Edisi 27-05-2019
Trotoar Kawasan Kemang Dibangun Setelah Lebaran


JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta menegaskan, penataan trotoar Kemang, Jakarta Selatan dilakukan seusai Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Harri Nugroho mengatakan, pihaknya tengah menyelesaikan semua persiapan pembangunan trotoar Kemang, Jakarta Selatan. Baik itu pengukuran hingga tanda tangan kontrak pengerjaan. Menurut dia, pengerjaan baru akan dilaksanakan setelah Lebaran yang jatuh pada 5-6 Juni mendatang. “Habis Lebaran baru dikerjakan, sekarang tanggung,” kata Harri Nugroho kemarin. Harri menjelaskan, penataan trotoar Kemang akan dilanjutkan dengan penataan trans portasi yang ujungnya memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke dalam angkutan umum.

Saat ini ang-kutan umum tersebut sedang dikaji, termasuk lokasi park and ride-nya. “Semoga begitu penataan trotoar jadi, penataan transportasi juga jadi,” ucapnya. Setelah penataan Kemang, lanjut Harri, penataan trotoar selanjutnya dilakukan di kawasan Satrio, Casblanca, Tebet, Jakarta Selatan, dan dilanjutkan ke Cikini serta Matraman, Jakarta Pusat. Konsep penataan tidak jauh berbeda dengan Kemang di mana tro-toar dilebarkan sesuai kondisi jalan. Menurutnya, semua penataan trotoar itu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2019.

“Kemang, Satrio, dan Casablanca itu sekitar Rp100 miliar. Kalau Cikini dan Matraman, itu Rp70 miliar,” pungkasnya. Harri menilai, penataan trotoar merupakan sebuah hierarki kota jasa yang mengakomodasi pejalan kaki, sepeda, angkutan umum, dan kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi mau tidak mau akan mengalami kemacetan ketika trotoar dilebarkan dan akhirnya berpindah menggunakan angkutan umum. “Penataan pedagang kaki lima (PKL) juga akan ditata berbarengan penataan trotoar sehingga begitu selesai trotoar akan benar-benar berfungsi sesuai konsepnya,” katanya.

Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga menyayangkan penataan trotoar tidak dibarengi dengan perbaikan saluran air yang jelas kondisinya sudah tidak bisa menampung air ketika hujan. Hal itu terlihat dari banyak genangan yang terjadi ketika turun hujan. Politikus PDI Perjuangan itu meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memantau langsung penataan trotoar meski telah menugaskan pada perusahaan daerahnya. “Kami juga meminta agar trotoar yang sudah ditata difungsikan sebagaimana mestinya. Tidak ada lagi pedagang, kendaraan parkir, dan sebagainya yang mengokupasi selain pejalan kaki,” tegasnya. Pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga menegaskan, pengelolaan jalur pedestrian yang ideal itu terpadu dengan saluran air dan jaringan utilitas.

Dia mencontohkan, jalur pedestrian dengan lebar 3 meter harus dibagi- bagi. Sebelah kiri dan kanan dengan lebar 1 meter digunakan untuk pipa dan 1 meter di tengah untuk saluran air. Dalam rongga 1 meter kirikanan itu nanti masing-masing utilitas memiliki lemarinya sendiri sehingga ketika terjadi masalah ataupun ingin melakukan penambahan jaringan utilitas lain tidak terganggu.

“Masalahnya ini Bina Marga tidak punya rencana induk saluran air, utilitas, dan trotoar. Itu bagian satu paket dari penataan trotoar. Kalau ada rencana induk, para pengguna harus mengikuti rencana induk. Yang terjadi sekarang, penataan trotoar sudah dilakukan, utilitas baru jalan, lalu saluran air tersumbat, dan sebagainya,” ungkapnya. Dengan ada rencana induk itu, lanjut Nirwono, para pemi - lik utilitas hanya tinggal melihat rencana induk apabila ingin melakukan perbaikan.

Bima setiyadi