Edisi 12-06-2019
Kivlan Dituduh Dalang Rencana Pembunuhan


JAKARTA–Polri mengungkap peran mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen dalam rencana pembunuhan empat tokoh dan Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya.

Wadireskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi menyebut Kivlan merupakan sosok yang memberi perintah kepada tersangka berinisial HK alias Iwan untuk mencari eksekutor pembunuh empat tokoh nasional Indonesia.

“Peran Kivlan memberi perintah kepada tersangka HK un tuk mencari eksekutor pembunuh,” kata Ade jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakar ta, kemarin.

Menurutnya, Kivlan juga memberi uang Rp150 juta kepada tersangka HK untuk membeli senjata api yang akan digunakan saat mengeksekusi atau membunuh empat tokoh nasional serta satu orang pimpinan lembaga survei.

Kivlan juga menyerahkan uang Rp5 juta kepada tersangka lain, yakni IT, untuk melakukan pengintaian terhadap satu orang pemimpin lembaga survei yang juga direncanakan di bunuh.

Ade menegaskan bahwa semua pernyataan dalam keterangan pers sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP) para tersangka yang tengah disidik oleh aparat kepolisian.

“Keterangan para tersangka yang tadi itu adalah sesuai dengan BAP para tersangka yang sedang kami sidik, kemudian dikuatkan video testimoni dan ter sangka sudah diambil sumpah,” ungkapnya.

Dalam jumpa pers itu polisi juga memutar video pernyataan dari tersangka HK alias Iwan terkait kejadian pada 21 dan 22 Mei. Iwan mengaku diperintahkan oleh Kivlan untuk mem beli senpi pada Maret di sekitar Kelapa Gading, Jakarta Utara.

”Saya diamankan pada 21 Mei terkait ujaran kebencian, kepemilikan senpi, dan ada kaitan dengan Mayjend Kivlan Zen. Sekitar Maret dipanggil ke Kelapa Gading. Saya diberi uang 150 juta untuk beli senjata laras pendek dua pucuk,” katanya.

Sebelumnya kepolisian menetapkan enam tersangka kepemilikan senjata api ilegal, yaitu HK alias Iwan, AZ, IF, TJ, AD, dan AF alias Fifi, yang hendak merencanakan pembunuhan terhadap empat tokoh nasional, mulai Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pan djaitan, Kepala BIN Budi Gunawan, sampai Gories Mere.

Bukan hanya empat tokoh nasional target mereka, tetapi juga hendak membunuh Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya. Enam ter sangka itu juga memiliki peran berbeda-beda, ada sebagai lea der, pencari eksekutor, ekse kutor, pencari senjata api, dan orang yang menjual senjata api ilegal.

Polri juga membeberkan massa perusuh dalam kerusuhan 21-22 Mei di depan Gedung Bawaslu hingga Tanah Abang dan Petamburan, Jakarta Barat. Kadiv Humas Ma bes Polri Irjen Pol M Iqbal mengungkapkan ada perencanaan yang matang oleh master mind untuk memobilisasi mas sa dan meletupkan di beberapa titik.

Ada senjata petugas yang dirusak dan dijarah. Petugas di serang dengan menggunakan alat-alat mematikan. “Massa perusuh patut diduga kuat di mobilisasi dan di-setting de ngan penyerangan kepada petugas,” ungkap Iqbal di tempat yang sama.

Iqbal mengatakan, kerusuhan pada 21 dan 22 Mei ada dua segmen. Segmen pertama massa aksi damai dan segmen kedua massa aksi perusuh. Pada tanggal 21 Mei massa berjumlah 3.000 melakukan penyam paian pendapat sesuai aturan, damai, dan sesuai aturan undang-undang.

Pada pukul 22.30 WIB tibatiba massa perusuh, sekitar 500 di depan atau samping Bawaslu, melakukan penyerangan dan perusakan terhadap petugas. Petugas bahkan di serang bukan dengan benda yang kecil, namun dengan benda yang mematikan.

“Seperti molotov, petasan roket berbahaya dan mematikan, batu sebesar konblok. Ada juga panah yang beracun. Artinya, massa tersebut sudah didesain untuk rusuh. Menyerang, mem provokasi petugas,” katanya.

Tanggal 22 Mei juga dua segmen, sedikit berbeda dengan sebelumnya bahwa untuk tanggal 22 Mei perusuh sudah berada di dalam massa damai. Sesuai dengan SOP, kata Iqbal, Polri mencoba menghalau dengan gas air mata, water cannon, peluru karet, serta peluru hampa.

Ia pun me ne gas kan bahwa personel pe ng aman an TNI-Polri tidak dilengkapi peluru tajam. “Tolong diingat ini benda-benda mematikan bukan benda-benda biasa.

Publik harus paham bahwa kejadian ini, kejadian kerusuhan yang mengawali massa perusuh. Petugas TNI-Polri hanya melaksanakan respons terhadap penyerangan dengan menghalau dengan SOP. ,” tegasnya.

binti mufarida