Edisi 17-06-2019
Mantan Presiden Sudan Segera Diadili


KHARTOUM - Mantan Presiden Sudan Omar al-Bashir akan segera diadili dalam kasus korupsi. Sebanyak 41 mantan pejabat pemerintahannya sedang diselidiki dalam kasus korupsi.

Pengadilan terhadap Bashir akan menguji keseriusan dewan militer transisi untuk menghapus warisan presiden yang digulingkan pada April setelah 30 tahun pemerintahannya. Kepala Kejaksaan Alwaleed Sayed Ahmed Mahmoud menyatakan Bashir akan diadili setelah habis periode untuk keberatan tersangka selama sepekan. “Sebanyak 41 kasus kriminal telah dibuka terhadap simbol-simbol mantan rezim dan langkah untuk menangkap dan investigasi akan selesai pekan depan,” kata Mahmoud saat konferensi pers di Khartoum dilansir Reuters.

Secara terpisah, komite yang dibentuk dewan militer untuk menyelidiki penyerangan ter - hadap demonstran di pusat Khartoum awal Juni, menyebut beberapa pejabat yang bertanggung jawab. Unjuk rasa di luar Kementerian Pertahanan menjadi titik utama para demonstran menggelar aksi untuk mendesak militer menyerahkan kekuasaan pada sipil. Puluhan orang tewas dalam operasi pembubaran pengunjuk rasa. Kekerasan itu memicu perpecahan antara oposisi dan dewan militer sehingga banyak pihak khawatir negara itu akan mengalami kekacauan. Dewan militer menyatakan dua tim berbeda akan menyelidiki kasus itu.

“Komite menyimpulkan bahwa sejumlah pejabat dari berbagai pangkat bertanggung jawab dalam pembersihan lokasi unjuk rasa,” ungkap komite investigasi militer di televisi nasional. Pernyataan itu tidak memberi rincian tentang nasib para pejabat yang dianggap bertanggung jawab itu. Juru bicara dewan militer menyatakan beberapa pejabat itu ditahan. Aliansi pengunjuk rasa menolak investigasi itu dan meminta penyelidikan independen. Merespons laporan bahwa dia telah diajak konsultasi tentang pembubaran lokasi protes, Mahmoud menyatakan, dia telah menghadiri rapat dengan para petinggi militer untuk membahas pengawasan yudisial atas rencana pembersihan wilayah yang digunakan oleh para kriminal, namun ide pembubaran kamp demonstran itu tidak dibahas.

Syarifudin