Edisi 17-06-2019
Menggagas Postulat Persaingan


Menanggapi persoalan tingginya harga ti ket pesawat yang di keluhkan masyarakat hampir setahun bela kangan, pemerintah justru hendak mengundang sejumlah mas kapai asing untuk ikut mela yani rute penerbangan domes tik.

Kabarnya, pemerintah akan melonggarkan aturan daf - tar negatif investasi (DNI) di sek tor aviasi sebagai langkah ku ratif melalui persaingan bis - nis antarmaskapai. Di tengah-tengah suasana po litik yang masih hangat, ga - gas an untuk melibatkan pihak (perusahaan) asing dalam sendi apa pun akan cenderung dires - pons menjadi isu yang sensitif. Ada baiknya pula jika peme rin - tah memperhatikan dengan sak sa ma apa saja potensi dam - pak yang akan terjadi andaikata gagasan ini dieksekusi. Benar kah harga layanan pe - ner bangan domestik akan men - jadi lebih terjangkau? Selain itu, apakah nanti juga akan ber dampak positif terhadap kualitas la - yanan penerbangan?

Dan tentu saja, apakah kebijakan tersebut akan mendorong iklim usaha yang lebih sehat bagi pelaku eko nomi di dalamnya baik yang bersinggungan langsung mau - pun tidak dengan bisnis ini? Per tanyaan tersebut seha - rus nya menjadi fondasi dasar se be lum wacana pelonggaran DNI di sektor aviasi dilepas lan - daskan. Tuntutan untuk segera me - nu runkan harga tiket pesawat sen diri terus menggelinding ka - rena dampaknya relatif sangat luas terhadap roda per eko no - mi an daerah dan nasional. Pada Lebaran 2019 kemarin, data Lit bang Kemenhub menyata - kan harga tiket pesawat teren - dah meningkat di kisaran 16- 79,5% jika dibandingkan Le - baran sebelumnya. Jumlah pe - numpang pesawat selama H-7 hingga H+7 Lebaran pun lang - sung rontok 27,37%.

Penurun an tersebut me lan - jutkan tren ne gatif jumlah pe - numpang pe sa wat yang secara year on year su dah turun 20,5% sepanjang Ja nuari-April 2019 (BPS, 2019). Sebagian pe num - pang pa da saat Lebaran me - milih me la kukan shifting de - ngan meng gunakan transpor - tasi darat (mo bil, bus, atau ke - reta api) dan pe nyeberangan laut. Kendati pe merintah ber - dalih faktor shifting tersebut juga didukung keberadaan jalan tol dan la yan an mudik gratis yang disediakan beberapa BUMN melalui moda non uda - ra, hal tersebut tetap ti dak mam pu menyembunyikan ang - ka penurunan jumlah pe mu dik yang secara agregat me ro sot 2,42% dibandingkan Le baran 2018.

Dampak lain atas mahalnya la yanan penerbangan mulai me - nyasar ke lesunya kinerja sek tor pariwisata dan beberapa in - dustri-industri pe nun jang nya. BPS menuturkan salah sa tu dam paknya menyasar ke ting - kat penghunian kamar (oku - pan si) hotel berbintang se lama April 2019 turun 3,53 poin dari 57,43% menjadi 53,90% (yoy). Jumlah wisatawan man ca ne - gara (wisman) turun 0,11% di - bandingkan periode yang sama pada tahun sebe lum nya. Mengingat pariwisata mulai bergerak menjadi kebutuhan se kunder, sebagian traveler lo - kal justru beralih berlibur ke lu - ar negeri karena biaya yang lebih terjangkau.

Asosiasi Perusa haan Penjual Tiket Penerbangan (Astindo) memperkirakan se ti - daknya ada kenaikan 5-10% pen jualan tiket penerbangan in ternasional pada saat low season. Sungguh sangat disa yang - kan apabila potensi ekonomi pa riwisata yang semestinya di - nikmati pelaku usaha lokal, jus - tru “terpaksa” keluar dari sa - rang nya akibat daya dukung yang lemah. Beberapa pihak (termasuk pe merintah) mulai kompak mem berikan pernyataan bah - wa faktor penyebab kenaikan tiket pesawat adalah struktur (jumlah perusahaan maskapai) yang terlalu sedikit. Memang per lu diakui, saat ini tinggal Garuda Indonesia dan Lion Air (beserta seluruh sayap-sayap bis - nis nya) yang paling banyak meng hiasi (menguasai) pen ju - ru langit di Indonesia.

Dugaan duopoli pasar men - jadi sulit di hindarkan hingga me maksa Ko misi Pengawas Per saingan Usa ha (KPPU) tu - run tangan un tuk mencari be - nang merahnya. Bahkan, Men - ko Perekonomian menyuara - kan hal yang sama ihwal ma hal - nya tiket pesawat. Apalagi, mo - mentum kenaikan se cara gilagilaan tersebut nya ris berte pat - an dengan di mu lai nya proses take over Sriwijaya Group oleh Garuda Indonesia me lalui PT Citilink Indonesia. Se buah “ke - betulan” yang mung kin masuk akal, tetapi ten tu tetap mem bu - tuhkan pem buktian ilmiah agar tidak membuat salah pena - ngan an.

Ekonomi Bersaing

Dalam konteks akademik, per saingan bisnis menjadi se - bu ah cara yang relatif keras dan mainstream untuk memaksa agar pelaku usaha mampu me - ngeluarkan jurus-jurus ter baik - nya, terutama untuk me mini - mal kan biaya. Konsep tersebut sa rat akan nilai-nilai positif se - la ma praktik persaingannya d a - pat berjalan dengan sehat, mi - salnya para pelaku usaha akan berlomba-lomba memberikan tingkat harga dan kualitas pro - duk/ jasa yang bersaing sebagai bu ah dari efisiensi dan inovasi yang mereka kembangkan. KPPU perlu mengawasi dengan seksama apakah benar efisiensi dan inovasi yang menjadikan produknya lebih bersaing, bu - kan karena intervensi atau per - lin dungan (captive).

Kita perlu berpikiran ter bu - ka bahwa faktor kenaikan harga tiket pesawat belum tentu se - mata-mata berasal dari “ke na - kal an” maskapai. Beberapa peng amat berusaha menengahi bahwa pembentukan harga ti - ket, juga memasukkan kom po - nen-komponen di luar ope ra - sio nal penerbangan, contohnya kenaikan biaya bandar udara (bandara) untuk pendaratan, par kir pesawat, serta layanan pe nerbangan seperti navigasi dan komunikasi. Jika merujuk pada laporan keuangan PT Garuda Indonesia 2018, biaya-biaya tersebut me - ning kat 5,76% dibandingkan ta hun sebelumnya. Selain itu, ada juga passenger service charge (PSC) di beberapa bandara yang ikut meningkatkan harga tiket.

Tekanan berat lainnya juga ber - da tangan dari harga avtur dan biaya perawatan pesawat yang dipojokkan dengan nilai tukar ru piah yang terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian komponen perawatan pesawat masih menggunakan ha sil impor, sehingga perubah - an kurs akan turut meme nga - ruhi besaran biaya perawatan. Belum lagi dengan kewajiban yang harus dibebankan pada maskapai untuk meningkatkan kualitas layanan dan kese la - mat an melalui pelatihan SDM se cara berkala. Jadi, ada indi ka - si bahwa banyak maskapai yang terbebani overhead cost yang lumayan tinggi. Jika argumen-argumen ter - se but benar, pemerintah wajib ikut turun tangan menga tasi - nya. Strategi pemerintah tidak cu kup hanya dengan meng un - dang maskapai asing untuk ber - tarung di Indonesia.

Kewajiban ne gara dalam konteks per saing - an adalah melindungi rakyat - nya dari mekanisme pasar yang ti dak sehat, termasuk bagi rak - yat yang bertindak sebagai pe la - ku usaha. Setidaknya peme rin tah bisa belajar dari penga la man be - berapa negara dalam mengatasi persoalan inflasi pa da beberapa komoditi strategis di nega ra - nya. Ada yang me na war kan sub sidi, ada juga yang berusaha me lalui pengendalian batas har ga. Prinsip yang perlu dijaga pemerintah adalah agar me ka - nisme pasar yang berjalan tidak lantas meninggalkan tiga kai - dah utamanya, yakni ke ter se - diaan, keandalan, dan keter - jangkauan.

Dalam pandangan penulis, mungkin untuk saat ini pe me - rintah lebih baik memberikan subsidi kepada maskapai lokal dan beberapa pelaku yang ter - kait agar mereka tetap sehat dan se makin efisien. Apalagi jika me mang kenaikan harga ini ju ga dilatarbelakangi faktor-fak tor eksternal perusahaan, misal bi - aya overhead yang cukup ting gi. Kebijakan subsidi saat ini memang tidak populer, apalagi BUMN dituntut untuk lebih efi - sien, profesional, tetapi dalam per s aingan yang ketat dan ra - sional, BUMN kita yang sedang dalam proses berlatih (menuju se hat dan kuat), akan menjadi korban persaingan. Perlu betulbe tul disiapkan agar BUMN ke - banggaan kita dijaga untuk te - tap eksis dan didorong ber ki - nerja l ebih baik lagi.

Hal yang pen ting, berdasarkan penga la - man selama ini, kebijakan sub - si di ini jangan lagi disa lah gu na - kan. Setidaknya ada batas wak - tu yang perlu ditentukan sam - pai kapan subsidi ini diberikan, sekaligus pengawasan yang ke - tat pada manajemen dan proses bisnis yang baik (governance ) un tuk menghindari penya lah - gunaan pemberian subsidi ter - sebut. Ide maskapai asing memang cukup baik, tetapi kurang ideal di lakukan jika pemerintah ti - dak mengimbanginya dengan pe nguatan daya saing per usa - ha an-perusahaan lokal. Tanpa be kal daya saing yang cukup, per saingan bebas hanya akan men jadi langkah bunuh diri ba - gi perusahaan lokal. Wallahu - ’alam.

CANDRA FAJRI ANANDA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya