Edisi 27-05-2019
Mudik Aman dan Nyaman Gaya Daihatsu


DAIHATSU membekali komunitas pengguna mobil Daihatsu dengan pengetahuan berkendara mobil yang aman dan nyaman. Apa saja yang mereka berikan agar perjalanan mudik jadi aman dan menyenangkan?

Ada yang beda dengan penyelenggaraan Daihatsu Sahabat Mudik 2019 yang diselenggarakan oleh PT Astra Daihatsu Motor di kawasan Sunter, Jakarta Utara, kemarin. Jika sebelumnya Daihatsu memberikan tips dan trik bagaimana agar kegiatan mudik jadi menyenangkan, kali ini Daihatsu memberikan sejumlah pembekalan defensive driving kepada 130 keluarga komunitas pengguna mobil Daihatsu. Customer Satisfication & Value Chain (CSVC) Division Head Astra Daihatsu Motor Budi Mahendra mengatakan, pelatihan safety driving berupa tips dan trik agar kegiatan mudik berjalan nyaman.

Kali ini pelatihan yang diberikan berupa defensive driving oleh Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana. “Kini kita anggap pengendara dan kendaraan sudah fit, lalu apa lagi yang diperlukan? Makanya para peserta mudik bareng ini kami berikan pelatihan mengenai defensive driving , bagaimana mereka bisa mengenal lingkungannya saat berkendara,” sebut Budi. Pada pelatihan singkat itu, Sony memaparkan bagaimana menerapkan defensive driving sehingga mudik bisa menjadi lancar. Menurut dia, defensive driving berbeda dengan safety driving .

“Kalau safety driving , lebih pada bagaimana kita mengoperasionalkan kendaraan, sedangkan defensive driving lebih pada bagaimana kita mengendalikan perilaku kita saat berkendara,” ujarnya. Perilaku berkendara itu juga mencakup kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Namun, dari semua itu, inti yang harus ada di pemudik adalah, mudik itu harus bahagia sehingga perjalanan menjadi menyenangkan. Dia memaparkan, ada lima hal utama dalam defensive driving , yakni pertama, jaga mata. Pemudik harus memasang mata yang awal dari sekeliling, baik depan, samping dan belakang. Kedua, commentary driving , di sini mengomentari hal-hal yang terjadi di lingkungan luar.

Ketiga, menjaga jarak, dengan kendaraan di depan. Usahakan semaksimal mungkin tidak berada di depan mobil besar untuk menghindari tabrakan karena rem blong . Keempat, jaga kecepatan kendaraan. Kelima, harus melihat dan dilihat. “Pastikan kita bisa melihat kondisi lingkungan dan sebaliknya, lingkungan bisa tahu kendaraan kita,” tambah dia. Menurut Sony, kita memang tidak mungkin bisa menghindari kecelakaan, tetapi setidaknya dengan defensive driving , kita bisa menekan risiko kecelakaan. Dia melanjutkan pemudik harus memahami tubuh tidak bisa dipaksa mengemudi seharian, ada kalanya letih yang berujung kantuk datang dan mengganggu perjalanan. Tidak selamanya memforsir tenaga menguntungkan, pemudik sebijaknya mengetahui tubuh butuh istirahat berkala.

Musuh terbesar saat kantuk datang, yaitu pengemudi kehilangan konsentrasi. Hal itu bisa berujung kekurangan “pikiran jernih” dan menurunnya respons pada kondisi sekitar yang berpotensi menimbulkan bahaya. Perlu diingat sopir adalah pemimpin pengambil keputusan di perjalanan yang bakal menentukan faktor keselamatan berkendara buat setiap penumpang. Sony Susmana mengatakan, jika mengikuti jam biologis, tubuh biasanya bakal mengalami keletihan pada waktu tertentu, yaitu pukul 13.00, 15.00, dan 18.00. Pada waktu tersebut, menurut Sony, pengemudi akan merasa letih dan mengantuk sehingga perlu istirahat.

“Kalau ikuti jam biologisnya manusia, akan drop jam segitu , maka harus istirahat pada jamjam tersebut,” kata Sony. Istirahat perlu, namun menurut Sony, jangan terlalu lama. Dia menyarankan waktu istirahat jangan lebih dari 30 menit. “Kalau istirahat lebih dari 30 menit feel mengemudi pasti bakal hilang, makanya misal lebih dari 30 menit, mending sopir itu tidur ben e ran untuk dapat energi yang lebih baik. Satu jam gitu tidur biar bugar kembali,” kata Sony. Ia mengatakan, mengemudi saat puasa bikin seseorang tidak punya durasi maksimal. Dia mengandaikan, pada kondisi normal, seseorang bisa mengemudi selama empat jam nonstop, sedangkan saat puasa harus dikurangi setengahnya.

“Kalau puasa gini ya mengemudi maksimal dua jam, terus istirahat. Tapi ya semua memang tergantung kondisi tubuh masing-masing,” ucap dia. Sony menambahkan, sopir harus waspada saat terlalu memforsir tenaganya buat nyetir. Ia bilang letih berlebihan dapat menyebabkan microsleep hingga sakit kepala. “Bahkan, sampai ada yang sakit kepala. Itu karena memaksakan aktivitas di mana dia harusnya istirahat,” kata Sony. Sementara itu, Tri Dharma, salah satu peserta dari komunitas Avanza Xenia Indonesia Club (Axic), mengaku senang bisa kembali ikut kegiatan mudik bersama Daihatsu.

Tahun lalu Tri juga ikut mudik bersama Daihatsu. Namun, pada tahun ini lebih menarik karena ada pelatihan defensive driving. “Kami berharap ini rutin digelar tiap tahun,” kata Tri yang tahun ini akan mudik ke Solo dan Yogyakarta bersama keluarga.

Wahyu sibarani