Edisi 27-05-2019
Puasa Mengajarkan Kesetaraan Sejati


SALAHsatu hikmat terpenting dalam puasa bulan Ra madan adalah bagaimana kita, manusia, mampu melihat orang lain di balik batas-batas fisikal atau yang disebut sebagai fisical barrier.

Terkadang ki ta menilai manusia ka re - na dia berkulit hitam, dia berkulit putih, atau dia berkulit war na yang lain. Lalu kita merasa inilah penyakit dunia sekarang ini. Di dunia Barat sekarang tumbuh apa yang disebut dengan white nationalist atau white supremacy . Orang-orang kulit putih merasa lebih hebat hanya karena warna kulit saja. Mereka memandang enteng orang lain. Inilah yang disebut rasisme dalam bahasa modern. Puasa mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak di - ha kimi dengan warna kulitnya. Tidak diperhitungkan hanya ka rena warna kulitnya semata. Bukan karena fisikal atau ke - adaan fisiknya. Tapi manusia dilihat dari hati dan karakternya dan itulah yang disebut kesetaraan dalam agama kita. Makanya Alquran mengatakan: “Inna akromakum indallahi atqokum .

“ Yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa. Dan ketakwaan tidak pernah didefinisikan dengan warna kulit. Tidak pernah didefinisikan dengan etnik dan ras dan tidak pernah didefinisikan dengan keadaan sosial. Tapi didefinisikan dengan hati dan karakter kemanusiaan kita. Oleh karenanya puasa mengajarkan kepada kita kesetaraan sejati. Bahwa sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling hebat imannya, yang paling cantik amalannya, serta yang paling halus perilakunya kepada manusia lainnya. Oleh karenanya, puasa mengajarkan kepada kita kesetaraan yang luar biasa. Hikmah lain yang kita ambil dari puasa dalam bulan Ramadan ini adalah mengajarkan nilai-nilai solidaritas kemanusiaan.

Kita tidak bisa merasakan penderitaan orang lain hanya dengan ilmu atau bacaan-bacaan yang kita dapatkan dari buku-buku. Apalagi sekadar informasi yang kita dapatkan dari media massa. Kita hanya bisa merasakan perasaan manusia di sekeliling kita ketika kita ikut merasakan perasaan mereka. Kalau dalam bahasa Inggris disebutkan “put your feet on the shoes” , letakkan kaki Anda di sepatu-sepatu mereka, artinya apa? Ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Dalam dunia kita yang serba materialistik sekarang ini, individualistik, di mana orang semakin rakus. Kita melihat betapa manusia se ma kin banyak orang miskin yang semakin miskin, yang kaya se ma kin kaya. Dan puasa mengajarkan kepada kita rasa solidaritas itu.

IMAM SHAMSI ALI
Direktur Jamaica Muslim Center