Edisi 11-07-2019
Kekerasan di Papua Nugini, 16 Orang Tewas


PORT MORESBY – Dengan rendahnya jumlah petugas kepolisian dan menyebarnya senjata api hingga ke pelosok, kekerasan antarsuku di Papua Nugini semakin sulit dibendung.

Sedikitnya 16 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan hamil, tewas dibunuh di perkampungan Karida, Provinsi Hela, Senin (8/7). Sejauh ini jumlah akhir tidak dapat diverifikasi secara independen.

Polisi Papua Nugini juga masih melakukan penyelidikan dan tidak dapat memberikan konfirmasi terkait ada laporan 18-24 korban, terma - suk motif pembunuhan. Namun, sedikitnya dua korban tewas adalah perempuan yang sedang hamil.

Kepala Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Papua Nugini Ahmad Hallak me nga takan, senjata api menyebar luas dan menyebabkan tingkat kekerasan antarsuku kian ting gi. Papua Nugini rentan terha dap kekerasan karena mengalami beragam konflik domes tik sejak beberapa tahun silam.

“Sudah menjadi rahasia umum senjata modern selalu menjadi minyak di dalam api,” ujar Ahmad, dikutip ABC. “Kekerasan antarsuku merupakan fenomena sejarah. Dulu, peperangan hanya menggunakan busur, panah, dan tombak sehingga area terbatas.

Sejak masuknya senjata modern, kasusnya menjadi rumit,”ungkap nya. Gubernur Hela, Philip Undialu juga menyayangkan si - tuasi ini. Kekerasan antarsuku di Papua Nugini sulit berujung damai karena keluarga korban selalu melakukan aksi balas dendam dengan menyerang keluarga tersangka secara sadis.

Sayangnya, anak-anak dan perempuan juga sering menjadi korban. Ribuan warga terdampak ketakutan dan meninggalkan perkampungan demi menghindari kekerasan antarsuku yang terus bergejolak.

Menurut Hallak, anak-anak dan perempuan kini menjadi target utama karena mereka dianggap memberikan dampak psikologis yang besar, sekalipun mereka tidak bersalah apa pun.

“Anak-anak dan perempuan menjadi korban paling menderita dari kekerasan ini,” ujar Hallak. Dia menambahkan, sebagian masyarakat tidak ingin kekerasan terus berulang dan mendesak pemerintah lokal untuk menyelesaikannya melalui penanggulangan pengangguran, pelecehan, dan kekerasan akibat politik.

Sistem keamanan di Papua Nugini juga sulit ditegakkan sebab Papua Nugini kekurangan petugas kepolisian, yakni sekitar 60 orang per 400.000 warga. Perdana Menteri (PM) Papua Nugini James Marape mengatakan, pelaku pembunuhan akan diburu hingga tertangkap dan dijatuhi hukuman berat.

Kepala Asosiasi Hela Gimbu, Damien Arabagli mengatakan, pemerintah perlu memperkuat petugas kepolisian. Selain itu, dia mengkritisi pernyataan Marape. Menurutnya, polisi lokal mengetahui baik identitas tersangka dan tidak akan berani menyentuh perkampungannya, apalagi memburunya ke rumahnya.

“Tersangka merupakan orang ternama dan panglima perang. Dia akan terbebas karena kekuatan polisi daerah jauh lebih kecil. Mereka tidak akan sanggup,” ujar Arabagli. “Polisi daerah mengetahui tersangka, tapi mereka takut untuk memburunya. Mereka harus masuk ke dalam hutan, tanpa mobil dan tanpa ponsel,”katanya.

muh shamil