Edisi 24-05-2019
Kanada Ambil Kontainer Sampah dari Filipina


MANILA– Pemerintah Kanada menyewa perusahaan Bollore Logistics Canada untuk mengambil kembali 69 kontainer berisi sampah di Filipina.

Langkah Kanada itu setelah mendapat protes dari Manila terkait keberadaan puluhan kontainer yang telantar di pelabuhan Filipina. Pemerintah Filipina memprotes keras Kanada atas masalah itu dan menarik duta besarnya dari Kanada. “Bollore Logistics Canada akan membawa kembali dengan aman sampah itu ke Kanada sesegera mungkin,” papar pernyataan pemerintah Kanada, dilansir Reuters. “Pemindahan akan diselesaikan hingga akhir Juni karena sampah itu harus dengan aman diperlakukan untuk memenuhi standar kesehatan dan keselamatan Kanada,” ujar pemerintah Kanada.

Kanada menyatakan, sampah yang diekspor ke Filipina antara 2013 dan 2014 itu merupakan transaksi komersial yang dilakukan tanpa setahu pemerintah. Kanada telah sepakat mengambil lagi sampah itu dan dua negara dalam proses menangani pemindahannya. Namun, Kanada telah melewati batas waktu 15 Mei yang ditetapkan Manila untuk pengiriman kembali kontainer sampah itu. Hal itu membuat Filipina menarik duta besarnya dari Kanada pekan lalu. Menteri Luar Negeri (Menlu) Kanada Chrystia Freeland telah berbicara dengan Menlu Filipina Teodoro Locsin tentang masalah sampah itu pekan lalu. “Seperti saya katakan kepada Menlu mereka pekan lalu, kami berkomitmen menyelesaikan isu ini sesegera mungkin. Hari ini adalah langkah maju yang penting untuk menyelesaikan itu,” ujar Freeland.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pun kehilangan kesabarannya dengan proses panjang pengembalian kontainer sampah itu. Duterte meminta pemerintahannya menyewa perusahaan pengiriman swasta untuk mengirim kontainer sampah itu kembali ke Kanada dan meninggalkannya dalam wilayah perairan Kanada jika negara itu menolak menerima sampah tersebut. “Filipina sebagai bangsa merdeka dan berdaulat seharusnya tidak diperlakukan seperti sampah oleh bangsa asing lainnya,” papar juru bicara kepresidenan Filipina Salvador Panelo. Panelo menambahkan, “Tentu, Kanada tidak menangani isu ini atau negara kami secara serius. Rakyat Filipina merasa sangat terhina dengan perlakuan Kanada pada negara ini sebagai lokasi pembuangan sampah.”

Filipina telah mengajukan sejumlah protes diplomatik kepada Kanada sejak pengadilan pada 2016 memutuskan bahwa sampah itu harus dikembalikan ke Kanada. Kontainer itu memiliki label berisi plastik untuk didaur ulang di Filipina, tapi diisi dengan beragam sampah, termasuk popok, surat kabar, dan botol minuman. “Kita akan mempertahankan kehadiran diplomatik yang berkurang di Kanada hingga sampahnya terikat kapal di sana,“ papar Menlu Filipina Teodoro Locsin di Twitter, pekan lalu, setelah batas waktu 15 Mei terlampaui. Locsin juga menyebut para diplomat Filipina tidak cukup bertindak untuk memastikan Kanada mengambil kembali sampah itu.

Dia menuduh para diplomat melawan presiden mereka untuk menjaga hubungan bersahabat dengan Kanada. Duterte, 74, juga mengancam akan membuang sampah itu di depan Kedubes Kanada di Manila. Isu itu bukan satu-satunya masalah yang memperburuk hubungan kedua negara. Tahun lalu, Duterte memerintahkan militer membatalkan ke - sepakatan senilai USD233 juta untuk membeli 16 helikopter dari Kanada, setelah Ottawa menyatakan kekhawatiran helikopter itu dapat digunakan untuk memerangi pemberontak. Masalah sampah telah menjadi isu lintas negara, baik sampah plastik maupun sampah rumah tangga lainnya.

Sejak 1950, saat plastik pertama kali diproduksi, manusia telah memproduksi 9,1 miliar ton plastik. Jumlah tersebut sebanding dengan bobot sekitar 90.000 Menara Eiffel atau 1,2 miliar gajah Afrika dan dapat mengubur Kota Manhattan di Amerika Serikat (AS) sedalam dua mil. Sekitar 9% plastik telah didaur ulang dan 12% dibakar. “Itu artinya 5,6 miliar ton mengotori planet, baik dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA), laut, maupun perdesaan,” papar laporan yang disusun para peneliti.

Syarifudin