Edisi 24-05-2019
Mencari Berkah di Masjid Sabilillah


Matahari musim kemarau mulai memancarkan cahaya redup, saat senja mulai melangkah menjemput petang. Alunan suara beduk raksasa yang berpadu dengan kentungan kayu, terdengar membahana dari sudut Masjid Sabilillah.

Tak berselang lama, suara azan magrib berkumandang dengan lembut dan memancar dari menara masjid yang menjulang tinggi. Suaranya yang merdu menjadi penanda waktunya salat magrib telah tiba. Umat muslim berjalan menuju masjid untuk menjalankan saat berjamaah. Hal sama juga dilakukan Taufan, 33, bersama keluarganya. Mereka bersemangat mengambil air wudu, lalu mengikuti salat berjamaah di masjid yang megah itu dengan penuh rasa syukur dan kekhusyukan. “Alhamdulillah bisa berbuka puasa di Kota Malang,” ujar Taufan, disambut senyum kedua anak beserta istrinya. Mereka adalah keluarga dari Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, yang kebetulan baru selesai berbelanja di Pasar Besar Malang (PBM).

Sambil melahap takjil, berupa es buah yang diwadahi gelas plastik, keluarga ini berbuka puasa di pelataran Masjid Sabilillah. “Setiap Ramadan, kami selalu datang ke Kota Malang, untuk berbelanja kebutuhan Lebaran,” ungkapnya. Bukan hanya berbelanja, mereka juga sengaja datang berkunjung ke Masjid Sabilillah untuk salat dan menantikan waktu berbuka puasa, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke Jember. Dia mengaku merasa ada kedamaian saat mengambil air wudu dan salat di masjid yang ada di Jalan Achmad Yani, Kota Malang, tersebut.

“Selain istirahat sebelum meneruskan perjalanan pulang, kami sekeluarga sengaja salat di masjid ini karena kami merasa bisa lebih khusyuk dalam salat,” tuturnya. Masjid Sabilillah yang berdiri megah di atas lahan 8.100 meter persegi (m2) bukan sekadar masjid biasa. Masjid ini juga menjadi monumen perjuangan keberanian Arek-arek Malang yang tergabung dalam Laskar Sabilillah, dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Sesuai namanya, masjid ini dibangun sebagai penanda perjuangan Laskar Sabilillah. Bangunan masjid ini terdiri dari beberapa bagian, yakni bangunan induk masjid, menara, dan bangunan pelengkap seperti kantor dan tempat wudu. Menurut Sekretaris Takmir Masjid Sabilillah, Akhmad Farkhan, sebelum dibangun masjid, lahan tersebut merupakan hamparan lahan kosong.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, di atas lahan ini berdiri sebuah gubuk yang menjadi markas bersama antara Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah. Di markas yang sederhana itulah kedua laskar tempat para Arek-arek Malang mewadahi perjuangannya, sering melakukan pengaturan strategi perjuangan bersama melawan penjajah Belanda. Akhmad menyebutkan, pada masa agresi militer Belanda dan pertempuran 10 November 1945, Arek-arek Malang juga turut berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah. “Laskar Sabilillah dipimpin KH Zainul Arifin, yang akhirnya memprakarsai membangun masjid ini sebagai bentuk monumen perjuangan,” ungkapnya.

Rencana pembangunan masjid sebagai bentuk monumen ini sudah diawali sejak 1968, tetapi baru bisa terealisasi pada 1974. “Dahulu sempat ada rencana dibangun monumen perjuangan, tetapi akhirnya dipilih masjid, karena bisa difungsikan dan berguna untuk masyarakat,” ungkapnya. Bangunan masjid ini sendiri penuh dengan penanda khusus. Seperti pilar utama penyangga kubah yang berjumlah sembilan pilar besar, sebagai penanda Wali Songo. Di sekelilingnya dikitari pilar luar berjumlah 17 buah sebagai penanda tanggal kemerdekaan RI. Sementara kubah masjid berdiameter 20 meter, yang melambangkan sifat-sifat Tuhan.

Tinggi lantai hingga atap mencapai delapan meter yang menyimbolkan bulan Agustus, sedangkan menara masjid mencapai 45 meter sebagai simbol tahun kemerdekaan 1945. Semangat perjuangan memerdekakan Indonesia dari belenggu penjajahan masih terus diemban oleh pengelola masjid ini. Bahkan, berkat pengelolaan yang baik, pada 2016 Menteri Agama memberikan penghargaan sebagai percontohan nasional untuk masjid besar. Akhmad menyebutkan, banyak kegiatan yang dibangun melalui yayasan masjid ini. Baik bidang agama, pendidikan, maupun sosialekonomi. Bidang agama lebih berfokus kepada kegiatan ketakmiran, perpustakaan, majelis taklim, lembaga konsultasi, dan KBIH.

Sedangkan di bidang pendidikan, yayasan masjid mengelola berbagai jenjang lembaga pendidikan mulai tingkat taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA, hingga pondok pesantren untuk tingkat SMA. Bidang sosial lebih fokus mengurus amil zakat, penitipan anak, dan medical service . Sementara di bidang ekonomi, fokus membina koperasi serta minimarket dan pujasera yang nantinya akan dikembangkan di masjid-masjid sekitarnya. Pujasera yang ada akan dikembangkan menjadi restoran dengan tetap membina kelompok usaha kecil-menengah (UKM).

“Kami bina masjid-masjid di sekitar untuk membuka minimarket. Tujuannya memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan memandirikan masjid tersebut,” ujar Akhmad.

YUSWANTORO
Malang