Edisi 24-05-2019
Botswana Cabut Larangan Perburuan Gajah


GABORONE - Botswana mencabut larangan perburuan gajah dengan alasan peningkatan konflik antara manusia dan satwa liar. Otoritas juga menyebut dampak negatif penghentian perburuan pada mata pencarian warga.

Negara itu diperkirakan memiliki sekitar 130.000 ekor gajah. Meski demikian, beberapa anggota parlemen menyebut jumlah gajah lebih banyak dari data tersebut dan menyebabkan masalah bagi para petani skala kecil. “Pemerintah Botswana telah mengambil keputusan mencabut penghentian perburuan. Kementerian akan bekerja sama dengan seluruh pihak terkait untuk menjamin pemberian izin perburuan itu dilakukan dengan tertib dan sesuai etika,” ungkap Kementerian Lingkungan Botswana, dilansir Reuters. Kementerian Lingkungan menyatakan kembali diizinkannya perburuan satwa liar itu dilakukan sesuai hukum dan regulasi yang mengatur konservasi satwa liar, perburuan, dan lisensi.

Menteri Lingkungan, Konservasi Sumber Daya Alam, dan Pariwisata Botswana Onkokame Kitso Mokaila akan memberi penjelasan lebih rinci tentang kebijakan itu. Presiden Mokgweetsi Masisi telah membentuk komite pada Juni 2018 untuk mempertimbangkan larangan perburuan yang diterapkan mantan Presiden Ian Khama pada 2014 setelah survei menunjukkan penurunan populasi satwa liar. Komite merekomendasikan pada Februari bahwa Botswana mempertimbangkan mengizinkan permainan besar perburuan lagi.

Pada saat yang sama, ketua komite merekomendasikan kerangka kerja hukum yang memungkinkan pertumbuhan industri safari perburuan dan mengelola populasi gajah di negara itu. Komite juga menyerukan pemusnahan gajah secara rutin, tapi terbatas. Botswana memiliki wilayah seluas Prancis dan populasi sekitar 2,3 juta orang. Negara itu memiliki wilayah yang masih liar sehingga menjadi magnet bagi turis asing yang ingin menikmati kehidupan satwa liar. Permainan perburuan di Botswana menjadi isu kontroversial dan mengundang prokontra.

Ada pihak yang mendukung dan mengkritiknya. Pendukung permainan perburuan menganggap kegiatan itu dapat menjadi sumber penghasilan pemerintah dan warga sekitar karena para turis membayar mahal untuk melakukan perburuan.

Syarifudin