Edisi 26-05-2019
Benteng Spiritual dan Pertahanan Kemerdekaan


Suasana tenang dan hening saat kaki memasuki gapura kompleks Masjid Jamik Patok Negoro Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Sabtu (25/5) siang.

Setelah masuk ke bagian dalam masjid, suasana sepi kian terasa. Tidak tampak satu pun jamaah karena waktu zuhur belum menjelang. Masjid ini baru ramai sewaktu salat zuhur serta ashar dan akan semakin ramai saat sore hingga tengah malam atau menjelang buka puasa hingga selesai tarawih.

Seperti halnya masjid lain, selepas buka puasa dan salat magrib, kegiatan dilanjutkan dengan salat isya dan tarawih. Setelah itu diteruskan dengan tadarusan hingga tengah malam.

“Ya inilah kegiatan kami saat bulan Ramadhan, selain kegiatan keagamaan seperti umumnya,” kata salah satu takmir masjid Patok Negoro, Plosokuning, Jazuli Hartono, 70.

Menurut Jazuli, sebenarnya dulu selepas tadarusan, khususnya bapakbapak tidak langsung pulang, melainkan melantunkan pujian dalam bahasa Jawa. Pujian itu akan berakhir hingga pukul 02.00 WIB. Hanya saja tahun ini tidak ada karena kondisi mereka sudah tidak memungkinkan.

“Karena itu kami mencoba untuk menghidupkan lagi tradisi tersebut, dengan melakukan regenerasi,” paparnya. Selain tradisi pujian dalam bahasa Jawa, ciri khas lain di Masjid Patok Negoro Ploso - kuning adalah Salawat Radat, yaitu zikir dengan syair yang dipadukan dengan gerakan dan musik berisi tentang petuah hidup, perihal introspeksi hingga penyembuhan penyakit hati.

Salawat ini biasanya diadakan saat Maulud Nabi. “Berbeda dengan salawat Jawa, Salawat Radat hingga kini masih eksis, bahkan sudah ada regenerasi,” jelasnya. Jazuli menambahkan, pada momen tertentu, di Masjid Jamik Patok Negoro ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti keluarga keraton.

Misalnya tradisi Bukhorenan, yakni mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari. Masjid Plosokuning ini berdiri di atas tanah kesultanan seluas 2.500 meter persegi.

Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Masjid yang didirikan pada masa pemerintahan Sri Sultan HB I (1723-1819), Raja Kesultanan Yogyakarta I, ini awalnya merupakan benteng spiritual dan pada masa perang kemerdekaan menjadi benteng pertahanan fisik serta tempat menghimpun kekuatan.

Karena memiliki nilai sejarah dan masih asli—meski ada penggantian, bentuk, tekstur dan warna masih sama—, masjid ini ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya.

Ciri-ciri lain yang terdapat di masjid ini, ada pohon sawo kecik di halaman masjid, kolam yang mengelilingi masjid, serta serambi masjid yang berbentuk joglo. Kemudian di dalam masjid ada mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar.

Mimbar ini juga dilengkapi dengan sebuah tongkat yang dipakai oleh khatib pada saat memberikan khutbah dan untuk pintu gerbangnya berundak 14 yang terbagi dalam tiga bagian, yakni undakan I berjumlah tiga, undakan II lima, dan undakan III enam.

Undakan ini memiliki arti. Tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri atas tiga elemen, yakni iman, Islam, dan ikhsan. Lima undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada lima dan enam undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman ada enam.

Selain itu dalam kompleks masjid juga terdapat makam. Makam tersebut merupakan makam imam pertama masjid, yakni Kiai Mustafa. “Keberadaan makam di dekat masjid ini juga memiliki nilai historis dan filosofis tersendiri bagi umat Islam, yakni ketika datang ke masjid untuk beribadah, kita sekaligus juga mengingat kematian dan alam akhirat,” papar Jazuli.

Selain mempertahankan tradisi, hal keagamaan dan bangunan maupun pendidikan keagamaan dan umum juga menjadi perhatian dari takmir masjid, khususnya pendidikan untuk anak-anak, yaitu dengan mendirikan, taman kanakkanak (TK) yang diberi nama Sulthoni.

Dan seiring dengan perkembangan, sekarang tidak hanya TK, tetapi juga taman bermain dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Untuk kegiatan belajar mengajar memanfaatkan gedung yang dulunya sebagai kantor takmir yang berada di sisi utara timur masjid tersebut. “Kami harapkan dengan penamanan mental spiritual, anak-anak nantinya memiliki budi pekerti dan karakter yang luhur,” tandasnya.

PRIYO SETYAWAN

Yogyakarta