Edisi 24-05-2019
Alquran sebagai Sarana Menyatukan Perbedaan


Nuzulul Quran merupakan hari bersejarah bagi umat Islam, yakni sebagai hari diturunkannya Alquran secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh ke Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadan.

Allah SWT menjelaskan dalam Surah Al Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadan adalah bulan di mana di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan batil)..” Itu maknanya bahwa Kitab Suci umat Islam memang lahir pada bulan suci Ramadan. Karena itu, umat Islam harus memuliakan Alquran dengan membaca, memahami, merenungi, dan mengamalkan isi yang terkandung di dalam kitab suci tersebut. Terlebih membaca Alquran di bulan Ramadan maka pahalanya akan dilipatkangandakan.

Imam al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at- Tirmidzi atau dikenal sebagai Imam Tirmidzi mengatakan, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mem - baca satu huruf dari kitab Allah, maka dia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu akan dilipat - ganda kan menjadi sepuluh. Aku tidak - lah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf”. Hadis itu menunjukkan betapa mulianya Alquran jika dibaca pada bulan Ramadan sebab Allah akan memberikan 10 kebaikan dalam setiap hurufnya. Karena itu, umat Islam harus memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan memperbanyak membaca Alquran. Terlebih, Alquran itu hadir di muka bumi untuk me - nyempurnakan manusia.

“Di bulan suci Ramadan, 15 abad lalu Alquran diturunkan kepada se - orang hamba-Nya yang dipilih di tengah masyarakat jahililah agar mem - bawa ajaran yang memberikan ke - sempurnaan manusia baik dari teologi, syariah, ritual ibadah, serta peradaban moral akhlak dan kemasyarakatan,” ungkap Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama(NU) SaidAqilSirajsaatperingat - an Nuzulul Quran dan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa di kantor pusatPBNU, Jakarta, kemarin. Said juga menyebut bahwa Alquran hadir menjadi syahadat, menjadi saksi kebenaran Islam, serta kebenaran universal Allah SWT yang diturunkan melalui wahyu dalam Alquran. Kiai Said menambahkan, Alquran sebagai tiang agama berbahaya kalau tidak dipahami dengan benar.

“Alquran mengatakan agama harus dipegang para ulama yang mumpuni di bidangnya. Kalau sudah paham, memberikan pengarahan agar umat kembali ke jalan yang benar. Itu tugas para Kiai,” ucapnya. Mutasyar PBNU KH Ma’ruf Amin juga mengingatkan umat Islam untuk menjadikan Alquran sebagai pedoman, sumber inspirasi, landas - an berpikir, serta kaidah penuntun di kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. “Semuanya berbicara menggunakan Alquran sebagai sum - ber nya, tapi tidak jarang terjadi per - bedaan, bahkan benturan. Memang karena ini soal penafsiran yang ber - beda,” ujar KH Ma’ruf. Meski begitu, sepanjang perbeda – anitubisadisikapidenganpenuh toleran sebagai satu perbedaan, seben ar n ya itu tidak masalah. Sebaliknya, jika per - bedaan itu disikapi dengan tidak tole - ran, intoleran ini yang akan menjadi masalah.

“Banyak ayat Alquran yang di - maknai berbeda. Ketika Alquran me - ngatakan mengenai langit, misalnya. Langit ada tiang atau tidak? Bunyi ayatnya sebenarnya sama. Tapi, penafsirannya berbeda,” ungkap Kiai Maíruf. Dia pun mengatakan bahwa Allah memberikan wahyu kepada Rasulullah lewat Alquran untuk meng h asilkan kesepakatan-kesepakatan. “Kita itu oleh Alquran diberikan kesepakatankesepakatan. Bahwa negara kita, Pancasila adalah kesepakatan, UUD 45 adalah kesepakatan. Negara kita itu adalah kesepakatan. Oleh karena itu, sebagai umat Islam harus meme - gang teguh kesepakatan,” turutnya.

Binti mufarida