Edisi 26-05-2019
Demokrasi (Hampir) Mati!


Pada masa 1920-an, Roestam Effendi tampil sebagai pujangga mengusung nasionalisme dan pemberi seruan politik modern berlatar tanah jajahan.

Ia pun mengerti perseteruan ideologi seru terselenggara di Belanda dan Eropa. Kembali ke Indonesia setelah berpolitik di Belanda, ia mengalami perubahan mengartikan arus ideologi, sejak masa 1920-an sampai 1940-an.

Berdalih demi Indonesia, Roestam Effendi menulis buku berjudul Demokrasi dan Demokrasi (1949) untuk memberi kritik: “Matikanlah demokrasi mati itu! Hiduplah demokrasi jang hidup! Rubuhkanlah demokrasi dari seberapa orang sadja! Bangunkanlah demokrasi dari rakjat jang banjak!”

De mokrasi sedang jadi idaman dan cacian di Indonesia ingin tegak sebagai negara terhormat. Berpihak ke demokrasi dibuktikan dengan pemi - lihan umum 1955. Peristiwa belum memadai menjadikan Indonesia berdemokrasi.

Soekarno memiliki kebijakan dan jalan terlalu jauh dari seruan-seruan demokrasi dipengaruhi ide-ide Barat. Hatta memilih berpisah dari Soekarno dan memberi peringatan melalui risalah Demokrasi Kita (1960).

Tulisan itu seperti gaung dari kritik Roestam Effendi mengenai nasib demokrasi di Indonesia: hidup-mati. Hatta menginginkan demokrasi hidup! Rezim Soekarno memang terasa mengingkari demokrasi tapi Hatta masih memastikan demokrasi tak sirna di Indonesia.

Hatta menulis bahwa cita-cita demokrasi di wariskan para penggerak bangsa sejak masa kolonial. Kepastian demokrasi memiliki akar di Indonesia: “... pergaulan hidup Indonesia jang asli berdasarkan demokrasi, jang sampai sekarang masih terdapat di dalam desa Indonesia.”

Kini, kita mengalami demokrasi di abad XXI. Indonesia tak lagi seperti di tanggapan Roestam Effendi dan Mohammad Hatta. Demokrasi sedang gamang oleh kebohongan kolosal, tebaran fitnah, pembesaran kebencian.

Demokrasi pun mulai bercerita kematian. Peristiwa coblosan, 17 April 2019, tak cuma menghasilkan kemenangan-kekalahan. Demokrasi juga mengakibatkan kematian ratusan petugas pemilu. Mereka ingin demokrasi itu mulia, hidup, dan maju.

Keinginan berkonsekuensi sakit dan kematian. Kita berduka untuk demokrasi. Duka berbarengan dengan kecewa dan marah di Amerika Serikat. Di negara mengaku penganut demokrasi “tertua” di dunia, orang-orang menanggung sesalan gara-gara Donald Trump.

Tuduhan paling keras sejak Trump berkuasa adalah “demokrasi mati.” Kita mendapatkan sesalan itu dalam buku berjudul Bagaimana Demokrasi Mati garapan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Semua bermula tiga tahun lalu: “... ketika kami memilih seorang presiden diragukan kesetiaannya kepada norma-norma demokrasi.” Donald Trump menang di hajatan demokrasi tapi sengaja ingin mematikan demokrasi dengan merusak atau melanggar norma-norma.

Orang-orang tak pernah menduga Trump maju di pemilihan dan menang. Peristiwa teringat adalah ucapan Trump setelah turun dari eskalator menuju lobi di gedung Trump Tower, 15 Juni 2015. Ia berucap mau maju di pemilihan presiden.

Peristiwa agak diremehkan, sebelum orang-orang terkejut oleh segala ucapan dan ulah Trump menentukan kemenangan di hajatan demokrasi Amerika Serikat, 2016. Pengembang real estate dan bintang televisi itu berlari kencang di politik.

Amerika pun terpana dan kecewa setelah Trump resmi jadi penguasa. Penjagaan gerbang demokrasi dan pagar demokrasi gagal gara-gara Trump berhasil masuk dan memerintah.

Kita di Indonesia turut memberi perhatian dan terkena dampak akibat kebijakan-ke bi jak an Trump. Di negara besar dan suka memerintah dunia, berlangsung ironi besar. Steven dan Daniel membahasakan: “...pembelaan terhadap demokrasi sering dijadikan alasan untuk menumbangkannya.”

Kubukubu saling berlawanan di Amerika Serikat mengaku semua demi demokrasi tapi saling mematikan. Trump menjadi tokoh terbesar untuk memicu pelbagai kecamuk dan perdebatan menular ke pelbagai negara. Demokrasi sedang amburadul! Amerika Serikat seperti kehilangan kesinambungan sejarah.

Dua pengamat demokrasi mengingatkan: “Selama bergenerasi-generasi, orang Amerika Serikat terus memercayai Konstitusi Amerika Serikat sebagai pusat keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah negara dan bangsa terpilih, dibimbing ilahi, mercusuar harapan dan kemungkinan di dunia.”

Sejarah itu memudar oleh omongan dan kebijakan Trump membawa Amerika Serikat menempuhi jalan demokrasi berduri. Demokrasi seribu risiko. Demokrasi mungkin menjelang mati. Indonesia belum separah Amerika Serikat.

Kita memiliki sejarah kesakitan melahirkan demokrasi tapi selalu berikhtiar demokrasi tegak meski sering luka dan letih. Para pemikir dan penggerak demokrasi menitipkan warisan-warisan terang, bukan pesimisme.

Kita sejenak di renungan buatan Goenawan Mohamad (1989): “Mereka yang meminta demokrasi-dan bersedia mati untuk itudari manakah mereka menangkap ilham?” Indonesia itu negara belum setua Amerika Serikat.

Segala pengorbanan dan kematian diberikan asal demokrasi mencipta negara makmur, beradab, sejahtera, adil, dan damai. Indonesia abad XXI ingin demokrasi maju dan terang, bukan demokrasi digelapkan atau dipecundangi oleh misi-misi picik kaum politik.

Amerika Serikat kecewa berat, melebihi kecewakecewa kita atas demokrasi di Indonesia. Dulu, kita memiliki tanggapan dan ingatan itu melalui buku berjudul Demokrasi dan Kekecewaan (2011) memuat tulisan-tulisan Goenawan Mohamad, William Liddle, Rocky Gerung, Rizal Panggabean, Dodi Ambardi, Robertus Robet, Ihsan Ali-Fauzi.

Buku itu mungkin tak lagi terbaca menjelang dan setelah kita menunaikan hajatan demokrasi memilih presiden, wakil presiden, anggota DPR, DPD, dan DPRD. Kita sibuk oleh segala ribut di televisi dan media sosial, melupa buku di keaksaraan berdemokrasi.

Kita mulai melihat tumpukan kecewa di Amerika Serikat. Sejak memerintah di bulan-bulan awal, Trump sudah diserang isu pemakzulan. Ia terlalu merepotkan bagi ide dan amalan demokrasi modern.

Sekian kerusakan dan kekacauan terjadi akibat omongan dan tingkah Trump. Di mata para pemulia demokrasi, Trump sudah menunjukkan “naluri otoriter”. Trump menunjukkan permusuhan terhadap para wasit demokrasi (penegak hukum, intelijen, badan etika, dan pengadilan).

Orang-orang mulai murung dan marah. Amerika Serikat salah pilih presiden. Semua telanjur meski menghasilkan “kematian” demokrasi. Kematian terasakan setelah Trump sering melanggar norma demokrasi dengan berbohong.

Demokrasi di masa Trump bergelimang kebohongan. Nafsu berbohong itu sampai harus bermusuhan dengan pers. Trump dianggap tak cuma merusak demokrasi di Amerika Serikat. Steven dan Daniel mengabarkan kerusakan itu memicu bimbang demokrasi global.

Mereka ingin pemerintah Trump lekas berakhir dengan mengajukan pengharapan pemulihan demokrasi. Pengharapan rentan digagalkan jika Trump memberi pengaruh dalam jangka waktu lama.

Mimpi buruk belum berakhir di Amerika Serikat. Perlawanan harus diberikan terhadap Trump tapi tetap harus memenuhi norma-norma demokrasi, tak perlu ikut melakukan pelanggaran-pelanggaran fatal seperti Trump. Mereka takut demokrasi mati dari dalam lekas terjadi jika tanpa perlawanan beradab. Begitu.

bandung mawardi

kuncen bilik literasi