Edisi 26-05-2019
S10+Bantu Ciptakan Konten Terbaik


PERJALANAN saya ke Selandia Baru beberapa waktu lalu jauh lebih berkesan berkat Samsung Galaxy S10+.

Baik memotret maupun merekam video tidak hanya lebih mudah, tetapi hasilnya pun jauh lebih baik. Bagaimana bisa? Sebelumnya saya adalah orang yang ribet saat traveling . Menggunakan gadget yang bergonta-ganti, antara kamera saku Canon G7X Mark II, GoPro Hero 7, dan ponsel. Masing-masing punya tugas berbeda. Canon G7X untuk mengambil foto dan video detail karena punya fitur zoom .

GoPro Hero 7 untuk meng ambil foto dan video dengan angle wide . Sementara ponsel lebih mengabadikan foto atau video yang bisa langsung dibagikan di media sosial.

Bukan hanya harus juggling dengan beberapa alat berbeda, keribetan juga terasa saat harus mengurutkan dan mencari file yang terpisah-pisah. Benarbenar tidak praktis. Namun, sebelum berangkat, saya bertekad untuk mela ku kan simplifikasi alat.

Hanya memproduksi konten foto dan video lewat satu alat saja; Sam sung Galaxy S10+. Walaupun berisiko, seharusnya semua kebutuhan saya bisa terpenuhi dengan ponsel tersebut.

Komposisi Terbaik Hal pertama yang saya rasakan saat memotret adalah sangat terbantu dengan fitur Samsung Galaxy S10+ yang bernama Shot Suggestion. Saya paling lemah soal komposisi foto. Saya tahu foto dengan komposisi bagus.

Tetapi, untuk membuatnya sulit sekali. Maka itu, saya serahkan pengaturannya ke Shot Suggestion, di mana kamera akan menentukan komposisi foto yang dianggap ter baik. Kita hanya mengikuti arah di layar, sekaligus me ne kan tombol shutter .

Mudah sekali! Mengoptimalkan Scene Optimizer Kecerdasan buatan di ponsel sudah menjadi hal yang lumrah seperti halnya Galaxy S10+ lewat fitur Scene Optimizer. Ketika aktif, kamera akan mengenali berbagai macam objek foto.

Ada 30 jenis objek, mulai gedung, hewan peliharaan, langit, hingga manusia, lalu secara otomatis mengatur penyesuaian terbaik. Saya rasakan ini berguna sekali ketika memotret lanskap da nau atau pegunungan Selandia Baru yang sangat cantik.

Makanan Terlihat Lezat Fitur Food Mode adalah favorit saya. Saat traveling , makanan menjadi salah satu objek yang sangat menarik. Fitur Food Mode ini secara otomatis meng optimalkan detail ma kan an sehingga lebih ber warna, juga terlihat meng giur kan.

Setiap melihat makanan, saya selalu tidak sabar untuk memotretnya karena hasilnya selalu terlihat bagus. Ultra Wide Angle Fitur kamera ini paling sering saya gunakan. Ini adalah penyetelan standar yang selalu saya pakai setiap mengambil kamera dari kantong.

Di Selandia Baru, ada banyak sekali lanskap cantik yang hanya optimal jika difoto menggunakan angle yang superlebar. Setiap bagian dari pemandangan cantik itu dapat ikut terekam, mulai Lake Tekapo, Mount Cook, hingga Lake Pukaki.

Saya benar-benar tidak memerlukan GoPro Hero 7. Berganti-ganti Tiga Mode Tentu saja saya bereksperimen dengan tiga kamera Galaxy S10+ ini, yakni kamera 12 MP, 77 derajat (variable aperture f/1.5 atau f/2.4), kamera 12 MP lensa short telephoto bersudut pandang 45 derajat (f/2.4), dan kamera beresolusi 16 MP dengan lensa ultra wide yang mampu menangkap sudut pandang 123 derajat (f/2.2).

Ketiganya bisa memberikan kesan yang sangat berbeda. Terkadang memang tidak selalu ultra wide angle menjadi pilihan terbaik. Terkadang mode standar pun bisa memberikan detail yang dramatis.

Kemampuan 2x optical zoom dan 10x digital zoom ini cukup berguna. Video Slow Motion Terus terang, fitur ini tidak bisa digunakan setiap saat. Butuh objek yang memang cepat, seperti burungburung merpati di Taman Albert Park, Kota Auckland, yang berada begitu dekat.

Saya bisa mela ku kan penyetingan berbeda, yakni 0,4 detik atau 0,8 detik. Cukup luma - yan untuk me nambah variasi video B-Roll. Video Superstabil “Shaky video is dead” adalah promo GoPro lewat action c amera terbaru GoPro Hero 7 dan itu menjadi tren 2019.

Teknologi Electronic Image Stabilization (EIS) membuat video sangat stabil dalam kondisi berguncang sekalipun. Teknologi serupa juga digunakan Galaxy S10+. Namanya Super Steady.

Ketika aktif, fiturnya akan memudahkan membuat video yang stabil; sambil berjalan hingga di mobil. Ini benarbenar menjadi fitur pembeda antara S10+ dan kompetitornya. Gara-gara fitur ini pula, saya tidak memerlukan kamera lainnya untuk merekam video.

Memori 1 TB Problem lain saat merekam video adalah keterbatasan memori di smartphone . Ukuran file video biasanya sangat besar. Sebagai contoh, selama lebih dari sepekan di Selandia Baru, total konten foto dan video yang saya hasilkan adalah 25 GB.

Angka itu terbilang besar di ponsel biasa dengan kapasitas memori 128 GB. Tetapi, Galaxy S10+ bukan ponsel biasa. Dengan kapasitas memori internal 1 TB, 25 GB jelas kecil. Masih banyak sekali ruang tersisa.

Saat membuat video pun, saya juga tidak raguragu dalam merekam. Kesimpulan Kesimpulan nya, S10+ ternyata memiliki fitur yang saya butuhkan. Saya butuh lensa ultra wide untuk foto dan video.

Saya juga butuh penstabil gambar agar video saya tidak goyang, juga memori internal berukuran masif karena produksi konten saya tinggi. Selama perjalanan itu, saya merasakan kepraktisan karena semua file saya hanya ada di satu perangkat. Perangkat itulah yang saya keluarkan dari kantong celana setiap ingin mengabadikan gambar atau video.

danang arradian