Edisi 27-05-2019
Spending Society


Sudah menjadi tradisi di setiap pekan terakhir Ramadan, masyarakat akan terpolarisasi pada puncak konsumsi. Sebagian masyarakat mulai bergeser aktivitasnya dari masjid menuju ke pusat-pusat per belanjaan, mulai pasar tradisional hingga pasar modern.

Fokus masyarakat mulai me mudar untuk menikmati hari-hari terakhir Ramadan demi menyambut perayaan Lebaran lebih awal. Secara teo lo - gis kebiasaan ini sangat di sayangkan oleh para pemuka aga - ma karena momentum Ra madan semestinya menjadi pun - cak ketakwaan. Namun ge lombang budaya masya ra kat sudah ber gulir sejak lama un tuk merayakan Lebaran de ngan menampilkan “kulit-ku lit” baru, mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga, pe nampilan rumah hingga pro duk-produk elektronik dan automotif. Kendati demikian ada juga sisi-sisi positif yang dihasilkan, misalnya terkait daya beli yang me ningkat yang diimbangi dengan kenaikan tingkat kon su - m si.

Tidak sedikit masyarakat yang rela menyisihkan sebagian penghasilan bulanannya demi berbelanja di saat Lebaran yang daya magisnya tidak hanya di - lakukan untuk kebutuhan diri - nya sendiri, melainkan juga un - tuk sanak famili dan orangorang terdekatnya. Daya beli masyarakat ini kian meningkat dengan adanya tunjangan hari raya (THR) baik dari kantor pe - merintahan maupun pe r usa ha - an swasta. Bisa kita bayangkan berapa banyak uang yang di - gelontorkan pemerintah dan per usahaan swasta untuk meng ongkosi gaya hidup terse - but.

Dari sudut pandang eko no - mi, pengeluaran belanja dan kon sumsi tentu saja sangat posi tif untuk pertumbuhan dan mendorong penerimaan pajak negara. Apalagi konsumsi ru - mah tangga masih mendo mi - na si sebagai penyokong utama per ekonomian kita. Dalam perkembangan eko - nomi di triwulan I/2019, sektor konsumsi rumah tangga mam - pu menopang 56,82% dari agre - gat PDB pengeluaran. Peranan yang sangat besar tersebut se - yogianya juga perlu diikuti de - ngan perubahan struktur per - ekonomian yang lebih baik agar ni lai manfaatnya bisa diopti - mal kan untuk mengakselerasi per tumbuhan ekonomi dalam negeri yang lebih sustainable.

Mi salnya kita perlu menata su - paya konsumsi yang tinggi ter - sebut bisa direbut oleh produkproduk domestik sehingga meng hasilkan multiplier effects yang sangat tinggi bagi per eko - nomian domestik. Sebaliknya jika konsumsi pada barang-ba - rang impor, akan terjadi ke bo - coran ekonomi (leakage). Tentu ini akan mengurangi keman fa - at an tingginya konsumsi terse - but. Pemerintah perlu memban - tu agar sektor jasa juga dapat menikmati gemerlap tingginya konsumsi ini seperti aktivitas bepergian (travelling ), belanja ma kanan dan minuman di res - toran atau tempat-tempat ma - kan, dan layanan pariwisata, ter utama untuk mendorong sek tor leisure economy .

Saat ini konsumsi rumah tangga Indo - ne sia di triwulan I/2019 mayo ri tas masih tersedot untuk be - lanja makanan dan minuman se lain restoran. Kontribusinya mencapai 39,14% dari total konsumsi ru - mah tangga. Adapun untuk sek - tor leisure economy mulai dari transportasi dan komunikasi hingga restoran dan hotel kon - tribusinya masih berada di ang - ka 32,91%. Mengingat poten si - nya yang sangat besar, di per lu - kan kebijakan pemerintah un - tuk mendukung pengem bang - an sektor leisure economy ini.

Pertama, pemerintah perlu men jaga agar daya beli masya ra - kat tetap kuat untuk menopang pro duksi dalam negeri. Altern a - tif kebijakannya ada dua, yakni de ngan memengaruhi agar har - ga produk terjaga stabil dan/ atau meningkatkan peng ha sil - an masyarakat. Dalam kondisi terkini, sektor pariwisata dan distribusi barang/jasa tengah digugat eksistensinya karena persoalan layanan transportasi yang harganya kian meningkat. Biaya tiket pesawat menurut ca - tatan BPS per April 2019 ke ma - rin meningkat 11% bila di ban - dingkan dengan April 2018 (yoy).

Kenaikan harga tersebut membuat perusahaan pener - bangan kehilangan sejumlah pe numpang domestik hingga men c apai 17,66% yang dihi - tung secara kumulatif mulai Ja - nuari hingga Maret 2019. Jum - lah penumpang domestik pada Maret 2019 sendiri juga terlihat menurun 21,94% bila diban - dingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tren ini sungguh sangat meng - khawatirkan jika tidak segera diselesaikan. Kita bisa bayang - kan berapa banyak pelaku eko - nomi yang terdampak atas per - kembangan negatif tersebut, mulai dari agen-agen perjalan - an lokal, UMKM yang meno - pang industri pariwisata hingga objek-objek wisata itu sendiri.

Aktivitas leisure economy itu sendiri sudah sulit dihindarkan ka rena telah berkembang men - jadi gaya hidup sekunder, baik bagi masyarakat kelas mene - ngah ke bawah hingga yang ter - masuk kaya-raya. Bagi masya ra - kat milenial dan yang ber ke - mam puan ekonomi tinggi, pi - lih an melancong ke luar negeri mungkin akan menjadi alter na - tif terbaik. Apalagi informasi perban - ding an harga penerbangan an - tar negara dari Indonesia ke be - be rapa negara ASEAN lainnya yang lebih murah ketimbang per jalanan antardaerah di Indo - n es ia terus meluas di tengahtengah masyarakat. Jika per - soalan ini tidak segera di tun tas - kan, imbasnya akan te rus me - lebar ken mana-mana.

Semakin banyaknya jumlah pen duduk yang berlibur ke luar ne geri ten - tu ini tidak baik bagi ca dangan devisa kita. Push fac tor untuk situasi ini adalah sek tor pari - wisata kita daya saing nya juga masih tertahan karena per soal - an sarana dan prasarana yang kualitasnya belum cukup kuat dan merata. Komisi Pengawas Persaing - an Usaha (KPPU) tengah men - da lami dugaan duopoli yang membuat persaingan industri penerbangan menjadi tidak sehat. Usaha seperti ini sangat di butuhkan untuk menjaga sta - bi litas pembangunan, jangan sampai ada pihak-pihak yang menari di atas kesusahan ma - sya rakat.

Masyarakat juga nya - ris tidak memiliki alternatif yang lebih baik karena biaya transportasi darat dan kereta api memiliki keterbatasan ma - sing-masing. Biaya trans por ta - si darat tengah terganggu de - ngan tarif tol yang harganya re - la tif mahal, bahkan beberapa tol beberapa hari ini mengalami ke - naikan yang melintasi Cika - rang. Adapun layanan kereta api hambatannya berada pada ka - pasitasnya (daya tampung) yang masih terbatas sehingga da pat disimpulkan koneksitas transportasi antardaerah ma - sih terganggu karena biaya yang belum efisien.

Kedua, pemerintah perlu men jaga agar ketersediaan la - pangan pekerjaan tetap me ma - dai dengan besaran tingkat upah yang moderat. Kedua fak - tor juga sangat berkaitan de - ngan daya beli. Tugas peme rin - tah adalah menjaga agar daya saing industri nasional tetap menyala di tengah gempuran impor yang akhir-akhir ini kian luar biasa, yang salah satunya disebabkan gencarnya pasar daring (online). Selain meng - atasi persoalan struktural yang menjurus perbaikan efisiensi usaha, pemerintah juga perlu mengawasi dan mengendalikan jumlah produk-produk impor yang bertebaran.

Jangan sam - pai konsumsi yang menguat ini malah justru mematikan sema - ngat produsen lokal yang tentu juga ingin merasakan kebaha - gia an di saat permintaan pasar se dang berada di titik puncak. Ketiga, pemerintah perlu se - makin menggiatkan kegiatan swa desi (bangga dengan pro - duk sendiri). Dalam peng amat - an penulis, karakter konsumen kita memang sangat rasional ter kait daya saing harga, tetapi hal tersebut semestinya juga per lu diimbangi dengan per - hati an mengenai dampak ter - ha dap pembangunan ekonomi negeri. Memang dalam bebe ra - pa hal produk luar negeri me na - warkan harga dan kualitas yang lebih menjanjikan bagi konsu - men ketimbang produksi kita sendiri.

Tapi masyarakat juga per lu disadarkan kalau produ - sen lokal tidak kita dukung, me - reka akan semakin kehabisan napas untuk mengembangkan usahanya sehingga sebagai ne - gara yang hingga saat ini hi dup - nya sangat bergantung pada konsumsi, ada baiknya jika kam panye pembangunan dita - ta secara sistematis dan masif agar demokrasi ekonomi dapat berjalan dengan baik, yakni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

CANDRA FAJRI ANANDA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya







Berita Lainnya...