Edisi 26-05-2019
Robot Bawah Laut Identifikasi Korban Kapal Tenggelam


Robot bawah laut dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi korban kapal tenggelam, pencarian puing-puing properti yang tenggelam, memudahkan proses pekerjaan inspeksi lambung kapal, dan pekerjaan lain yang sulit atau berisiko jika dilakukan oleh manusia.

Robot hasil karya mahasiswa/i Universitas Indonesia (UI) ini ditugaskan untuk melakukan inspeksi bawah air dan menggambarkan kondisi di dalamnya.P erkembangan inovasi bidang teknologi menuntut peran mahasiswa untuk turut serta berkarya bagi nusa dan bangsa.

Salah satunya dibuktikan oleh sekelompok mahasiswa UI yang terdiri atas 25 orang. Mereka membuat robot bawah air untuk melakukan inspeksi di dalam air. Dikenal sebagai tim Autonomous Marine Vehicle Team UI (AMV UI), para mahasiswa telah melakukan berbagai penelitian tentang robot kapal.

Mereka mendapat inspirasi dari senior terdahulu yang lebih dulu membuat robot kapal. Ketua tim AMV UI Alif Hikmah Fikri (Teknik Perkapalan 2016) mengatakan bahwa robot remotely operation vehicle (ROV) tidak hanya dijalankan pada kapal surface (kapal permukaan) saja, tapi ia juga bisa menyelam dalam air.

Ide itu muncul ketika ada senior mereka yang membuat kapal under water dan sukses meraih medali emas dalam perlombaan tingkat nasional. “Kami melihat bahwa sejak 2017, itu ada senior kami buat under water (kapal).

Semenjak itu kami bilang, ada kesempatan juga buat under water kan,” kata pria yang dikenal dengan sapaan Alif, saat dijumpai tim Koran Sindo di Kampus UI Depok.

Peran serta senior yang turut serta dalam mendidik juniornya sangat dirasa kan oleh Alif dan rekan lainnya. Beberapa hal teknis yang diwariskan itu membuat tim AMV UI dapat mengembangkan produk kapal baru.

“Kalau robotnya ini benar-benar bikin dari awal, senior hanya mewariskan hal-hal teknis. Kami mengembangkan produk baru lagi, jadi bener-bener dari nol produk ini dan kami membuat sesuai dengan rules dan mission ,” tambahnya.

Untuk membuat satu robot kapal yang bernama Robot Makara 08 Mark II, tim AMV UI menghabiskan dana sekitar 25 juta. Biaya itu dibebankan kepada seluruh tim yang turut serta dalam pembuatan kapal.

“Biaya pembuatan kami untuk satu robot ini sekitar Rp25 juta, itu termasuk biaya trial dan error ,” ucap Alif. Dari segi mekanik, mereka mempunyai dua struktur yang sama terlihat jelas, yaitu menggunakan pipa PVC sebagai pelapis elektrikal dan bahan-bahan elektrik.

Mereka juga punya struktur untuk penguatan atau penyangga dengan galvani, sejenis besi, dan baja. Untuk pipa PVC, mereka tidak dapat membelinya per meter sehingga harus membeli sepanjang 4 meter dengan harga Rp120.000.

Mereka juga harus menggocek saku sebesar Rp500.000 untuk membuat penyangga dengan bahan galvani. Selain itu, mereka membutuhkan kamera untuk melihat apa yang terjadi di dalam air. Kamera ini tertutup dengan dom, alas kaca kamera dengan harga Rp150.000.

Semua biaya di atas masih tergolong murah buat mereka, yang mahal adalah biaya untuk motor penggerak kapal (thruster ). Mereka harus mengimpornya dari Amerika Serikat karena sangat susah dicari di Indonesia.

Ada dua jenis motor penggerak yang digunakan, yaitu T100 dan T200. Kedua motor ini mempunyai fungsi yang sama, tapi berbeda kekuatannya. Harga penelitian yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa UI itu tergolong mahal.

Dari motornya saja, sudah terlihat kalau mereka menghabiskan Rp14 juta sendiri. “Ada Jenis T100 dan T200. T100 itu harganya Rp2,5 juta dan T200 harganya Rp3,5 juta. Kami membeli T100 ada 3, T200 ada 2, jadi totalnya ada 5,” tambah Alif.

Kemudian, Alif menambahkan sensor PH (keasaman) dan sensor suhu. Sensor PH digunakan untuk mendeteksi target di dalamnya, tapi sensor PH yang digunakan berbeda dengan PH air tawar. “Jadi kita tidak bisa sembarangan.

Begitu kita beli PH dan sensor suhu itu satu produk, harganya sekitar Rp400.000,” ungkap Alif. Alif menjelaskan bahwa cara menggunakan sensor PH dan suhu cukup dicelupkan ke tempat yang ingin diketahui, yang penting ROV dapat menjangkaunya.

“Untuk sensor suhu dan sensor PH punya eror sendiri, punya jarak eror sekitar 5cm sehingga sangat dekat,” tambahnya. Dalam pencarian puing-puing atau identifikasi korban kapal tenggelam, Robot Makara 08 Mark II dijalankan secara manual.

Mereka menggunakan joystick yang terhubung dengan komputer. Namun, bukan berarti tidak bisa berjalan secara otonomus. “ROV otonomus itu untuk kegiatankegiatan khusus, jadi penggunaannya sering didominasi kontrol manual,” kata mahasiswa teknik itu.

Para mahasiswa UI menggunakan image processing untuk mengidentifikasi korban melalui rekaman kamera. Mereka melakukan proses coding untuk mengetahui bentuk sebuah objek, seperti bola mata dan kepala sehingga dapat menyimpulkan bahwa itu manusia, bukan batu.

Kebutuhan jumlah kamera menyesuaikan objek yang ingin diketahui. Alif menyebutkan, butuh dua kamera, tapi yang diimplementasi kan nya hanya satu, yang terletak di bagian depan kapan.

Jika menggunakan dua kamera, alif juga belum mengetahui secara pasti sistem pengedapan yang akan digunakan. Saat melakukan pengamatan, kece pat an jelajah Robot Makara 08 Mark II adalah 1m/s atau 0,5440 knot.

Kecepatan ini merupakan standar kapal ROV agar dapat menentukan titik atau lokasi dari sebuah objek. “Jika ROV dijalankan terlalu cepat, dikhawatirkan tidak mampu mendeteksi benda yang dilewati sehingga harus dilakukan berulang-ulang,” tambahnya.

Dalam ajang kompetisi The 3rd ASEAN MATE Underwater Robot Competition yang berlangsung pada 4-5 Mei 2019 di Surabaya, tim AMV berhasil mendapatkan medali emas.

Marine Advanced Technology Education (MATE) diselenggarakan setiap tahun di berbagai negara terlebih dahulu, sebelum dilombakan secara internasional. “Jadi, kami melihat terlebih dahulu rules dan mission dari MATE itu sendiri.

Tahun lalu juga kita menang, itu temanya identifikasi kapal tenggelam dan tahun ini misinya adalah inspeksi pipa bawah air,” kata pria kelahiran Manado itu.

Saat lomba di Surabaya, Robot Makara 08 Mark II memiliki 3 misi, yaitu misi inspeksi waduk dan reparasi, riset saluran air bersih, serta mendeteksi miniatur meriam prasejarah dan mengukur dia meter, volume, dan beratnya meriam tersebut sebelum dinaikkan kepermukaan air.

“Mereka punya semacam waduk bumi, bendungan besar yang digunakan untuk irigasi. Nah, sejak 1950 itu perlu di-maintenance . Sejak itu ditetapkan bahwa latar belakangnya dari waduk bumi yang butuh diinspeksi pipa bawahnya, itu membutuhkan ROV,” tambahnya.

Tahun lalu mereka dihubungi oleh salah satu perusahaan swasta. Mereka ditanya tentang identifikasi lambung kapal menggunakan image processing , “Terus kami bilang bisa,” kata Alif.

Image processing dibutuhkan untuk mengidentifikasi warna atau bentuk yang dilihat. Kamera akan menganalisis dan ter-trans mit ke ground control system di kom pu ter. Robot Makara 08 Mark II merupakan robot bawah laut yang mampu menyelam dengan kedalaman 5 meter dan mampu bertahan selama 30 menit.

Namun, robot ini baru sebatas prototipe yang membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Untuk penggunaan riil di laut, tim AMV UI membutuhkan beberapa perubahan.

Hal itu dimulai dari pembuatan thruster terlebih dahulu karena penggunaan di air tawar dan air asin sangatlah berbeda. “Terakhir percobaan kami di air asin itu dia berkarat,” ungkap Alif.

Saat berada di kedalaman 10 meter ke bawah, kamera tidak lagi menjadi sesuatu yang terlalu penting. ROV mengganti kamera dengan sensor sonar dalam mencari sebuah objek. “Kamera itu kan tidak akan berfungsi di bawah kedalaman lebih dari 50 meter karena kan gelap.

Nah, kita pakai sonar, semua ROV profesional itu tidak menggunakan lagi kamera, di bawah kedalaman 10 meter,” tambah Alif. Ketua AMV UI menceritakan pengalamannya saat berkompetisi. Bukan hanya perlombaan, tapi juga menjawab tantangan perkembangan teknologi dunia.

“Turnamen ini menjadi ajang pembuktian bahwa mahasiswa seperti kami juga telah mampu mengkreasikan sebuah inovasi dan mampu menjawab kebutuhan industri akan teknologi tanpa awak.

Dengan mengembangkan sebuah Robot Makara 08 Mark II kami tidak hanya diuji dari segi mengelaborasi ilmu STEM (science, technology, engineering, and math ), melainkan juga harus mampu melihat dari segi kewirausahaan, di mana produk kami harus mampu memenuhi kebutuhan market ,” kata Alif.

Berbekal medali emas pada The 3rd ASEAN MATE Underwater Robot Competition, tim AMV UI secara langsung mewakili Indonesia dan Regional ASEAN untuk berkompetisi pada ajang International MATE ROV Competition yang akan diadakan di Kingsport Tennessee, Amerika Serikat, Juni mendatang.

“AMV UI yakin mampu bersaing dan menyelesaikan misi-misi perlombaan saat nanti berkompetisi di Amerika Serikat. Kami ingin menunjukkan bahwa tim Indonesia mampu mengungguli kampus terkemuka dunia dalam ajang kompetisi bergengsi ini,” tambah Alif.

Dalam tim AMV UI, ada pembagian tugas kepada setiap anggota menjadi 4 divisi, yaitu 3 divisi teknis dan 1 divisi manajerial. Tugas dari divisi manajerial kurang bersentuhan langsung dengan mesin dan teknik kapal, melainkan untuk publikasi dan saran.

Pada divisi teknis, pertama adalah bagian mekanik, yang berhubungan dengan kapal, penempatan thruster , pengedapan, dan struktur lainnya. Kedua adalah elektrikal, menangani jumlah distribusi arus, distribusi daya, sistem pendingin mesin karena semakin besar daya akan semakin panas dan itu bisa berpengaruh pada mekanik. Ketiga adalah kecerdasan buatan (AI), yang membuat algoritmanya berjalan lancar dan terhubung dengan kontrol sistem.

fandy