2 dan Formula 1, sebelum dia mampu tampil impresif di lintasan. Pada 1974, Lauda bergabung dengan Ferrari dan mulai membuktikan diri sebagai pembalap yang sangat berbakat dan menjanjikan. Setelah menandatangani kontrak dengan Ferrari, Lauda langsung bisa melunasi utang dari asuransi jiwanya. Lauda menjadi juara dunia F1. Apalagi, hidupnya hampir berakhir ketika mengalami kecelakaan fatal pada GP Jerman 1976. Wajahnya terbakar parah dan paruparunya rusak saat terjebak dalam kendaraannya yang tengah dilalap api.

Setelah itu, performanya mulai menurun dan sempat mengumumkan pensiun dari dunia balap F1 pada 1979. Namun, pada 1982, Lauda melakukan comebackdan merebut gelar juara dunia F1 ketiganya pada 1984. Meski sudah tidak sebagai pembalap, hidupnya tetap masih membayangi F1. Pada 2012, Lauda sempat menjadi ketua noneksekutif di tim F1 Mercedes. Dia menjabat posisi itu hingga 2020. Dia dianggap berkontribusi besar atas dominasi skuad Panah Perak di Formula 1 sejak era turbohibrida V6. Sayang, tugasnya harus berakhir lebih cepat.

Beberapa pihak yang terlibat di F1 mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Lauda, termasuk tim Scuderia Ferrari, tim yang membawanya menjadi juara dunia pada 1975 dan 1977. Menurut mereka, mantan pembalap asal Austria ini merupakan juara sejati. “Semua orang di Ferrari sangat sedih mendengar berita kematian sahabat kami, Lauda. Dia memenangkan dua dari tiga kejuaraan dunia - nya bersama kami dan akan selalu ada di hati kami dan di antara semua penggemar Ferrari,” tulis pernyataan tim asal Italia tersebut.

Raikhul amar