Edisi 26-05-2019
Sayap Misterius Nus Salomo


Pameran berjudul Wing Things di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, adalah sebuah proyek ’Sayap’ Nus Salomo untuk menemukan dan menyatakan ’bahasa’ yang mampu menyimbolkan keadaan kini manusia; ia memilih untuk menunjukkan kemungkinan seseorang untuk ’terbang’ dan memandang dari atas persoalan.

Bagi sang seniman, pilihan ini tak hanya akan mengajak setiap orang: ‘bagaimana menjalankan hidup’, tapi juga, jika perlu mengubahnya.S ebanyak lebih dari 25 karya dalam pameran Wing Things tak hanya menunjukkan karyakarya Nus Salomo yang bersifat konvensional (gambar, lukisan), tapi juga karya instalasi, serta karya-karya rekayasa digital yang bersifat dua dan tiga dimensional.

Dalam pameran tunggalnya ini, Nus Salomo hendak mengungkapkan pengalaman kreatif dirinya tentang segala ’sesuatu mengenai sayap’ sebagai rangkaian pengalaman yang bersifat estetik, dramatik, sekaligus juga paradoks.

Sebagai sebuah manifestasi ekspresi, “proyek sayap” mungkin adalah sebuah alat atau cara bagi diri Nus Salomo, juga bagi setiap orang yang menghayatinya, sehingga mampu ’hadir’ dengan meninggi sekaligus juga menyuruk dalam kesadaran diri.

Sayap, pada keadaan yang sebenarnya, bukanlah sebuah misteri; ia mungkin hanyalah atribut pelengkap bagi misteri yang sesungguhnya, yaitu: manusia. “Melalui pameran ini, Nus tidak menarik garis tegas mana yang semestinyaí disebut seni dan mana yang kita nyatakan sebagai objek keindahan.

Nus menghubungkan keduanya semisterius bagaimana manusia berharap agar ia mampu mengenal dirinya sendiri. Ia yakin, bahwa sedari awal ihwal sayap memiliki kaitan dengan harapan dan kepercayaan manusia,” ujar Rizky A. Zaelani, kurator pada pameran ini.

Masih dalam kuratorialnya, menurut Rizky, dalam pameran ini Nus tidak hanya mengambil imaji sayap yang mudah dikenal publik. Ia pun mencari cara untuk menghubungkan cara pengenalan mengenai sayap pada daerahdaerah konvensi pemahaman yang lain.

Tiap orang tentu bisa me mun culkan makna mengenai karya sayap yang dinikmatinya, tak harus jadi bersifat spiritual karena mungkin saja hanya dianggap sebagai cara untuk berkhayal. “Gagasan seni Nus memang ter utama merambah wilayah persoalan imajinasi.

Karyanya membantu publik/apresiator untuk seakan mampu menemukan bentuk representasinya secara visual. Tema tentang sayap, bagi Nus Salomo punya segi pengalaman yang bersifat personal, selain tentu juga mengandung makna-makna simbolik yang bisa berlaku secara umum,” ujar Rizky.

Pameran yang berlangsung 20 Mei hingga 14 Juni, ini menghubungkan berbagai gagasan dan imajinasi mengenai sayap sebagai representasi gagasan dalam rentang pengalaman yang bersifat personal dan sosial.

Sekaligus memberikan tanda-tanda bahwa ruang pengalaman privat dan publik dalam logika hidup masyarakat kini, tak lagi memiliki batas-batas jelas serta saling mendominasi dalam menciptakan pengaruhnya masingmasing. Representasi sayap, dalam hal ini, adalah soal harapan sekaligus juga masalah tantangan.

Tentang Nus Salomo

Nus Salomo mengenal dunia seni rupa sejak usia dini. Kesenangannya menggambar dan sedikit-sedikit melukis membuat ia mengenal apa itu ekspresi seni rupa. Sejak itu sudah terpikir padanya untuk menjadi pelukis.

Namun, Nus bimbang ketika harus melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Karena selain seni, ia tertarik juga pada perkembangan teknologi. Nus akhirnya memutuskan untuk memilih bidang arsitektur, dengan keyakinan di bidang ini minatnya pada seni dan teknologi bisa disatukan.

Ia masuk jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1986. Namun, ia tidak menemukan apa yang dicarinya dan pendidikan arsitektur di ITB dijalaninya hanya dua tahun. Ia berubah pikiran dan merasa pendidikan desainlah yang bisa menyatukan minatnya pada seni dan teknologi.

Nus kemudian berangkat ke Amerika Serikat pada 1989 dan masuk pendidikan desain di Arts Center College of Design (ACCoD), Pasadena, California. Ia mengambil spesialisasi desain produk (termasuk desain mobil) dan desain untuk entertainment, hingga menyelesaikan studinya di ACCoD pada 1996. Nus merasa menemukan apa yang dicarinya di dunia desain.

Setelah menamatkan pendidikannya di ACCoD, ia memutuskan untuk bekerja di Amerika Serikat sebagai freelance designer . Ia beruntung diterima perusahaan besar Hallmark Entertainment dan terlibat dalam perencanaan Sanrio Theme Park di Jepang.

Dengan referensi ini, Nus bisa bergabung dengan perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang desain, diantaranya Brainchild Entertainment dimana ia bekerja sebagai creative director.

Nus sempat mendalami seni patung dan animasi serta ikut merancang dan membuat perangkat special effects untuk film dan video game di industri perfilman Hollywood. Ketika bekerja di perusahaan-perusahaan ini, ia ikut merencanakan dan membuat makhluk-makhluk aneh dari manusia setengah binatang sampai robot dan cyborg .

Pada penciptaan ini, kemampuan menggambar, melukis, dan bahkan membuat patung padanya berkembang sejajar dengan kemampuannya menggunakan semua penemuan teknologi komputer.

Ketika kembali ke Tanah Air pada 2003, hanya satu tahun Nus bekerja di dunia desain. Seperti mengingat kembali niatnya di masa kecil, ia memutuskan untuk menjadi perupa. Banyak pengalaman bekerja di masa lalu mempengaruhi karya-karyanya saat ini.

Di dunia industri hiburan inilah ia banyak menemukan pengalaman baru, terutama dalam hal penciptaan tokoh-tokoh dengan beragam karakter. Lukisan Nus menggunakan media konvensional seperti akrilik, minyak, dan arang.

Nus juga bekerja dengan media digital, membuat lukisan digital dengan tablet Wacom di layar, metode yang tidak umum di Indonesia. Tanpa menggunakan gambar yang sudah ada sebelumnya, ia menciptakan desain baru pada layar kosong dengan goresan digital.

Untuk karya patungnya, Nus menunjukkan pemahaman realistis yang kuat tentang anatomi manusia, dikombinasikan dengan imajinasi futuristik. Pengalaman kerja masa lalunya sebagai pematung prostat dan animator telah memengaruhinya untuk menciptakan karya seni yang unik dan kontemporer, terutama dalam penciptaan karakter hibrida.

Pemikiran kreatifnya mendahului nilai-nilai lain dalam proses pembuatan seni. Berawal dari sebuah ide yang diikuti oleh sebuah konsep, terwujudlah karya-karya, baik itu lewat sapuan kuas, mouse dan layar, atau tanah liat.

Yang tak berubah dari pilihan cara kerja Nus Salomo adalah kedekatannya terhadap prinsip dan manfaat teknologi komputasi. Alur pilihan material karya yang digunakan Nus ibarat sebuah kesadaran tentang titik-titik perjalanan peradaban manusia, dari kebiasaan konvensional fine art yang menggunakan material logam, bergerak ke arah material artifisial plastik (resin), hingga kemudian tiba kembali pada kesadaran memanfaatkan material alam dan kemampuan keterampilan manual (craftsmanship ).

Kemampuan teknologi digital dan ’kecerdasan artifisial’ (artificial intelegence ), bagi Nus Salomo tak hanya membentuk jejak-jejak pengaruhnya pada pengalaman kekinian hidup kita yang bersifat dua dimensional (melalui gambar, fotografi, sinema), tapi juga soal objek-objek konkret yang berwujud tiga dimensional.

Melalui pameran ini, Nus sepertinya hendak mengingatkan kita lagi pada mata rantai hidup yang kian rapat terkonstruksi jaringan teknologi dan industri imajinasi. Itulah alasan penting, kenapa Nus Salomo tertarik pada representasi bentuk sayap.

hendri irawan