Edisi 27-05-2019
Berwisata ke Tempat yang Jarang Terjamah


BOSAN dengan tempat wisata umum yang padat dan sepertinya sudah diketahui banyak orang? Anda bisa beralih ke wisata di tempat-tempat yang paling jarang dikunjungi. Namun , tetap memiliki tempat dan segala macam tawaran wisata yang memesona.

Perbedaan antara tempat-tempat yang paling banyak dikunjungi dan paling jarang dikunjungi ternyata sangat mencolok. Pada 2017 hampir 87 juta turis internasional tiba di Prancis. Pada tahun yang sama, hanya 2.000 turis internasional mengunjungi negara Tuvalu Pasifik Selatan, tempat Anda dapat menemukan pantai atau bahkan seluruh pulau untuk diri Anda sendiri.

Berdasarkan data terbaru (PDF) yang disusun Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, daftar ini mencerminkan banyak negara dan wilayah luar negeri yang paling jarang dikunjungi di dunia sehingga Anda akan menemukan keindahan alam, budaya, dan sejarah yang indah tanpa harus pusing dengan antrean tiket, orang, maupun berebut tempat selfie . Berikut beberapa rekomendasi tempat wisata yang hampir tidak dikunjungi para wisatawan namun tetap aman secara keamanan, dikutip CNN .

Susi susanti

TUVALU
Dengan lebih dari 100 pulau kecil yang tersebar di Pasifik Selatan, negara Tuvalu adalah salah satu negara yang paling terpencil di dunia. Hanya pulau utama, Funafuti, yang memiliki bandara. Dari sana, pelancong melanjutkan ke komunitas terpencil dengan feri penumpang. Bebas dari keramaian yang memenuhi pantai-pantai di destinasi populer seperti Fiji, pulau-pulau ini adalah surga tak terjamah sehingga Anda dapat menyaksikan ikan terbang melintasi air, menghabiskan sore sambil bermalasan di tempat tidur gantung atau snorkeling di terumbu karang yang berwarna-warni. Jika Anda merencanakan perjalanan ke Tuvalu, hal yang harus diperhatikan, yakni ombak yang melingkari rumah panggung Tuvalu telah lama dipandang sebagai ancaman eksistensial. Itu karena naiknya permukaan laut dapat membanjiri negara dataran rendah.

KEPULAUAN MARSHALL
Bom dan pakaian renang menempatkan kepulauan Pasifik ini di radar dunia. Adapun bikini dinamai untuk uji coba nuklir Amerika Serikat di Bikini Atoll Kepulauan Marshall. Puluhan tahun kemudian pulau itu masih terkena radioaktif, seperti lokasi uji coba di Enewetak Atoll. Namun, perairan di sekitar Bikini Atoll telah menjadi salah satu situs scuba diving paling spektakuler di dunia. Ada lebih dari selusin bangkai kapal di dasar laut dekat Bikini Atoll. Anda bisa menyelam untuk melihat kapal induk USS Saratoga, yang hadir di Pertempuran Iwo Jima sebelum militer AS menggunakan kapal untuk latihan sasaran nuklir. Anda akan menemukan senjata dek bermekaran menjadi terumbu karang yang berwarna-warni, dan sejumlah ikan berada di antara bom masih terikat di geladak logam kapal.

KEPULAUAN SOLOMON
Tempat ini sarat sejarah perang. Pertempuran sengit terjadi dengan latar belakang pulau surga di kepulauan Pasifik Selatan ini setelah Marinir AS mendarat di Pulau Guadalcanal pada tahun 1942. Puluhan tahun setelah pertempuran terakhir, hutan yang rimbun dipenuhi tangki berkarat, kendaraan amfibi dan lubang besar atau fox holes tempat tentara dahulu bersembunyi yang menjadi pengingat era yang mencekam itu. Pesawat amfibi yang tenggelam, tanker minyak, dan kapal selam berserakan di dasar lautan, menumbuhkan formasi karang pada selubung logam yang terkorosi. Bagi para pelancong yang snorkeling atau menyelam, menjelajahi Kepulauan Solomon adalah kesempatan untuk menyaksikan kehidupan laut yang penuh dengan sisa-sisa perang brutal.

KIRIBATI
Anda bisa menikmati atol dan laguna yang berserakan hampir jelas terlihat di atas perairan Pasifik tengah di Kiribati. Di sini pulau-pulau dan atolnya mengelompok menjadi tiga kelompok, yakni Gilbert, Phoenix, dan Kepulauan Line. Tempat ini bertetangga dekat dengan Fiji dengan jarak sekitar 1.394 mil. Biasanya para pelancong ke sini setelah berwisata di Fiji. Biasanya setiap tamu yang datang akan disambut dengan tradisi keramahan yang kaya. Meskipun tidak setiap pengunjung akan mendapatkan undangan ke pesta tradisional, atau botaki, tapi banyak yang telah mengalaminya.

Jika Anda cukup beruntung untuk hadir, Anda mungkin melihat para penari mengenakan rok pandan, mendengarkan drum yang dipukul dengan irama tradisional, kemudian makan sukun, talas, dan kelapa.