Edisi 12-06-2019
YLKI Desak Pemerintah Revisi Aturan Diskon Rokok


JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah merevisi aturan yang memperbolehkan diskon harga rokok.

Ketentuan itu dinilai ber ten - tangan dengan upaya pe me - rin tah menurunkan tingkat kon sumsi (prevalensi) me ro - kok di Indonesia yang terus me ningkat. “Memang itu kebijakan nga wur. Jangan diberikan dis - kon,” kata Ketua Harian YLKI Tulus Abadi saat dihubungi wartawan di Jakarta, kemarin.

Tulus menjelaskan, semangat pemerintah untuk me nu - runkan tingkat konsumsi ro - kok di Indonesia terganjal pera turan diskon itu. “Intinya, tidak ada diskon-diskonan,” kata dia. Ketentuan diskon rokok ter cantum dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor 37/2017 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan itu merupakan turunan dari Pe ra - turan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/2017 ten - tang Tarif Cukai Hasil Tem ba - kau. Saat PMK Nomor 146/ 2017 direvisi menjadi PMK 156/2018, ketentuan menge - nai diskon rokok tidak diubah.

Dalam aturan tersebut, har ga transaksi pasar (HTP) yang merupakan harga jual akhir rokok kepada konsumen boleh 85% dari harga jual eceran (HJE) atau banderol yang tercantum dalam pita cukai.

Bah kan, produsen dapat men - jual di bawah 85% dari ban de - rol asalkan dilakukan tidak le - bih dari 40 kota yang disurvei Kan tor Bea Cukai. Dengan demikian, kon su - men mendapatkan diskon sam pai 15% dari harga yang ter tera dalam banderol.

Aturan ini bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 109/2012 tentang Peng aman - an Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tem bakau bagi Kesehatan, yang melarang potongan har - ga produk tembakau.

Sebelumnya, peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uni versitas Indonesia Abdillah Ahsan mengatakan, dari sudut pengendalian rokok, harga merupakan salah satu unsur paling penting.

Semakin mahal semakin baik dan jika sebaliknya, semakin murah semakin sulit proses pengenda liannya. “Harga rokok itu harus mahal. Supaya tidak gampang dibeli siapa saja,” kata dia. Abdillah mere ko mendasikan agar HTP rokok bisa dinaikkan minimal menjadi 95% dari harga banderol, bahkan Idealnya hingga 100%.

rakhmat baihaqi