Edisi 17-06-2019
Guatemala Gelar Pemilu Presiden, 19 Capres Berebut Suara


GUATEMALA CIT Y - Warga Guatemala kemarin mengikuti pemilu presiden di tengah berbagai tantangan kekerasan geng narkoba dan imigrasi ilegal ke Amerika Serikat (AS).

Sebanyak 19 calon presiden (capres) bertarung dalam pemilu itu. Pemilu presiden diperkirakan digelar dua putaran jika pada putaran pertama tak ada pemenang yang meraih lebih dari 50% suara. Pemilu presiden putaran kedua akan digelar pada 11 Agustus. Mantan Ibu Negara Sandra Torres yang memimpin Partai UNE sayap kiri-tengah unggul dalam survei untuk menggantikan Presiden Jimmy Morales. Saat ini Morales mendapat sorotan publik terkait berbagai tuduhan korupsi oleh para investigator yang didukung Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB). Torres mendapat dukungan sekitar 20% suara berdasarkan sejumlah survei. Torres berjanji mengirim tentara ke jalanan untuk memerangi geng narkoba.

Dia juga berjanji mengatasi kemiskinan dengan berbagai program kesejahteraan. Lawan utamanya adalah tokoh konservatif Alejandro Giammattei yang maju untuk keempat kalinya. Adapun Edmond Mulet merupakan mantan pejabat PBB yang turut memeriahkan ajang demokrasi itu dengan maju sebagai calon presiden. ”Saya ingin melihat pendidikan membaik, lebih banyak lapangan kerja, dan keamanan lebih baik, karena kami hidup dalam negara yang sangat tidak aman. Para politisi dan anggota parlemen harus berhenti mencuri,” tutur John Estrada, 24, seniman tato di Guatemala City dilansir kantor berita Reuters. Kekerasan dan meluasnya kekecewaan publik terhadap korupsi membuat semakin banyak warga Guatemala lari ke AS. Banyaknya imigran dari Guatemala itu merusak upaya Presiden AS Donald Trump untuk mencegah imigrasi ilegal.

Presiden AS juga mengancam memangkas bantuan untuk negara-negara di Amerika Tengah. Ancaman Trump itu menjadi kekhawatiran Guatemala yang masih kesulitan dalam membangun negara setelah perang sipil 1960- 1996. Untuk menghindari pemilu putaran kedua, seorang capres harus meraih lebih dari 50% suara. Hasil ini oleh para pengamat dianggap sulit tercapai. Hasil pemilu juga di - tentukan oleh kemampuan para calon untuk membangun koalisi pada putaran kedua. Sesuai riset Eurasia Group , Torres akan kesulitan menang pada pemilu putaran kedua karena lawannya bisa lebih mudah meraih dukungan konservatif dan elite berkuasa.

Morales yang dilarang mencalonkan lagi itu berjanji memberantas korupsi setelah pendahulunya terguling oleh penyelidikan Komisi Internasional melawan Kekebalan Hukum di Guatemala (CICIG) yang didukung PBB. Padahal Morales juga menjadi target penyelidikan CICIG atas tuduhan penyalahgunaan dana kampanye dan target pemakzulan pada 2017. Morales selamat dari upaya penggulingannya dan berselisih dengan CICIG hingga mandatnya berakhir efektif pada September.

Syarifudin