Edisi 27-05-2019
Jelajah Kekayaan Wisata Perbatasan Indonesia di NTT


KUPANG - Masih mi nimnya promosi dan publikasi atas potensi wisata di wila yah perbatasan, MNC Travel bersama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BN PP) kembali menggelar kunjung an ke sejumlah wi la yah perbatasan di Indonesia.

Pada 17-21 Mei lalu, MNC Travel bersama tim MNC Media berkesempatan menjelajahi se - jum lah objek wisata alam yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, objek wisata alam NTT kali ini bukanlah destinasi wisata yang namanya sudah banyak dikenal masyarakat luas seperti Pulau Komodo, Alor, Sumba, Waerebo, dan banyak lagi.

Akan tetapi, wisata yang ingin MNC Travel bantu promosi dan publikasikan, yakni di Kabupaten Kupang, Belu, Malaka, dan Timor Tengah Utara. Sejumlah potensi wisata yang dikunjungi di antaranya Gua Kristal yang terletak di Kam pung/ - Desa Bolok, Kupang Barat, Kabupaten Kupang; Ben dungan Rotiklot, Kakuluk Mesak, Kabupa ten Belu; Pantai Wini, Desa Humusu C, Insana Uta ra, Timor Tengah Utara; Ru mah Adat Tasain, Desa Nurobo, Keca matan/Kabupaten Malaka; Bukit Cinta, Oesoko, Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, hingga wisata belanja di Pasar Internasional (Pasar Senin, Wini) dan Pasar Tradisional Atambua.

“Jadi, ini memang program kita explore Indonesia lebih men dalam untuk mem pro mo - sikan dan memublikasikan, mu lai masuk ke Gua Kristal, yang sudah dikenal wisatawan lokal, tapi masih belum terawat dan tergali dengan baik oleh pemerintah setempat karena masih dikelola oleh warga se - adanya,” kata Marketing and Promotion Head MNC Travel Diana Ring, di sela-sela jelajah wisata perbatasan di NTT. Dia menyayangkan potensi wisata alam gua yang unik ini belum terkelola secara benar, baik dari segi infrastruktur dan aksesibilitasnya untuk pengunjung agar menjadikan Kupang bukan hanya tempat Transit, tapi juga sebagai destinasi wisata baru.

“Jadi, kita sebagai pelaku pariwisata harus memiliki kepe dulian atau merasa ter pang - gil untuk bisa mengembangkan wisata Indonesia, termasuk yang belum terekspos sama sekali,” ungkapnya. Di Gua Kristal, tim MNC Tra - vel dan MNC Media selain me - rasakan sensasi baru berendam di air jernih berwarna hijau ke - biruan, juga berkesempatan wa - wancara langsung dengan Yes - riyanto, 40, pemilik gua asal De - sa Bolok, Kupang Barat, Ka bu - paten Kupang, Sabtu (18/5). “Ya, gua ini milik pribadi, bu - kan pemerintah. Saya ini ge - nerasi ketujuh yang mewarisi gua di bawah lahan bekas per - kebunan jagung ini,” katanya.

Menurutnya, air yang ada da - lam gua ini merupakan air payau (campuran air tawar dan air laut). Untuk membuktikan air Gua Kristal ini disebut payau, ia ber - sama kelompok penyelam sem pat mengeksplorasi hingga ke laut. “Air ini tembus ke laut sejauh 1 kilometer. Saat itu sempat ada tim penyelam menelusuri hing - ga sumber air laut,“ kata pria yang sehari-harinya kini fokus mengelola potensi wisata wa - risan ayahnya itu. Sepintas memang bila di - lihat dari mulut gua, tak ada yang menyangka ada kolam air dengan gradasi warna biru mu - da dan tua. Apalagi, bila tak ada cahaya yang menerangi kolam. Kolam air tersembunyi di balik celah bebatuan karst gua.

Kolam itu memanjang dari uta - ra hingga selatan dengan ukur - an sekitar 10 meter x 3 meter dengan kedalaman sekitar 12 meter. Untuk menjangkaunya perlu usaha ekstra karena harus menuruni batuan licin sekitar 20-25 meter. Tim sendiri beberapa kali sempat terpeleset ketika me nu - ju dasar gua. Tangan dan kaki harus mencengkeram dengan sempurna agar tak terpeleset. Namun, saat tiba di kolam, ke - khawatiran karena takut ter pe - leset akan terbayar penuh de - ngan keindahan. Setelah dari Gua Kristal, tim kemudian bergeser ke Ben dung - an Rotiklot yang ke be tul an baru diresmikan Presiden Joko Widodo.

Pasalnya, ben dung an yang berada di daerah aliran Sungai Mota Rotiklot, panjang sungai 06,41 kilometer dan luas daerah aliran sungai (DAS) 11,69 kilometer persegi (km2). Bendungan Rotiklot yang bermanfaat untuk penyediaan air lahan irigasi seluas 139 hektare padi dan 500 hektare palawija, juga sebagai pe ngendalian banjir daerah hilir kawasan Ainiba serta suplai air baku untuk masyarakat dan Pe labuhan Atapupu juga di - pr oyeksikan sebagai destinasi wisata baru. Sebab, tak sedikit mas ya rakat yang sengaja datang ke Ben - dungan ini hanya untuk berfoto selfie , baik di gapura pintu masuk dan di lokasi ujung jembatan terdapat banner rak sasa ber tu - liskan Bendungan Rotiklot.

Setelah ke Bendungan, tim berlanjut menelusuri objek wi - sata Pantai Wini yang letaknya berbatasan langsung dengan Oekusi, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Sepanjang perjalanan sebelum tiba ke pan - tai yang baru ditata rapi untuk menarik minat pengunjung ini, tim suguhi pemandangan per - bukitan padang rumput dengan jalan berkelok-kelok. Setelah menempuh per ja - lanan darat selama kurang lebih tiga jam, akhirnya tiba di Pantai Wini. Pantai ini begitu eksotis karena saat sore hari, pe ngun - jung bakal disuguhi sunset atau matahari terbenam yang sem - purna. Infrastruktur jalan di sekitar pantai cukup baik se - hingga layak pantai ini sebagai destinasi wisata favorit baru.

Meski demikian, di balik keindahan Pantai Wini, para pengunjung bakal disuguhi in - formasi yang mengingatkan se - kaligus mengerikan, yakni ter - dapat papan pengumuman agar tidak mandi atau berenang, sayangilah nyawa anda, karena sudah sering kejadian pengun - jung hilang di makan buaya. “Iya, terakhir pengunjung pantai warga sekitar berenang, kemudian hilang karena di ma - kan buaya. Tim SAR dari Ku - pang didatangkan untuk pen ca - rian selama seminggu tak juga menemukan jasadnya,” kata Willy, 42, warga Kabupaten Kefa menanu, saat ditemui di warung kopi Libas, Pantai Wini.

Setelah menikmati keindahan Pantai Wini, tim juga sem pat mendatangi Rumah Adat Tasain, Kabupaten Malaka, yang arsitek bangunannya mirip seperti di Wae Rebo, se - buah desa kecil di Satar Lenda, Kecamata Satarmase Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Haryudi