Edisi 17-06-2019
Smelter Rp14,5 Triliun Dibangun di Kolaka


JAKARTA –PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) melakukan groundbreaking atau pemancangan tiang pertama pembangunan pabrik peleburan (smelter) feronikel senilai Rp14,5 triliun di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (15/6).

Smelter ini nanti dapat mengolah nikel dengan kapasitas input bijih (ore) 5 juta ton dan output dalam bentuk feronikel sebanyak 230.000 ton dengan kadar nikel 22-24% per tahun. Smelter ini mengadopsi teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) yang terdiri dari 4 tanur listrik jenis rectangular . ”Teknologi ini adalah yang pertama di Indonesia di mana masing-masing berkapasitas 72 MVA dengan total investasi sebesar Rp14,5 triliun,” ujar Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata dalam rilisnya di Jakarta, kemarin. Dalam pelaksanaan proyek ini, kata Derian, PT CNI menggandeng PT PP (Persero) untuk pembangunan gedung pabrik peleburan feronikel serta infrastruktur pendukung.

Selain itu, juga menggandeng ENFI, salah satu BUMN asal China untuk rancangan rekayasa serta pemasangan peralatan utama pabrik peleburan feronikel. ”Ini merupakan kerja sama pembangunan proyek smelter yang pertama di Indonesia antara perusahaan nasional, BUMN Indonesia dan BUMN China. Sedangkan kebutuhan listrik sebesar 350 MW untuk menunjang smelter yang akan dipasok PT PLN,” kata Derian. PT CNI juga mengembangkan mobil listrik dengan menye lesaikan studi kelayakan untuk membangun proyek hidrometalurgi dengan investasi USD973 juta atau setara Rp13 triliun. Pabrik ini nanti akan menghasilkan kobalt, komponen utama baterai mobil listrik. Menurut Derian, PT CNI mengoperasikan tambang nikel berdasarkan izin usaha pertambangan operasi produksi (IUP OP) yang diterbitkan pada 2012.

PT CNI mempekerjakan sekitar 1.400 karyawan yang mayoritas direkrut dari Kabupaten Kolaka. Direktur Operasi 3 PT PP Abdul Haris Tatang mengatakan, smelter yang memiliki total kapasitas 4x72 MVA ini ditargetkan beroperasi pada 2021. Nanti smelter ini diperkirakan akan memproduksi sekitar 229.000 ton feronikel (FeNi) setiap tahunnya dengan kadar nikel 22-24%. Dalam pembangunan proyek smelter ini, PT PP berperan sebagai kontraktor yang akan bertanggung jawab dalam penyelesaian proyek. PT PP akan bekerja sama dengan partner konsorsium ENFI (BUMN China) karena perseroan opti mistis dapat menyelesaikan proyek tersebut selama 24 bulan.

”Dengan keberhasilan perseroan sebagai kontraktor EPC yang telah memiliki berbagai pengalaman dalam mengerjakan proyek-proyek pembangkit serta minyak dan gas, maka saat ini PT PP mulai terjun ke area industri proses pengolahan mineral,” kata Haris di Jakarta, kemarin. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, pembangunan smelter ini merupakan implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Pemancangan tiang pertama smelter ini juga menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendorong pelaku usaha pertambangan dalam mendukung upaya percepatan hilirisasi di sektor pertambangan.
”Inilah yang kita inginkan (pembangunan smelter) agar bisa menghasilkan efek nilai tambah yang lebih besar dari sekadar menjual raw material,” tutur Arcandra. Menurut Arcandra, sumber daya alam memegang peran pen - ting dalam mendorong pembangunan nasional. Meski begitu, prinsip pemanfaatannya tetap berpedoman pada Pasal 33 UUD 1945, yakni dikuasai oleh negara dan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Interpretasi dari dikuasai oleh negara, lanjut Arcandra bahwa kekayaan alam dikelola oleh putra-puteri terbaik Indonesia, menggunakan teknologi yang dikembangkan bangsa Indonesia, pendanaan bersumber dari kemampuan dalam negeri, dan hasil pengelolaan dioptimalkan untuk kebutuhan di dalam negeri.

“Sesuai dengan amanat undang- undang, kita ingin agar nikel ini dapat kita olah (di dalam negeri) dan memperpanjang rantai pengolahannya sehingga bisa menghasilkan nilai tambah,” kata Arcandra. Gubernur Sultra Ali Mazi memberikan apresiasi dengan pemancangan tiang pertama pembangunan smelter ini. Dengan adanya pembangunan smelter ini, kata Ali Mazi, dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, khususnya bagi warga yang berada di wilayah sekitar daerah pertambangan. ”Ini positif bagi perkembangan perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

heru febrianto