Edisi 17-06-2019
Merampungkan Tol Lingkar Luar Barat Bogor


BOGOR –Pembangunan ruas jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR) selesai se cara bertahap. Seksi IIIA Simpang Yasmin-Simpang Semplak sepanjang 2,85 kilometer diperkirakan rampung akhir tahun ini.

PT Marga Sarana Jabar meminta PT Pembangunan Perumahan (PP) selaku pelaksana pro yek menyelesaikan proyek tol tepat waktu. Progres pem - bangunan yang dimulai sejak November 2018 kini telah di atas 20%. “Untuk detail progres pembangunan bisa tanya lang - sung PT PP,” kata Direktur Uta - ma PT Marga Sarana Jabar Hen - dro Atmojo kemarin. Pembangunan tol layang ruas Simpang Yasmin-Simpang Semplak diperkirakan menelan investasi sebesar Rp3 triliun. “Rp1,5 triliun untuk konstruksi dan Rp1,5 triliun pembebasan lahan,” ucapnya.

Sebelumnya, PT Marga Sarana Jabar sukses menyelesaikan dan mengope - ra sikan tol BORR Seksi IIB Ke - dung badak-Simpang Yasmin. Manajer Proyek PT PP Yoan Sukma Ariezonna menuturkan, pengerjaan konstruksi tol BORR Seksi IIIA pada pekan ke-21 mengalamipeningkatandari tar - get sekitar 21%. “Sesuai ka len der kerja seharusnya penger jaan di 21,585% secara realisasi su dah berada di 22,154% se hing ga mengalami deviasi 0,568%,” ungkapnya. Untuk pengerjaan proyek selama Ramadan, pihaknya tak melakukan pembatasan waktu. Saat musim mudik, pengerjaan terhenti sementara selama 10 hari. Adapun tiang pancang sudah terpasang sekitar 2,8 kilometer.

“Saat ini kami tengah mengerjakan beton vertikal (pear head) selama tiga bulan dilanjutkan pemasangan beton bentang (box girder). Sesuai kon - trak pengerjaan selesai De sem - ber 2019,” ujar Yoan. Tol BORR Seksi IIIA akan disiapkan dua kali tiga lajur. Berbeda dengan ruas Sentul Barat-Simpang Yasmin hanya dua kali dua lajur. Berdasarkan kajian traffic terbesar akan da - tang dari Yasmin dan sekitarnya menuju Jakarta sehingga di - perintahkan mempersiapkan tiga lajur dan konstruksinya le - bih le bar beda lima meter dari yang dulu 20,5 meter. Dari rencana pekerjaan tol BORR Seksi IIIA terbagi empat zona pekerjaan dengan pe lak sa - naan 12 bulan sejak Desem ber 2018. “Ada 50 kolom dengan 2.184 box girder. Zona 1 di Ke - dung Jaya dengan jarak 750 me - ter ke zona 2 dan seterusnya, ke - mudian di Simpang Semplak di - buat jadi empat lajur,” kata Yoan.

Ke depan, pengerjaan mem - fo kuskan pada beton vertikal di P115 hingga 131. Untuk pe - nger jaan ini, terjadi penyempitan ruas jalan di sepanjang Yas - min menuju Simpang Semplak. “Karena terjadi penyempitan arus, kami telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan maupun kepolisian untuk me - minimalisasi dampak kemacetan yang terjadi,” ucapnya. Sekretaris Daerah Kota Bo - gor Ade Sarip Hidayat ber ha rap percepatan pembangunan in - fra struktur tol BORR segera terlaksana sesuai waktu yang di tentukan. “Percepatan pem - bangunan jalan di Kota Bogor sudah sangat mendesak. Jadi ka mi mendukung penuh tol BORR dilanjutkan,” ujarnya.

Sekadar diketahui, PT Mar - ga Sarana Jabar men da pat kan hak konsesi dari PT Jasa Marga sepanjang 11 kilometer untuk proyek tol BORR. Tol ini dibagi lima seksi, yaitu Seksi I Sentul Selatan-Kedung Halang se pan - jang 3,85 km yang telah ber ope - rasi sejak November 2009. Kemudian Seksi IIA Kedung Halang-Kedung Badak se pan - jang 1,95 km telah beroperasi sejak Mei 2014. Selanjutnya Seksi IIB Kedung Badak-Sim - pang Yasmin sepanjang 2,65 km. Tahap berikutnya Seksi IIIA Sim - pang Yasmin-Simpang Sem plak sepanjang 2,85 km. Ter akhir Seksi IIIB Semplak-Junction Salabenda sepanjang 1,50 km.

Pengamat transportasi Uni - versitas Pakuan Bogor Budi Arief menilai pembangunan in - frastruktur jalan semasif apa pun tidak dapat mengimbangi jumlah kendaraan yang se ma - kin banyak. “Solusinya, peme - rin tah pusat maupun daerah perlu menerbitkan kebijakan terkait penggunaan kendaraan pribadi di masyarakat ke mu dian menyediakan transportasi pu - blik yang mumpuni,” ujar nya. Kebijakan memang mudah saja dikeluarkan jika trans por - tasi umum yang disediakan pe - merintah terbilang sukses, na - mun Kota Bogor masih jauh dari penerapan transportasi publik yang layak. “Justru yang muncul angkutan daring. Jadi, pemerintahjugaharusmembatasijum lah angkutan daring ini,” ucap nya.

Menurut Budi, bukan in fra - struktur sebagai solusi, justru efektivitas penyediaan trans por - tasi umumlah kunci dari lalu li n - tas perkotaan yang bisa terhin - dar dari kemacetan. “Artinya, kondisi tersebut merupakan kom pensasi jika pemerintah mem batasipenjualankendaraan bermotor ataupun menyetop ma syarakat menggunakan ken - daraan pribadi,” ungkapnya. Diamenuturkan, adayangtak bisa dikesampingkan untuk me - na ngani transportasi di Bo gor yakni membenahi tata ruang Ko - ta maupun Kabupaten Bogor. “Se hingga nanti bisa dikonsepi an tara pusat perbelanjaan maupun permukiman yang saling ter - integrasi. Ini membuat masyarakatcukupberjalankaki un tukber - aktivitas sehari-hari,” kata nya.

Sepengetahuan dia, jumlah pro duksi kendaraan dengan pembangunan jalan terlampau jomplang. Angkanya pun tak men capai 1%. “Public transport harus diperkuat. Kami mendorong kendaraan pribadi lebih se - dikit dan orang tertarik naik ang kutan umum. Sistem itu ha - rus segera dilakukan untuk jang ka panjang,” ujar Budi.

Haryudi