Edisi 12-06-2019
Perang Dagang Makin Memanas


JAKARTA - Pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi ketidakpastian global yang meningkat akibat perang dagang yang semakin memanas.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perekonomian global masih dipenuhi tantangan dan ketidakpastian akibat eskalasi perang dagang, persaingan geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas.

Kondisi ini menyebabkan penurunan proyeksi pertumbuh an ekonomi dunia, pelemahan investasi, dan perdagang an global. “Pada pertemuan G20 di Jepang, suasananya masih terasa bahwa posisi belum berubah.

Dalam arti ketegangan dari perdagangan internasional sisi retorika maupun action masih sama, bahkan ada kecenderungan lebih menguat,” ujarnya di Jakar ta, kemarin. Dalam pertemuan G20 di Jepang pada Sabtu pekan lalu, Sri Mulyani menyebutkan, seluruh lembaga keuangan internasional memangkas proyeksi per tumbuhan ekonomi global sebagai imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Pertumbuhan eko nomi dunia untuk 2019 te - lah dipangkas 0,3% menjadi 2,6% menurut Bank Dunia, 3,3% menurut International Mo netary Fund (IMF), dan 3,2% menurut Organisation for Economic Co-operation and De velopment (OECD).

Pertumbuhan perdagangan glo bal hanya mencapai 2,6% me ru pakan yang terendah se - jak krisis keuangan global 2008. Tekanan global ini menye bab - kan kinerja ekspor Indonesia mengalami perlambat an.

”Kalau dulu pertumbuhan dari perdagangan internasional bisa dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia yang mencapai 5% atau bahkan 6%, sekarang hanya tumbuh 2,6%,” ungkapnya.

Menurut dia, risiko dari ke - tegangan perdagangan global akan berdampak pada semester kedua tahun ini. “Pada semester kedua, dengan interest rate cen - derung turun namun di sisi lain lingkungan global melemah, kita bisa boost investasi.

Sebab per hatian terhadap kenaikan su ku bunga jadi lebih rendah. Bah kan beberapa negara sudah mulai menurunkan suku bu - nga,” tuturnya. Meski begitu, keputusan investasi tidak hanya dilakukan dari sisi cost of fund , melainkan juga dari sisi prospek ekonomi.

Diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di atas 5% sehingga memberikan confidence terhadap investor, tapi di sisi lain cost of fund juga semakin turun.

“Oleh karena itu, kita tetap harus fokus agar motor peng ge - rak ekonomi kita dari sisi domes - tic demand, selain konsumsi, go - vern ment spending, investasi bi - sa back-up .

Sementara ekspor akan bisa diminimalkan sebagai dampak dari pelemahan global ekonomi,” kata Sri Mulyani. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pe mulihan ekonomi global lebih rendah dari perkiraan.

Hal ini disebabkan prospek per - tum buhan ekonomi AS yang me nurun, perbaikan ekonomi Eropa yang diperkirakan lebih lambat, serta ekonomi China diperkirakan belum kuat. “Risiko eskalasi perang da - gang yang meningkat turut me - nurunkan prospek ekonomi global 2019.

BI memperkirakan PDB dunia 2019 dan 2020 men - capai 3,3% dan 3,4%,” ujarnya. Perry menambahkan, per - tum buhan ekonomi dunia yang me lambat juga berpengaruh pada harga komoditas global me nurun, meskipun harga mi - nyak sempat naik dipengaruhi faktor geopolitik. “Pada 2019, harga komoditas ekspor Indonesia berpotensi menurun dan kembali positif pada 2020,” ung kapnya.

Sementara itu, The Institute of Chartered Accountants in Eng land and Wales (ICAEW) dalam laporan terbaru menyebutkan, dengan melambatnya perda gangan global dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China, maka pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Tenggara pada tahun ini diperkirakan akan menurun menjadi 4,8% dari 5,3% pada tahun 2018.

ICAEW mencatat pertumbuhan PDB di seluruh wilayah Asia Tenggara melambat menjadi 4,6% pada kuartal I/2019 dari 5,3% yang tercatat pada pa ruh pertama 2018 (H1/2018).

Hal ini merupakan hasil dari menurunnya pertumbuhan eks por di seluruh pereko no mi - an Asia Tenggara sehubungan dengan melemahnya per min ta - an impor China, melambatnya siklus teknologi informasi ko - munikasi (TIK) global, dan me - ning katnya proteksionisme se - lama setahun terakhir.

Total volume ekspor secara rata-rata ada lah 1% lebih rendah dibandingkan kuartal I/2018. Hal serupa juga terjadi dengan terus menurunnya ekspor di seluruh wilayah Asia Tengara pada kuartal kedua, karena hanya Vietnam yang tidak mengikuti tren.

Walaupun pertumbuhan negara ini juga menurun sejak tahun lalu. Di tengah ketegangan baru perdagangan ASChina, tren ini kemungkinan akan berlangsung hingga tahun depan.

“Kami berharap ekspor dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan terus me - ning kat, walaupun berada di ba - wah tekanan ketegangan pe r - da gangan AS dan China yang se - per tinya akan terus berlanjut,” ujar Penasihat Ekonomi ICAEW & Oxford Economics Lead Asia Sian Fenner melalui keterangan tertulisnya.

“Dengan volume ekspor yang sudah berada di titik ren dah sejak awal tahun, setiap ber tam bahnya ketegangan per da gangan dua ekonomi terbesar dunia tetap akan memper lam bat pertumbuhan regional,” katanya.

oktiani endarwati/inda