Edisi 15-06-2019
Pencarian Jati Diri Lewat Aladdin


FILM Aladdin yang baru saja dirilis meledak, begitu juga dengan nama Mena Massoud.

Nama Mena langsung dikenal di industri perfilman Hollywood maupun internasional, seiring kariernya yang kian meroket. Mena mendapat pujian atas aktingnya yang maksimal serta kental akan pesan keberagaman.

Bagi aktor yang diketahui sudah berkecimpung di dunia hiburan selama sepuluh tahun ini film tersebut penting, bukan hanya untuk melambungkan namanya, tapi juga tentang jati dirinya. Lelaki berusia 27 tahun ini berhasil mengalahkan 2.000 peserta audisi film Aladdin.

“Ketika pertama kali melihat online casting, saya sangat senang. Saya mengirimkan rekaman. Saya tidak punya banyak harapan karena ketika mereka mendapatkan puluhan ribu rekaman dari seluruh dunia, peluang untuk melihatnya pun sangat rendah.

Saya berasumsi bahwa peran ini akan jatuh ke salah satu bintang terkenal Hollywood. Empat bulan kemudian saya mendengar dari agen saya bahwa mereka masih mencari calon pemeran.

Saya mengirimkan rekaman lain dan terbang ke London dua kali untuk mengikuti audisi,” tutur Mena. Pencarian untuk peran utama ini memakan waktu berbulan-bulan karena tidak mudah menemukan aktor yang mampu berakting sekaligus bernyanyi.

Dikutip dari The New York Times, ketika Mena mendapatkan panggilan casting untuk pembuatan ulang film Aladdin, dia berniat tak ingin melihat film animasi aslinya yang dibuat pada 1992 silam.

Aktor kelahiran 17 September ini sudah meneguhkan diri bahwa ini akan menjadi peran yang berkisah tentang “perjalanan identitas pribadi”. Dilahirkan di Kairo, Mesir, tapi besar di Toronto, Kanada, Mena memiliki penilaian tersendiri tentang Aladdin.

“Orang tua saya tahu kisah Aladdin jauh sebelum film animasi ini dibuat. Ini adalah kisah rakyat yang sangat lazim di Mesir. Film ini adalah penggambaran yang sangat positif tentang dari mana kita berasal,” terangnya.

Mena tumbuh dengan bahasa Arab di rumahnya. Dia pun sempat datang ke Mesir beberapa kali. Bahkan Mena berencana kembali ke Mesir demi menghadiri acara Festival Film El Gouna pada September mendatang.

Mena merasa bersemangat memainkan peran yang telah dia tonton berkali-kali sejak masih kecil itu dan tidak merasa ada tekanan sama sekali. “Saya tumbuh dengan film itu. Seingat saya, pertama kali saya menontonnya di Mesir, ketika masih kecil.

Saya punya dua kakak perempuan, jadi mereka suka menonton semua film Disney,” ujarnya kepada ABC News. Mena senang mendapat peran Aladdin karena memiliki kesempatan untuk memainkan karakter yang bukan teroris dan tak memiliki konotasi negatif bagi dirinya ataupun kelompoknya.

“Film ini memiliki konotasi yang sangat positif. Film dan peran ini menginspirasi. Saya sangat senang akhirnya bisa melakukan sesuatu yang seperti itu,” paparnya. Kebanggaan lain karena Mena menilai Disney sudah mulai mengubah sistem dengan “memperkaya” aktor dan aktris yang ikut bermain dalam filmnya.

Para pemain yang dipilih tidak melulu harus berkulit putih, melainkan “berwarna-warni”, termasuk yang lintas etnis. Melalui wawancara dengan Defective Geeks, Mena mengungkapkan bagaimana isu ras telah memengaruhi peran-peran yang dia dapatkan di Hollywood.

“Menjadi kaum minoritas dalam industri ini masih memengaruhi saya. Kompetitor kami lebih sedikit, tetapi jumlah pekerjaan yang didapat juga kurang. Namun, saya pikir industri ini semakin berkembang dan mulai mendukung para aktor dari semua latar belakang budaya,” ujarnya.

Lalu, apa bagian favoritnya dalam film Aladdin? “Ada satu adegan ketika kami memperbaiki seluruh adegan. Ini pertama kalinya jin dan Pangeran Ali bertemu keluarga kerajaan.

Jadi ini urutan yang cukup menyenangkan. Mulai berimprovisasi dengan Will Smith? Itu mimpi yang menjadi kenyataan,” ungkap Mena, seperti dikutip Cinema Blend.

Mengikuti Mimpi

Semua orang punya mimpi, tapi tidak semua mampu atau teguh mewujudkannya. Mena salah satu yang berhasil mewujudkannya. “Jujurlah pada diri sendiri dan Anda dapat mencapai impian Anda,” katanya, dikutip CBC News.

Dari Mesir Mena baru berusia tiga tahun ketika keluarganya bermigrasi ke Kanada. Dia lantas dibesarkan di Ontario. Namun, saat ini aktor ini tinggal di Toronto dan Los Angeles. Sejak duduk di bangku sekolah dasar Mena mengaku sudah ingin menjadi pemain drama.

Saat masuk SMA, mantan guru dramanya mengatakan bakatnya di dunia akting semakin terbentuk. “Mena seperti terbang di bawah radar sampai dia mulai mendapatkan peran. Pada saat itu dia seperti sebuah kekuatan alam,” kata seorang pensiunan guru drama di St Brother Andre Catholic High School.

Teman-teman menyebut Mena sebagai pemuda pendiam, bersuara lembut, introspektif, dan penuh hormat. Hal ini pula yang membuatnya pindah kampus demi mengasah akting. Awalnya Mena kuliah di Universitas Toronto pada jurusan ilmu syaraf setahun, lalu pindah ke program seni di Ryerson University.

“Akting selalu menjadi bagian dari hidup saya sejauh yang saya ingat. Saya merasa akting akan menjadi sesuatu yang saya bisa kerjakan secara profesional. Itu sebabnya ketika masih kuliah di Universitas Toronto, saya rela meninggalkannya setelah saya mengikuti audisi dan diterima ke Ryerson.

Tempat itu membuat saya bisa berakting sepanjang waktu,” tutur Mena dalam sesi wawancara dengan The Arts Guild. Di depan para junior di bekas SMAnya, Mena pernah menyebut dirinya seperti menemukan tantangan lain dalam mengembangkan karier akting.

Alasannya, sejak kecil dia diberi tahu seni itu hanyalah sebuah hobi, tidak bisa dijadikan profesi. Kendati demikian, Mena tidak berhenti sampai di sana. Setelah mendaftar di sekolah teater, ia justru berhasil mempergunakan waktu dengan baik, mau bekerja keras, dan terus mengikuti mimpinya.

“Jadi, apa pun yang Anda ingin lakukan dalam hidup, jangan pernah biarkan orang mengatakan bahwa Anda tidak bisa melakukannya, karena Anda pasti bisa,” ucapnya.

Menurut Kepala Sekolah St Brother Andre Melton Moyo, beberapa orang mungkin beranggapan mengikuti impian adalah hal yang klise. Namun, itu justru bisa menjadi berharga dan memberi inspirasi kepada kaum muda.

“Sebagai orang tua, kita selalu ingin anak-anak kita melakukan apa yang kita pikir harus mereka lakukan. Tetapi, Mena menentang itu dan dia melakukannya dengan sangat baik. Jadi selamat kepadanya.

Salah satu hal yang paling dia banggakan adalah menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak-anak kulit berwarna, yang tidak sering melihat diri mereka di layar kaca ataupun layar lebar,” ujar sang kepala sekolah.

Pekerjaan pertama Mena adalah memainkan peran kecil dalam serial Nikitayang ditayangkan The CW, lalu muncul dalam episode Covenantspada 2011.

Dikutip dari Pop Buzz,Mena pernah bermain dalam beberapa serial drama televisi seperti Open Heart, Combat Hospital, Saving Grace,dan Jack Ryan. Dia juga sempat mengisi suara untuk videogame, Watch Dogs 2,yang sangat terkenal.

susi susanti