Edisi 24-05-2019
Mengawal Pemilu dengan Mulus


Ibarat pesawat hendak mendarat mengakhiri penerbangan, proses pemilihan umum (pemilu) yang panjang dan mahal itu mari kita kawal bersama agar mendaratdan berakhir dengan mulus (soft landing).

Telah banyak ongkos harta dan nyawa dalam pelaksanaan proses pemilu ini. Tidak kurang negara mesti me - ngeluarkan anggaran Rp25 triliun, belum termasuk dana yang dike - luarkan para peserta pemilu. Bisa jadi jumlahnya mencapai angka yang sama. Di luar ongkos materi, pe - tugas lapangan yang me ning gal sedikitnya 500 orang. Lalu, ong - kos sosial di mana masyarakat terbelah dan di antara mereka saling mencaci pihak yang ber - beda pilihan. Feno me na ter ak hir ini adalah muncul demo di depan Kantor Bawaslu Jakarta yang diwarnai tin da kan kekerasan. Dalam demo terakhir ini bercampur antara pendukung pasangan calon (paslon) nomor urut 02 dan penumpang gelap ingin membuat keka - cauan sehingga demo kemarin tidak jelas target dan sasaran apa yang diraihnya.

Beruntung, Prabowo segera menyadari dan membuat pernyataan bahwa pendemo yang buat ke - kerasan bukan dari pen du - kung paslon 02 sehingga bisa dibedakan antara demo politik dan gerombolan preman. Selanjutnya giliran pe ne - gak hukum yang mesti me - nindak dan mengadili para per usuh dengan tegas. Mereka telah merusak ritual demo - krasi dan sebagian bahkan memanipulasi demo yang ru - suh itu atas nama jihad. Kita tunggu hasil final dari Mahkamah Konstitusi (MK) siapa yang dinyatakan pemenang, karena paslon 02 sudah mengajukan gugatan.

Siapa pun nanti yang dinyatakan pe menang, secara moral dan po litis sesungguhnya, baik Pra bo wo maupun Joko Widodo (Jokowi), keduanya sebagai pejuang dan pemenang demo krasi. Bahkan, Partai Gerindra meraih kenai - kan angka pe milih sangat me - non jol. Arti nya, rakyat menaruh ke per ca yaan tinggi pada par tai - nya dan juga pada posisinya sebagai paslon 02. Dengan pero - lehan ini, baik Jokowi maupun Pra bowo, keduanya adalah pu - tra dan pemimpin bangsa yang diberi kepercayaan dan pe luang bersama-sama mem ba ngun bangsa dan negara. Pemilu ini berarti menan - dai 20 tahun reformasi, 1998- 2019, sebuah rentang waktu satu generasi.

Sebuah pemilu yang berpeluang menandai berakhirnya generasi pemain era orde baru, lalu beralih pada generasi pascaorde baru. Te - tapi, pada akhirnya kita tung - gu dan lihat saja nanti, apakah para kabinet yang akan di tam - pilkan masih generasi lama atau representasi generasi mu - da, generasi milenial. Apakah presiden nanti akan mem ben - tuk kabinet profesional atau - kah masih didikte oleh para parpol pendukungnya, kita belum tahu. Tentu saja tak ada salahnya parpol pendukung menyodorkan kader-kader - nya masuk kabinet asalkan ti - dak merusak prinsip merito - ktasi dan profesionalisme. Siapa pun presiden terpilih nanti, sesungguhnya merupa - kan langkah awal untuk me - menuhi janji-janjinya selama kampanye.

Oleh karena itu, sia - pa pun presidennya nanti mesti kita dukung demi ke rukunan dan kemajuan bang sa. Energi kita sudah banyak terkuras un0 tuk berkompetisi dan be r kon - flik dengan ongkos material serta sosial yang mahal. Menjadi presiden dalam negara demokrasi tidak bisa semena-mena. Di sana ter dapat lembaga legislatif, ada Komisi Pemberantasan Ko rup si (KPK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pers, dan masyarakat, yang setiap saat mengawasi. Di era keter bu kaan ini seorang pejabat tinggi negara hampirhampir tak lagi memiliki privasi. Dengan demikian, tak ada yang lebih penting dilakukan kecuali siapa pun yang me - ngemban jabatan publik mesti bekerja dengan baik, profesional.

Sementara itu, rakyat harus ikut menjaga kerukunan dan kedamaian dengan tetap bersikap kritis. Catatan kecil yang me narik, sementara ini berbagai kepala negara dunia telah menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan paslon nomor 01 Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin. Tentu saja mereka punya pertimbangan matang, tidak sembarangan mengeluar kan pernyataan resmi se - bagai kepala negara, sebab jika salah akan mencoreng harga diri mereka.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah