Edisi 27-05-2019
Unjuk Rasa Reda, IHSG Diperkirakan Lanjutkan Penguatan


JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi mengalami penguatan pada pekan ini. Tanda kenaikan diperkirakan melanjutkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di zona hijau.

Jumat lalu IHSG menguat 24,66 poin atau 0,41% ke 6.057. Dalam sepekan IHSG menguat 3,95%. Total volume transaksi Jumat lalu mencapai 15,83 miliar saham dengan nilai transaksi Rp7,50 triliun. Sebanyak 212 saham menguat dengan 183 saham yang harganya turun dan 136 saham flat. Equity Analyst dari Samuel Se ku ri - tas Indonesia Dessy Lapagu me nga takan, isu perang dagang China dan Ame - rika Serikat (AS) masih membayangi pasar global setelah sikap China yang juga tidak gentar terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump.

Sementara dari sisi domestik belum ada rilis data eko nomi yang signifikan pada minggu ini yang mampu menggerakkan pasar. “Meski demikian, kami melihat kenaikan yang terjadi pada penutupan pekan lalu dapat menjadi sinyal pe nguatan IHSG pada pekan ini. IHSG selama minggu ini kami perkirakan akan bergerak menguat pada rentang 5.968- 6.281,” ujar Dessy di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, pada sepekan lalu IHSG naik +2,5%. Kekhawatiran investor lokal terhadap kondisi Jakarta yang kurang kondusif lantaran ada unjuk rasa pascapengumuman hasil pe milihan umum (pemilu) mulai mereda sehingga ekspektasi IHSG akan kembali ke kondisi fundamentalnya.

Sementara itu, Associate Director Research and Investment Pilarmas In - vestindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, IHSG pekan ini akan mengalami penguatan yang telah terkonfirmasi. Meskipun pemilu masih menyisakan masalah dengan ada aksi menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK), hal terpenting unjuk rasa sudah berakhir. Dengan demikian, stabilitas politik dan ekonomi bisa terjaga. Fokus berikutnya pekan ini yang merupakan pekan terakhir sebelum semua bersiap untuk liburan Lebaran. “Sebab itu, Se nin dan Selasa mung - kin akan meng geliat, dan akan turun pada hari Rabu. Indeks diperkirakan di kisaran 6.015 - 6.100. Tetap waspada dengan kenaikan momentum sesaat,” ujar Maximilianus kemarin.

Secara khusus perekonomian China yang belum menguat masih menjadi ganjalan. Masalah sengketa dagang AS versus China turut mengerek ke bawah pertumbuhan ekonomi dua negara. Pada saat yang sama, volume dan harga komoditas di pasar global juga belum kembali pulih. Pada akhirnya per lam - bat an pertumbuhan ekonomi di AS, Uni Eropa, dan China serta anjloknya vo - lume dan harga komoditas ber pe nga - ruh pada pertumbuhan ekonomi dunia yang juga melambat. Ke depan peran pemerintah yang lebih besar untuk menggerakkan roda per ekonomian melalui jalur fiskal di ha - rapkan mampu menopang kebijakan moneter yang sudah menunjukkan geliat di sepanjang lima bulan pertama 2019 ini.

Sementara itu, Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Andrian Tanuwijaya menilai, secara umum kinerja emiten kuartal pertama 2019 sedikit di bawah eks pek - tasi dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata sebesar 8% yoy. Sektor fi nan - sial dan konsumer masih menjadi pe nopang pertumbuhan laba IHSG, diikuti oleh sektor telekomunikasi dan properti. Adapun komoditas dan semen me rupakan sektor dengan per tum buhan laba negatif sepanjang kuartal I/2019, sejalan dengan harga ko mo di - tas yang juga mengalami tren pe nu runan dalam dua kuartal terakhir.

“Kami masih mempertahankan tar - get IHSG akhir tahun di level 6.900 – 7.100, mengharapkan peningkatan kinerja di kuartal-kuartal berikutnya. Kita menyadari bahwa ada banyak pe - laku ekonomi yang cenderung wait and seemenjelang pemilu di April kemarin,” ujar Adrian beberapa waktu lalu. Memasuki pertengahan tahun, per - gerakan IHSG dan rupiah relatif lebih fluktuatif. Pada periode ini rupiah cen - derung melemah karena memasuki periode pembayaran dividen. Selain itu, juga memasuki periode Ramadan dan libur Lebaran di pertengahan tahun, di mana pada periode ini perdagangan pasar saham relatif lebih sepi.

Faktor-faktor ini merupakan faktor musiman yang memengaruhi volatilitas pasar dalam jangka pendek. Walau demikian, ideal nya potensi pasar dilihat ber da sarkan faktor fundamentalnya. “Sejauh ini kami memandang fun damen tal pasar masih tetap sehat. Kinerja emiten kami ekspektasi tetap tumbuh positif tahun ini dan kondisi makro - ekonomi Indonesia juga tetap baik. Karena itu, kami berpendapat volatilitas pasar dalam jangka pendek dapat menjadi peluang bagi investor untuk ber investasi secara bertahap,” tambahnya.

Hafid fuad